Aku menatap langit di atas kepala sedang
berwarna ungu. Kukira, ia habis bertengkar dengan waktu, hingga lebam seluruh
wajahnya. Aku sedang berusaha mengingat seseorang dengan bertanya kepada
langit, apakah warna yang disebut senja ini sampai juga di langitnya yang
terpaut begitu jauh dari tempatku berdiri?
Aku tidak bisa menebak rupanya, bagaimana
kepala seseorang itu berisi. Apakah serumit pikiranku yang dipenuhi tatapan
mata dan senyumannya, atau bahkan memang tidak pernah serumit itu. Aku lagi-lagi
berusaha mencari jawaban dengan bertanya-tanya sendiri sambil menatap langit
jauh-jauh. Meski aku tahu tidak ada gunanya, tetapi perasaan ringan yang
kurasakan setelahnya tidak pernah gagal menghibur gelisah. Sebab langit selalu
mampu menampung apapun yang orang-orang tak bisa menampungnya. Seperti
pertanyaanku. Seperti perasaanku.
Sore sebentar lagi pergi dan aku masih
perlu mengeluarkan banyak pertanyaan. Kakiku rasanya ingin melangkah dan lalu
berlari tak berarah. Mungkin aku hanya butuh udara lebih banyak masuk ke rongga
paru-paru, sebab merindukannya, membuat sesak. Sementara aku tidak rela malam
datang terlalu cepat dan menutup mataku dengan hanya gelap. Sebab kusadari
ketika ia tiada di sini, aku bukan siapa-siapa, dan aku tidak memiliki cahaya
apa-apa. Aku hanyalah setitik yang hilang karena memikirkannya, kata orang,
begitu butanya.
Sebuah pohon berdiri menjulang di
hadapanku. Dahan-dahannya meninggi dan rindang dipenuhi daun yang hijau dan
banyak juga yang kuning—mungkin penanda gantinya musim. Sepenuh harap
kubayangkan daun-daunnya itu ialah rambut seseorang yang melingkar-lingkar, dan
tubuh pohon itu ada tubuh seseorang yang selalu ingin kupeluk. Aku menganggap
langit sedang menghadiahkanku teduhnya untuk mengingat lebih lapang lagi.
Mungkin juga sebenarnya langit sedang mencarikan seseorang itu untukku, tetapi
tidak menemukannya, sebab aku tahu ia sedang bersembunyi di balik kesunyiannya.
Tiba-tiba angin yang sangat kencang
datang dan membuat seluruh pertanyaanku berantakan terserak di jalan raya yang
ramai. Aku bahkan tak sempat memungut kata-katanya yang terurai untuk kembali
ke dalam kepalaku, sebab kemudian aku merasa lelah untuk mencoba. Kemudian aku
menyadari bahwa pertanyaan tidaklah ada arti jika yang ditanya tidak pernah
menjawab. Kemudian kuketahui kalau rasa penasaranku ini sudah tersesat terlalu
jauh. Aku tidak lagi mencari untuk lepas dari sendiri, karena aku telah mencuri
jawaban dengan berkhayal dalam-dalam. Sekali lagi kusadari angin beserta
gunanya yang tiba-tiba; aku tidak perlu bertanya jika bisa kurangkai
jawabannya.
Sebab kata-kata bisa kumiliki seluruhnya
dan seutuhnya, aku bisa menulis apa saja dan menjadikan diriku sendiri tuhan di
dalamnya. Aku bisa membuat seseorang bersedih membawa isi kepalanya yang sangat
berat karena ia tidak bisa berhenti bertanya dan merasa penasaran. Aku bisa
juga membunuhnya karena rindu membuat ia ingin menyerah. Aku akan membuat
seolah-olah ia sedang terjebak senja yang panjang usia, hingga ia mencari
keberadaan waktu di lain hari. Aku tahu aku bisa merangkai kenyataan apa saja.
Maka aku menulis seperti sedang membalas
dendam.
(bersambung)