Thursday, February 6, 2014

Rindu dalam Puisi

Hai, Ma!

Nasha kangen sama Mama. Dari sini, Nasha ingin membahasakan rindu Nasha dengan cara lain. Boleh Nasha balas puisi Mama yang sempat tersimpan di note Nasha? Hitung-hitung sebagai catatan puisi bersama kita, Ma! Hehe.. Baca ya Ma! :]

//

Ketika hujan angin
Aku berpaling sejauh mungkin
Berteriak di gendang-gendang hati tentang ingin..

Cukup lama aku berteduh
Di bawah payung yang kau sebut cinta

Bersabar untuk tidak terjatuh
Terpaan air, angin dan terik yang tiba-tiba

Sampai batas kupilih menjauh
Dan tak kembali lagi.

"Maaf."

Ivo (2004)

//

Sedetik setelah kepergiannya
Ada celah dalam hati yang menganga
Ingin kembali mencegah angin sebelum jera

Belum lama ia berjejak menjauh
Menanggalkan payung tempat teduh

Rasanya ingin ku bunuh saja semua asa
Yang sempat bernama cinta

Sampai akhirnya,
Cinta memang benar percuma.

"Maaf"

Ivanasha (2014)

//

Semoga Mama suka puisi yang Nasha balas 10 tahun setelahnya. Satu-satunya cara bagi Nasha untuk membicarakan cinta bersama Mama ialah melalui puisi. Nasha mengenal puisi dari Mama, dan puisi sekarang menjadi tempat paling nyaman bagi Nasha untuk menyuarakan semua.


Nasha kangen Mama.
Berpuisi lagi yuk, Ma? :]