Sunday, July 29, 2018

Lebam Rindu




















Saya tahu, rasanya rindu ini tidak pantas.
Tidak untukku, tidak pula untukmu.

Tetapi sore tadi senja seperti tak lepas
melekat berwarna ungu
dengan semburat jingga
di awan yang mengantara.

Perihal langit, di hadapannya,
saya tak ingin berbasa-basi.
Saya hanya mengingatmu.
Tapi sudahlah, kau tak perlu tahu.

Sebentar lagi ingin kulepas hatiku
dan menaruhnya di luar jendela
biar malam ini ia menggigil saja.
Beku, tambah sakit, dan menjadi debu.

Hari ini senja sangat indah di kotaku.
Tetapi ia payah.

Membuat saya sadar betul
kalau kita bukan siapa-siapa.

Tuesday, July 24, 2018

Ganjil

Rasanya makin hari makin aneh. Makin janggal sedihnya. Barangkali saya bisa gila? Baru beberapa jam yang lalu saya tertawa, kencang sekali. Sangat lucu teman saya bercanda. Saya terbahak tanpa aba-aba, tapi, tiba-tiba pula saya berhenti. Hati ini mendadak nyeri. 

Mengapa saya tertawa selantang itu atas sesuatu yang sebetulnya ketika saya pikirkan ulang, sama sekali tidak lucu? Apa yang hendak saya sembunyikan? Di detik itu saya bertanya-tanya pada diri sendiri, ada apa? Apa sedihnya sudah terlalu parah sehingga tawa merasa tidak pantas terpajang di bibir? Mengapa bahagia dan duka setipis itu bedanya?

Katanya, orang yang tertawa paling kecang itu biasanya yang menyimpan luka paling dalam. Apa iya? Apa saya masih tidak bisa sembuh dari luka itu? (Oh, tentu, untuk apa saya bertanya. Jawabannya tidak mungkin.)

Sekarang saya betul-betul bingung harus menangis dan tertawa bersama siapa. Semuanya terasa lebih sunyi dari sepi itu sendiri. Ketika saya menangis, tidak ada yang betul-betul mendengar untuk menenangkan. Ketika saya tertawa, tidak ada pula yang menyadarkan betapa saya seharusnya berbahagia. Semua ekspresi itu biasa saja. Datang dan pergi dari hati saya tanpa sesuatu istimewa; Saya juga mulai bosan memaknai hati dan perasaan saya sendiri.


Rasanya ingin pergi ke pinggir laut sekarang juga. Menapak di pasir putih yang nyaman, di hadapan matahari yang sengatnya tidak menyakitkan, dan deru angin itu berembus membawa segala kepahitan. Saya cuma ingin berteriak lantang; izinkan saya merasa tenang! 

Wednesday, June 6, 2018

Untuk Kekasihku

Yang tersayang, Kekasihku..

Kekasih yang selalu kucintai, yang maha memiliki hati ini.. Untuk hari ini, dan di sisa-sisa hari yang sepi.

Apa kabarmu? Selalu saya doakan agar selalu baik-baik saja. Saya tahu—saya selalu mendoakan untukmu—bahwa kau sekarang berbahagia. Insya Allah kau lebih bahagia di sana, di dekat Sang Maha. 

Tahukah, Kekasih, rindu ini rasanya menumpuk dari hari ke hari, dan saya selalu tidak tahu bagaimana cara meringankannya. Maka ketika rindu itu terasa sangat memberatkan, saya hanya bisa mengirimimu doa. Doa-doa yang saya harap bisa menyentuhmu di sana, tanpa memberatkan kepergianmu dengan air mataku yang penuh dosa. Dari dulu, sampai detik ini, saya masih memiliki rindu untukmu yang selalu sama. 

Rindu yang begitu dalam. Terkadang menyesak. Namun saya selalu gagal untuk menyatakannya terang-terangan. Tapi saya tahu Tuhan lebih mengerti perasaan saya untukmu. Dan saya juga tahu, betapa Tuhan menyayangimu sebab kau orang yang penuh dengan kebaikan. Saya tahu, cinta dan kasih sayang saya tidak ada apa-apanya dibandingkan berkah kasih sayang yang telah Tuhan limpahkan kepadamu dan di dalam hidupmu. Sementara itu, kebahagiaan yang telah Tuhan berikan kepada saya sungguh tak terhitung kala kebahagiaan itu datangnya melalui dirimu—ketika dulu kau masih ada di dunia ini.

