Sunday, February 2, 2014

Surat Untuk Winter



Dear Musim Dingin,

Hai! Apa kabarmu? Akhirnya bertemu lagi kita di tahun ini. Sudah dua kali total pertemuan kita. Aku merasa amat senang bisa kembali menemuimu dan menikmati keberadaanmu di sini.

Baiklah, mari aku ingatkan kamu tentang pertemuan pertama kita. Waktu itu, Februari 2013, tepat satu tahun yang lalu. Aku memberanikan diri terbang dari negara asalku Indonesia, ke benua lain di Barat, yakni Eropamu, Jermanmu. Sebelumnya sudah aku perkirakan bahwa aku akan menemuimu sesampainya aku di tanah ini. Aku mempersiapkan segala hal demi menyambutmu. Sweater rajutan tebal yang terbilang menggerahkan ketika aku mengenakannya di Indonesia, syal tebal yang juga terajut dari benang wol, dan sebuah Coat melengkapi. Di pertemuan pertama kita, aku belum mengenalmu dengan baik. Aku belum mengetahui akan seberapa dingin kamu menyambutku. Apakah amunisi pakaian yang aku kenakan cukup hangat di bawah langitmu? Aku tidak tau.

Hingga detik aku melangkahkan kedua kakiku keluar dari Airport dan akhirnya sampai di pelukan udaramu, baru aku mengetahuinya. Pertama yang aku rasakan ialah dingin! Sangat dingin! Tergesa-gesa aku mengenakan syalku yang aku simpan dalam ranselku. Ternyata kamu sedingin itu. Hingga beku jemari dan pipiku sembari jalan di bawah suhu langitmu. Meski demikian, aku tidak berhenti mengagumi anak-anak saljumu. Putihnya begitu menawan dan membuat aku tidak mampu berhenti tersenyum. Rasanya melihat jalanan yang kamu penuhi dengan saljumu, membuat aku lagi-lagi memujimu dalam hati. Betapa indah, meski begitu dingin. 

Kesan pertama tentangmu sungguh sangat membekas dalam ingatan kepalaku. Sebab pertemuan denganmu sebenarnya menyadarkanku, bahwa aku telah semakin dekat dengan mimpiku. Yakni melanjutkan studiku di benua Eropa, tempatmu singgah setiap satu tahun sekali. Dan keberadaanmu juga yang membuat aku selalu tau, bahwa aku jauh dari orang-orang di sana. Orang-orang yang selalu mendukung setiap mimpi yang aku punya. Orang-orang yang harus aku tinggalkan sementara demi bisa mengejar mimpi. Orang-orang yang tak menemuimu setahun sekali seperti aku. 

Musim Dingin, 
Di pertemuan kita yang kedua ini, aku ingin membiarkanmu tau. Bahwa di setiap bulan Februari inilah aku jatuh cinta kepadamu. Sebab telah kamu suguhkan aku langit dingin yang tak sesiapapun atau apapun suguhkan kepadaku sebelumnya. Dan di bawah langitmu aku merasa bahagia. Meski sering gigiku bergemetar tak sanggup menahan dinginmu, tetap aku menikmati berada di bawahmu.

Sebab setiap denganmu juga, aku merasa dirangkul oleh mimpiku. 


Salam hangat dariku yang tak mampu menyentuhmu,
IAP.