Ia berjalan sangat pelan. Ditelusurinya malam dengan sangat hati-hati. Biasanya, ia rajin menghitung bintang ketika sedang berjalan di malam hari. Tapi kali ini ia lebih memilih menundukkan kepalanya dan menghitung tapak hati-hati yang ia pijaki, sambil dalam kepala mengulang kejadian-kejadian yang mengoyak hatinya. Ia bahkan tidak tahu harus memulai dari mana untuk mengurutkan kejadian-kejadian itu. Tentang hatinya yang lelah kesepian, tentang rindunya yang tak terbalas, atau tentang berbagai tentang yang sebenarnya tak mau ia kenang. Tapi kembali kepada kenyataan, malam ini ia tidak bisa memilih dan memilah luka mana yang harus lebih dulu ia rasakan. Semuanya datang begitu saja tanpa mengetuk. Bahkan jumlah bintang yang biasanya menggoda untuk ia hitung untuk mengusir murung, seakan tak lagi membantunya mengurangi beban dada kiri.
Ia lelah.
Perjalanan pulang terasa begitu panjang, sedangkan hatinya tak juga selesai-selesai mengulang kekecewaan. Rasanya seperti ingin menangis. Tapi ketika ia bertanya kepada dirinya sendiri untuk apa tangisan itu, lagi-lagi ia kebingungan memilih alasan mana yang pantas untuk dijadikan air mata. Mungkin ia hanya terlalu lelah. Ya, ia sadar ia lelah. Ia lelah merasa patah. Ia butuh pelukan untuk singgah.
Lengang jalanan hanya membuat hatinya mengeluh sejadi-jadinya. Ia bosan tanpa suara. Seperti sebuah puisi kesukaannya, ia ingin hingar! Tapi berjalan ke pasar rasanya hanya akan membuat ia merasa semakin tersasar. Lagipula, mana ada pasar malam di dekat ia berada--Ia baru sadar. Kemudian ia kembali mengeluh dengan desahan napas yang panjang. Terasa sungguh berat menarik dan mengembuskan napas; tapi ia tahu itu satu-satunya jalan untuknya tetap hidup
Dalam hitungannya, langkah yang ia pijaki sudah mencapai kesekian ratus, dan ia mulai kehilangan angka yang pasti. Hingga tanpa terasa, ia sampai di sebuah persimpangan. Tempat yang tidak kalah sepinya dari jalanan-jalanan panjang yang sudah ia lewati. Kemudian ia mengangkat kepalanya dan menyipitkan mata. Sepasang matanya menangkap sesosok pria sedang berdiri di bawah lampu jalanan. Lampu yang tidak begitu terang, tetapi cukup untuk menerangi wajah orang itu.
Ia kemudian berlari.
Dilupakannya segala resah dan lelah. Kakinya seakan kembali memiliki kekuatan untuk bergerak lebih cepat.
"Kamu kenapa berlari? Dan kenapa mukamu murung begitu?" ujar pria itu.
"Aku lelah." napasnya tersengal.
"Kenapa? Ceritakan saja padaku.."
Lalu ia bertatapan lama dengan pria yang ada di hadapannya. Tanpa sepatah katapun, ia menceritakan segala koyak hatinya. Mungkin kali ini ia sedang tak butuh banyak kata, hingga ia menyerahkan sepasang matanya untuk bisa lebih banyak bicara dari kata-kata. Pria itu kemudian mengangguk seakan mengerti.
"Aku hanya butuh senyumanmu, Ai. Tersenyumlah, dan segala masalahku selesai." ucapnya perlahan.