Surat ini kutulis bersama hatiku
yang dalam diam
mencintaimu.
Kepadamu, Langit,
yang tidak pernah mengetahui perasaanku, kutuliskan surat ini. Dan entah mengapa, aku hanya ingin menulisnya untuk mengungkapkan segala perasaan yang sudah terlalu besar untukmu. Aku ingin merasa sedikit lega, meski kutahu surat ini hanya akan berakhir di sudut lemariku saja.
Ya, mana mungkin aku yang 8 tahun sebagai pengecut; mencintaimu dalam diam, tiba-tiba datang dan memberimu pernyataan cinta melalui surat? Hah! Tidak mungkin!
Malah kalau benar itu terjadi, kupastikan aku sudah lebih dulu pingsan sebelum sampai menyerahkan surat ini padamu!
Begini, Langit..
Atas beberapa tahun pertemanan kita, aku bersyukur.. Sebab masih bisa kujaga perasaanku ini, tak tersentuh orang lain, dan kusisakan hanya untuk dirimu saja.
Aku menyukai senyumanmu. Senyum manis di antara pipimu yang chubby. Aku juga menyukai rambut ikalmu yang panjang, matamu yang tajam, dan bagiku tidak ada yang kurang dari penampilanmu. Terbukti dari sekian banyak perempuan yang sudah menyatakan cinta padamu, tapi entah mengapa tetap tak ada yang kaujadikan kekasihmu. Sampai hari ini, aku masih heran dengan kamu.. Sebab semakin lama kamu tidak memiliki kekasih, diam-diam, semakin sering pula aku berdoa untuk kesempatanku yang mungkin diaminkan Tuhan.
Terlepas dari penampilanmu yang menarik, aku sangat menyukai sikapmu, Langit.. Sikap yang begitu hangat, dan tak pernah kutemukan orang lain yang sehangat dirimu. Kuingat katamu, kamu lahir di Senin siang. Mungkin, siang hari kala itu menitipkan semburat cahayanya, sampai kamu menjadi orang sehangat sekarang. Dengan budi baik dan semangat menolong pula.
Aku ingat, pagi itu ketika kita masih di bangku SMA, ban motorku bocor di dekat gang sekolah. Dengan baik hati, kamu yang kebetulan melewati aku, berhenti dan membantuku membawa motor ke bengkel terdekat. Mungkin kamu tidak menyadarinya, tapi sesederhana itulah, cintaku tumbuh dan terus bertambah sejak saat itu untukmu.
Langit,
aku harap kamu tetap berada di dekatku, meski sebagai teman terbaikku. Tidak apa, Langit. Aku tidak akan pernah berani meminta apa-apa darimu, kecuali menjadi teman di dekatku.
Kututup surat pertamaku ini untukmu, Langit,
dengan perasaan yang kacau,
jantung yang berdetak begitu kencang,
dan napas yang sungguh berat.
Sebab aku mencintaimu,
dan ini surat pertama pernyataanku!
Senja.