Tuesday, July 7, 2015

Du, Traummann.

And if i'm gonna be dreaming,
I'll be dreaming of you.

Entah telah dimulai darimana kepalaku yang memimpikanmu itu. Cerita-cerita terangkai begitu jelas, sementara aku hanya bisa mengaminkan semuanya dalam diam. Di langit berlatar malam itu, aku berlari dan berlari, kemudian menemukanmu sedang berada di sebuah perpustakaan. Aku merasakan seperti benar-benar sedang pertama kali bertatap mata denganmu. Lalu aku tanpa sadar menarik tanganmu, meneriakkan namamu dengan begitu senang. Aku mengajakmu keluar perpustakaan itu sejenak. Kemudian di depan pintunya, kita berciuman. Ciuman pelan dan panjang. 

Aku terbangun. Meski di dalam mimpi itu sendiri aku telah lebih dulu terbangun dan menyadari betapa tidak nyata ciuman itu. Betapa tidak mungkin aku menciummu. Aku terlalu sadar akan panjang jarak yang terpaut antara kau dan aku. Tapi sedetik setelah aku membuka mata—meski kusadari tadi hanya sebuah mimpi—aku tetap mengaminkan segala yang bisa menjadi kemungkinan antara kita. 

Mungkin saja mimpi itu sebuah pertanda. Pertanda bahwa kita adalah sebuah  kemungkinan yang akan menjadi nyata. Pertanda bahwa aku telah menjadikanmu bagian dari dalam mimpi yang paling indah. 

Dan tak aku sadari pula, entah sejak kapan aku mula menyukai namamu dalam kepala untuk menjadi alasanku menulis. Menulis apapun itu.

Termasuk menulis mimpiku.