"Kamu mau nama anaknya siapa? Kalau aku mau beri nama anak laki-laki kita Langit. Sudah sejak lama sekali aku memimpikan punya anak laki-laki bernama Langit.
"Atau kunamai anak kita yang laki-laki, sementara kamu menamai anak kita yang perempuan. Aku usul ya, usul aja nih! Mungkin beri anak perempuan kita nama Senja. Bagus kan!
"Eh, kamu saja deh, yang pilih nama anak perempuan kita! Tapi aku mau nama laki-laki kecilku Langit ya..
"Kalau rumah? Bagaimana kalau rumah kita sederhana saja dan yang tidak terlalu jauh dari tempat kerjamu. Aku tidak mau kamu menempuh perjalanan terlalu jauh dari rumah ke tempat kerja.
"Dinding rumahnya boleh warna biru muda, gak?
"Sayang.. Aku kangen..
"Kalau nanti, bulan madunya di mana ya? Aku mau keliling Indonesia sama kamu aja! Mau lihat paling sedikit 3 kota dari setiap pulau di Indonesia. Kalau di pulau Jawa, aku mau ke Jogja ya! Kalau pulau Sulawesi, aku mau ke Makassar dan Palu!
"Sayang.. Aku kangen..
"Kamu sudah letih banget ya? Kuajak bicara, kamu tidak jawab begitu. Kok diam aja.
"Besok aku kembali lagi deh, ke sini. Mungkin kalau besok, kamu sudah lebih segar badannya dan bisa ikut diskusi sama aku perihal kita.
"Aku pulang ya? Daaah Sayang."
Perempuan itu bangkit dari tempat duduknya yang terbuat dari plastik. Kemudian ia meletakkan setangkai bunga mawar putih di atas gundukan tanah merah persis di samping tempat ia baru saja bangkit dari duduknya.
Esok lagi ia datang. Seperti biasa, untuk melanjutkan rencana-rencana bersama kekasihnya.
Perlahan ia beranjak, berlalu dengan tetap menahan isak.