Hai, kamu.
Seseorang yang biasa menjadi pemeran utama dalam tulisanku.
Lama rasanya aku tidak menulis paragraf-paragraf tentangmu. Entah kenapa. Sebelum hari ini, kaku rasanya jariku di hadapan keyboard laptop. Sehingga rindu tidak sempat kusampaikan melalui tulisan seperti biasanya.
Tapi kau tau, sayang..
Untukmu, rindu tidak pernah tertidur. Jadi ketika aku beristirahat membahasakan rindu, bukan berarti aku menidurkan rindu itu. Rindu tetap ada, dan tidak kemana-mana. Kepadamu, ia selalu setia. Lebih setia dari yang kau kira. Hanya saja kemarin mungkin rindu terlalu letih menangisimu. Mungkin memang rindu yang aku miliki ini ialah wujud yang mudah menangis. Karena ia tak bisa apa-apa selain memutar kenangan yang ia kais.
Maaf jika bahasku kembali menyampaikan hal-hal yang terlalu melankolis, sayang. Tetapi aku hanya berusaha kembali menuliskan perasaan yang sempat kemarin aku abaikan; Kerinduan.
Untuk beberapa hari kemarin, ada yang menangisimu setiap malam. Yakni dadaku yang menyesak, dan mataku yang mengisak. Kerinduan belum pernah aku rasakan sedalam itu, sayang. Dan karenanya aku tidak tau harus bagaimana, atau lari kemana. Berusaha kembali kepada tulisan pun aku tidak bisa. Menyuarakan rindu kepadamu (lagi-lagi) memang benar percuma. Memelukmu sedikit saja aku tidak bisa..
Tanpamu, segala yang aku pikirkan hanya ketidakmampuan.
Tapi kali ini, aku mencoba kembali merindukanmu melalui tulisan. Meniupkan nyawa kepada aksara tentang aku, kamu, kita. Tentang cinta di antara kita berdua yang tidak usai-usai. Tentang bagaimana kau menjadi alasan terbesar untuk senyumku (juga tangisku). Tentang kebahagiaan (juga kesedihan) yang kau ajarkan kepadaku.
Aku mencintaimu dengan itu,
Dengan kebahagiaan dan kesedihan.
Aku bukan menyalahkanmu atas tangisku. Aku bukan menempatkanmu sebagai pelaku yang menyakiti hatiku.
Tidak, sayang.
Air mata ini bukan tentang kau yang menyakiti aku. Air mata ini ialah tentang seberapa dalam aku mencintaimu, mengagumimu, dan merindukanmu. Dan dari basahnya, perlu kau ketahui ada pula doa-doa yang mengalir setiap malam tanpa henti. Doa untuk dapat sekali lagi saja menggenggam tanganmu yang telah lama aku lepas itu. Untuk dapat sebentar saja merasakan hangat bahumu lagi..
Ini hanya tentang situasi yang aku benci.
Tapi tenang saja, sayang.
Mataku memang basah.
Dadaku memang gelisah.
Tetapi tentangmu,
Aku tidak akan pernah berpasrah.
Sebab aku menyayangimu melebihi kerinduan itu sendiri.
IAP