aku belajar menulis puisi dari kehilangan
dan kehilangan juga mengajariku
untuk mengenalmu lebih jauh
malam itu.
ketika umurku masih terlalu muda untuk mengenal kehilangan
aku duduk di pangkuanmu
"hendak ke mana?" tanyaku kala kulihat kau merapikan bajumu
mengurasnya dari lemayi kayu
"hanya sebentar, aku ada urusan di luar kota." jawabmu
dengan sebuah senyuman dan sepasang mata yang tak mampu kubaca
dan paginya,
kusadari kau tidak akan benar-benar kembali
kemudian aku menulis puisi
demi menghidupi sosokmu di sisiku
tak peduli seberapa sakit mata ini
ikut menulis dengan tinta kesedihan
dan isak penasaran
apa salahku?
bukankah aku gadis kecil yang tak bisa kau tinggalkan?
bukankah kau berjanji untuk kembali?
dan aku menulis puisi
lagi dan lagi
untuk menjawab pertanyaanku sendiri:
bahwa punggungmulah malam itu
satu-satunya memori yang menjawab sepi-sepi
kemudian tiba saatnya
kita bertemu dan menyatakan rindu
ketika aku sudah cukup dewasa
untuk memahamimu
bahwa kepergianmu yang menahun itu
untuk menghadiahkan aku
seorang Ayah,
yang lebih siap kucintai.
dan kumohon kau, untuk jangan pergi lagi.