Wednesday, September 9, 2020
Punkt.
Friday, September 4, 2020
Changed.
Bagaimana caranya merelakan? Beberapa hal di dunia ini seringkali memaksa saya untuk merelakan tiba-tiba. Dan, saya merasa tidak diberikan kesempatan untuk bersiap-siap menghadapinya. Saya pikir, semua akan berjalan baik-baik saja. Tapi tidak juga. Selalu ada hal yang hilang dan berjalan menjauhi saya, sehingga saya betul-betul harus merelakan.
Di posisi ini, saya harus bisa menghadapi hal yang sudah berubah. Tidak lagi berjalan seperti dulu, dan tidak lagi mengiringi saya seperti dulu. Jujur saya kewalahan. Saya ini orang yang nyaman dengan satu situasi. Saya mengakar. Saya menetap. Saya paling benci keluar dari zona nyaman, dan saya paling sulit dipaksa berpindah jika saya memang sudah menyukai di mana saya berada.
Saya suka kita yang dulu. Saat saya menemukan kenyamanan dari setiap peduli yang kamu berikan. Begitu menyenangkan rasanya, memiliki seseorang yang selalu ingin membersamai saya. Bahkan, terlalu banyak hal yang saya pikir akan saya nikmati sampai waktu yang lama. Sayang saja, dugaan saya dibabat habis dengan sikapmu sekarang. Jauh. Tidak peduli. Tidak lagi seperti dulu. Dan itu berhasil membuat saya kacau. Saya dipaksa mengalahkan ego saya yang sangat besar; bahwa saya ingin kamu selalu seperti bagaimana kamu yang dulu..
Pembelaanmu selalu menyuguhkan saya pertanyaan: "memang aku tidak peduli bagaimana? tidak perhatian bagaimana?", dan saya sulit sekali menjawabnya. Saya tidak tahu bagaimana menjelaskannya, jika kamu merasa perubahan yang saya rasakan tidak masuk di akalmu. Bagimu, mungkin, saya hanya kanak-kanak yang manja dan memiliki ego besar. Baik, saya akui perihal itu. Tapi tidak bisakah kamu menerima sebagaimana saya ini? Sebab sekarang juga saya sedang belajar untuk menerimamu sebagaimana kamu sekarang. Kamu yang sebenar-benarnya dirimu. Kamu yang pada awalnya manis, namun ternyata saya tahu bahwa pribadimu yang asli tidak selalu membiarkanmu menjadi orang yang romantis.
Saya tentu tidak akan memaksamu untuk berubah menjadi orang lain yang bukan dirimu.. Tapi, jika dulu kamu bisa menjadi orang itu, mengapa kini kamu berubah seolah saya menghadapi seseorang yang baru?
Tidak bisakah kita menemukan jalan tengahnya saja? Di mana saya bisa merasa tidak sendirian, dan kamu tetap memiliki ruang kecilmu sendiri. Meski jujur saja, saya sendiri juga tidak tahu bagaimana situasi itu bisa diwujudkan. Berkali-kali saya meyakinkan diri untuk menerima.. Ya, menerima bahwa memang seperti inilah dirimu yang sebenarnya. Bukan yang dulu; yang begitu rajin berusaha untuk menyamankan hatiku. Berkali-kali saya berusaha untuk mengalahkan ego saya untuk memiliki lagi dirimu yang dulu, tapi sepertinya sangat sangat sangat sulit. Satu kalimat yang pernah saya baca betul-betul menampar saya; you can't change their behavior by loving them harder.
Sebetulnya, bagaimana caranya merelakan? Saya hanya butuh untuk memahami hal itu. Dan mungkin, saya bisa lebih tenang menghadapi sikapmu yang sekarang. Merelakanmu dengan seluruh ketidakpedulianmu, dan bagaimana kamu tidak lagi melibatkanku dalam 24 jam waktumu.
Saya paham betul betapa duniamu sangat penting bagi dirimu. Betapa kamu butuh menyendiri di waktu-waktu tertentu. Yang saya tidak paham, dulu kamu mengaku sangat berbahagia ketika saya menemanimu. Tapi sekarang tidak lagi seperti itu. Kenapa? Kenapa dulu bisa, tapi sekarang tidak?
Pada akhirnya.. Kamu meninggalkan saya sendiri untuk menghadapi ini semua. Kamu terlalu sibuk dengan dunia kecilmu itu, sehingga tidak lagi peduli jika saya menetap atau pergi.
Menyakitkan.
Bukankah jika kamu mencintai seseorang, kamu harus meluangkan upaya yang sama untuk saling menjaga?
Maaf kalau saya berlebihan. Terlalu berperasaan. Atau apalah.
Tapi, ini saya.
Sebagaimana kamu, dirimu.