Friday, December 20, 2019

Ein Schwarzer Morgen

Langit pekat menelan ribu pemikiran.
Menelisik jurang-jurang dalam tanpa dasar.
Samar, kulihat pagi sebentar lagi menjulang.
Tak ada kata yang pantas terucap, selain, sesal. 

Aku memotong sumbu di tubuhku.
Setelah hangus membiarkan diri hampir abu.
Pintu yang rubuh, memantulkan gema ketukan.
Salah siapa jika yang tertutup kini terbuka?
Terbakar dan hangus dalam jala?
Perangkap dari manis kata-kata?

Rasanya, ingin kubunuh segala sisa.
Kepala yang tak tahu diri kini telah menganga.
Hati yang tak sudi pun tak kalah bodohnya.

Salah siapa, langit, pekat, matahari jatuh.
Bangkit, penat, melupa dan rubuh.
Sakit, 
Berat,
Tubuh,
Melepuh,
Menyesal,
Merapal

—ampun, Tuhan, dosaku tak habis-habis

Matiku pun nyaris.

Mengapa harus bertambah?
Mengapa tak mampu kucegah?

Mengapa?

Mengapa?

Wednesday, December 18, 2019

Was Du Liest

Aku menulis ini dan amat tahu kalau kau akan sesegera mungkin membacanya. Aku tahu, kau sedang berada di halaman catatan jurnalku yang satu ini; membolak-balik halaman demi halaman dengan judul-judul yang bahkan kini sudah terasa asing bagiku. Kau mencari tahu setiap inci tentangku, tentang apa yang pernah kutulis dan apa yang selama ini terjadi di dalam hidupku.

Pertanyaanku, tidakkah itu melelahkanmu?

Melihat ke dalam bagian-bagian yang tidak menyenangkan dari diriku, menelusuri setiap patah dan bahagia yang pernah kulalui bersama orang lain--ketika sebenarnya kini apa pun yang ingin kujalani di dalam hidupku adalah bersamamu. Kautemukan nama-nama dari masa laluku. Kumpulan huruf yang sekarang sudah sangat enggan untuk kuingat. Tidakkah itu memuakkanmu? Sebab, ya, bagiku ini memuakkan.

Mencatat sesuatu yang pernah terjadi di dalam perasaanku, untuk tahu bahwa ternyata perasaan itu berlalu dan tidak akan selamanya sama.. Menemukan masa lalu di mana aku pernah jatuh dan bangun begitu peliknya, menatap iba diriku yang dulu, sekaligus rasanya ingin sekali memberi tepuk tangan yang meriah sebab ternyata bisa kulewati semua itu sampai di detik ini, dan aku tiba di dirimu.. 

Perjalanan jauh, namun terasa begitu dekat. Sebab di tanggal-tanggal yang begitu jelas, mencatat semuanya, aku memiliki kesempatan untuk mengulang hal-hal itu sekali lagi. Manis, namun memuakkan.

Sebab masa lalu yang begitu jelas teringat tidak selalu terasa hebat.


Di sini, aku hanya ingin mengatakan sesuatu, selagi kau yang menjadi pembaca pertamaku..

Jangan biarkan kita menjadi tanggal-tanggal yang tertinggal dan tidak terulang. Aku menyayangimu. Hari ini, sampai entah kapan, aku tidak ada niat untuk berhenti. Bantu aku mengisi catatan hidupku dengan segala yang manis, jika kau berkenan. Dan yang paling penting, kuminta sekarang kau pun mengaminkan. 


Terima kasih telah membacaku.

Sunday, December 8, 2019

712

mencintaimu seperti menghela udara segar
di tengah-tengah pengap yang tandus
setelah bosan dengan seluruh ingkar
kubiarkan bagian-bagianmu menembus

ke dalam paru-paru
kuhela namamu penuh rindu;
ke dalam detak-detak jantung
seluruh tentangmu kutampung

jika kubicarakan perihal waktu termanis
doa-doa terbaik mulai mengecap dirimu
menyulam masa terindah dengan puitis
sambil mengingat kembali senyuman itu

kebahagiaan adalah apa yang kautaruh
dalam genggam tanganmu pada tanganku
tanpa perlu mempertaruhkan seluruh
atau menebak harapan-harapan jauh

yang kumau hanya satu:
         
          semoga kita selalu.



- Ivanasha