Kekasih, bolehkah kujadikan kau sebagai kekasihku selalu? Sebab tak kutahu, harus kucintai lelaki mana lagi dengan cinta sehebat ini. Cinta yang tak pernah mengenal kata lelah, meski kita telah diuji berkali-kali, bertahun-tahun, dengan segala cobaan yang menerpa. Dengan jarak, dengan waktu, dan kini dengan dunia yang berbeda. Ketulusan cinta ini, Kekasih, tak akan pernah kubagi dengan siapa pun sebab hanya kepadamulah akan kujaga kesetiaan sepenuh rela. Kau lelaki terhebat yang pernah ada di hidupku, dan akan selalu menjadi lelaki terhebat sampai matiku. Saya tahu itu, karena tak ada yang lain selainmu. 

Saya mencintaimu.

Ingatkah kau bahwa selalu kukatakan itu sebelum kita mengakhiri percakapan? Dan tahukah kau mengapa tak pernah ingin kulewatkan kesempatan menyatakan cintaku di setiap kita selesai berbalas pesan? 

Hari ini, dengan hati tenang, saya ingin menuliskannya—menjelaskan cinta yang selama ini mengalir tenang di sela-sela nadi saya. Bahwa setiap pernyataan cinta yang saya ucapkan kepadamu, sesungguhnya adalah ketakutan terbesarku. Setelah saya tahu jantungmu tak lagi sehat, saya tak berani menerima kenyataan. Saya ketakutan dan sama sekali tak ingin memikirkan hal-hal paling buruk yang bisa terjadi di dunia ini—kehilanganmu. Saya tak pernah berniat membayangkan kepergianmu, tetapi saya harus bisa lebih ikhlas menerima kenyataan bahwa semua manusia pada akhirnya akan berakhir di suatu waktu. Kala itu, saya tak peduli jika saya yang lebih dulu harus pergi, tetapi setidaknya saya harus menyiapkan diri agar tidak menjadi terlalu gila bila suatu hari kau mendahuluiku, karena kondisi jantungmu yang hanya 30% bekerja. 

Setengah mati saya ketakutan di kali pertama saya mengetahui kabar itu. Seremuk-remuknya perasaan saya membayangkan hal yang paling tak ingin saya lalui. Tetapi saya selalu dan selalu berusaha untuk menerima takdir dari Tuhan. Karena itu, di setiap akhir percakapan, saya selalu mengungkapkan perasaan saya kepadamu. Saya mencintaimu. Mencintaimu dengan seluruh darah yang ada pada saya. Darah yang mengalir sebab darahmu. 

Setiap hari, saya ingin selalu cukup mencintaimu. 

Meski nyatanya, hari yang tak pernah ingin saya terima itu menjadi kenyataan. Ia datang seakan tak memberi saya kesempatan untuk bernapas. Ia datang dengan tiba-tiba, tanpa mengetuk, dan seolah menghajar saya bertubi-tubi dengan segala kesakitan yang tak pernah saya rasakan di dunia ini. Hari ketika kau pergi, tanpa meninggalkan salam perpisahan sama sekali. 

Satu hal yang pada saat itu saya ucapkan ketika mendengar kabar pahit tentangmu; Tidak mungkin. 

Kau pergi sungguh terlalu cepat, Kekasih. Cinta yang kurawat dengan hati-hati seketika terbakar di dalam api. Perpisahan terasa begitu menyakitkan dan membakar seluruh tubuh saya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Perpisahan yang tak akan pernah saya inginkan, meski saya mempersiapkan diri dari jauh-jauh hari. Sebab karena perpisahan itu, sekali pun tak akan saya dengar lagi balasanmu mengatakan: saya mencintaimu juga, anakku..

Kecuali jika kau sudi menungguku di surga nanti. 


Kekasih..
Kekasih..
Kekasih..

Sungguh di hatiku hanya penuh denganmu.
Sungguh tak pernah ada yang hidup di hatiku, cinta yang separah ini kecuali hanya karenamu seorang.
Sungguh saya mencintaimu, betul-betul mencintaimu, hingga tak kutahu lagi harus kukatakan apa agar mampu kunyatakan seluruh perasaanku.
Sebab hanya cintalah.
Cinta yang menjadikan saya seperti hari ini.
Cinta yang seumur hidupku mengendap di dalam diri, untukmu. Untukmu. Hanya untukmu.

Pak..

Hanya untukmu..

Cintaku..

Baik-baik di sana, Pak.. 
Kau masih kekasihku, dan selalu kekasihku..


Anak pertamamu,
Ivanasha Adani Prasetianti.