Januari ini, musim sedang penuh semangat menggigilkan siapapun dan apapun yang berada di bawah langitnya. Termasuk aku. Ya, ini adalah musim dinginku yang ketiga berada di tempat yang sungguh jauh dari tanah airku sendiri. Sementara tak bisa kupungkiri bahwa aku begitu merindukan matahari di tanah airku, Indonesia.
Terkadang aku iri terhadap teman-temanku yang sudah mulai menyusun rencana liburannya ke tanah air di musim panas yang akan datang. Aku sungguh iri, karena aku tahu aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku belum bisa pulang. Pemasukan dari kerja sambilanku belum cukup untukku membeli tiket pulang. Dan karena aku harus menyelesaikan studiku juga. Terlalu banyak rasanya alasan yang menahanku untuk pulang.
Sering kudengar teman-temanku memamerkan tanggal-tanggal yang sudah pasti untuk kepulangannya. Ah! Itu benar-benar membuatku semakin rindu Indonesia. Aku rindu dengan suasana riuh orang-orang yang satu bahasa denganku. Sebab di sini, seringkali kutemukan diriku pura-pura tuli hanya karena tidak ingin mendengar keramaian. Aku malas menyaring perkataan mereka dengan kamus yang ada di kepalaku. Aku butuh yang berbahasa ibuku!
Ya, bahasa ibuku.
Aku rindu itu.
Tapi bukan ibuku. Atau bahkan ayahku.
Aku tidak punya alasan untuk merindukan mereka.
Aku yatim piatu.
-
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku