Friday, January 30, 2015

Dalam Perjalanan Menemuimu

Lieber Ai,

Di awal surat ini, aku mendoakan agar kabarmu baik-baik saja, dan senyumanmu tetap tenang melekat di bibirmu. Teruslah tersenyum, sebab aku menyukainya; aku menyukai kebahagiaanmu. 

Kau tahu, pagi ini aku bangun dengan berdebar. Jantungku rasanya seperti berlari kencang, dan aku tidak dapat menghindarinya. Semalam, aku tidur dengan masih memikirkanmu. Hingga akhirnya kau singgah di dalam mimpiku. Dan di dalam mimpiku itu, kita tidak bicara banyak. Aku hanya mengingat kita saling tersenyum setelah kau membaca suratku. Entahlah, mungkin mimpi itu adalah pertanda bahwa hari ini aku harus menulis surat pertama untukmu. 

Dan ya, aku bangun tidur dengan keadaan berdebar, sebab aku tahu bahwa hari ini kita akan bertemu. Sore nanti. Aku tidak sabar. Sungguh aku tidak sabar. Rasanya senyumanmu semalam di dalam mimpiku telah begitu dekat untuk benar-benar kulihat. Dan lucunya, pagi ini aku sudah membayangkan sepasang hangat lenganmu di balik selimutku. Haha, mungkin aku setidak sabar itu, ya.. 

Dalam perjalanan menemuimu, aku sudah bisa menebak, aku akan memikirkanmu lebih dalam dari biasanya. Dan tak lupa menjatuh cintaimu lebih jauh dari biasanya. Aku tak sabar menagih pelukan yang kau janjikan. Ah, aku tak sabar untuk sampai kepadamu, Ai! 

Dengan surat ini, kuharap kita akan memiliki waktu-waktu berharga untuk dihabiskan kelak. Dan semoga, besok dan seterusnya aku bisa terus menuliskan tentangmu dengan cerita lebih banyak tentang kita. 

Surat ini kutulis pagi-pagi ketika aku tengah dalam perjalanan menemuimu.
Dan,
Aku sedang merindukanmu.

Sampai ketemu nanti sore, Ai!