Wednesday, January 28, 2015

Hilang.

Kau tahu, Pia, aku selalu senang jika kau memintaku mengunjungi rumahmu. Lalu biasanya kita akan bercanda sepanjang malam, dengan cemilan yang seadanya. Atau seringkali aku membawakanmu makanan malam. Tak jarang pula ayah dan bundamu turut serta dalam perbincangan kita. Aku selalu senang cara bermesraan kita yang seperti itu. Sebab kita memang sepasang yang lebih bahagia menghabiskan waktu dengan tidak berpergian ke luar. 

Tahun demi tahun berganti, dan kita masih saling setia mengisi satu sama lain. Pernah sesekali ibumu menanyakan keseriusanku kepadamu, dengan obrolan yang membahas pernikahan. Tapi lagi-lagi aku hanya akan memintanya menunggu. Ya, Pia, aku belum berani untuk melamarmu sebab aku harus mengumpulkan modal untuk itu. Aku ingin mempersiapkan diri menjadi calon suami yang baik untukmu. Sabar sebentar ya, Pia?

Tetapi Pia, tak kusangka kau tega begitu tak sabar menungguku. Apa aku terlalu lama, Pia? 

Hari ini di rumahmu, aku duduk bersila dengan perasaan yang tak seperti biasanya, Pia. Aku tak bisa berbahagia. Meski masih kulihat senyumanmu yang sama, tapi aku tetap tak berbahagia, Pia. 

I hardly recognized the girl you are today
and, God, i hope it's not too late..

Wajahmu, tubuhmu, tanganmu, segalanya terbujur beku, tapi kau tersenyum. 
Sementara hatiku masih mencintaimu, dengan berdoa.

cause you are not alone
and i am here with you
and we'll get lost together

-


Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku