Saturday, January 16, 2016

Entah.

sejak mengenalmu, pagi-siang-senja-malam tidak lagi istimewa. indahnya berkurang, seperti menjadi abu-abu. bukan lagi merah terang, gelap tidak berbayang, atau lebam biru. tidak ada yang menyakitkan atau menyenangkan untuk jadi puisi. kamu mengubah semuanya menjadi ilusi.

satu baris dalam bait seperti lumpuh di atas huruf-hurufnya sendiri. seperti menggunakan seluruh waktu untuk berpelukan menjadi kata; kamu mempersulit sebuah puisi untuk menjadi nyata.

aku tidak butuh kertas dan pena, ide dan cerita. semua tidak ada gunanya. 

aku hanya baik menyimpanmu dalam kepala. kamu tidak pernah pantas untuk sekadar jadi puisi, yang sekian mata membacanya dan menikmati; menangisi rindunya, memuja doadoanya. 

sementara dalam kata-kata, seringkali aku menyembunyikan semua yang tidak punya nyali di dalam diri ini. seperti merindukanmu, dan betapa sakit cinta membuatku mengingatmu. tetapi sayang sekali, kamu memang tidak pernah pandai menjadi puisi. kamu bukanlah kata-kata yang bisa aku tulisi. 
kamu melebihi semua itu..

maka puisi puisi yang tertunda menjadi semakin malam; menyimpan larut di kantung mata yang amat berat. kemudian ia basah, mengemis menjadi sebaris kata pahit yang manis, tetapi tidak pernah bisa. ia menangis..

di dalam ini semua, aku sedang mengaku pada kamu—yang membaca..
ada hati yang meneriakkan rindunya dalam bisu,
ada jari yang berharap menumpahkan semua dalam puisi—begitu indah, menyayat, dan membuat pembacanya ikut menangis merindu,
dan ada aku, si pengecut yang tidak memiliki kata-kata sempurna, mencintai tanpa berani menjadikanmu puisi cinta.