Kamu tau apa yang terlintas di pikiranku ketika aku berjalan pulang saat itu?
Aku adalah jejak yang berlari dan tak kau kejar..
Itu. seperti itu perasaanku. Kamu tidak tau, hari itu aku berharap sangat banyak. Karena kata-katamu yang sialnya meyakinkan. Sehingga aku bangun lebih pagi, sehingga aku menahan ngantuk yang amat berat, hanya untuk waktu yang sebentar dan berharga itu. Aku kira bukan hanya aku yang lapar karena rindu. Aku kira bukan hanya aku yang bersiap pada hari itu.
Sepele. ya, memang sepele.
Tapi ucapanmu memang tidak pernah bisa aku pegang. Tidak konsisten. Plin-plan. Bayangkan, bagaimana bisa kamu bilang ingin bertemu aku, ketika saat di sampingku saja dirimu berlari entah kemana. Kemana pikiranmu itu? bukan kepadaku? Persetan dengan maafmu. Kamu memang tidak pernah mengerti. Mungkin kamu akan benar-benar mengerti ketika waktu itu tiba. Ketika kamu dihadapi jarak yang sesungguhnya. Aku benci kamu yang tidak menghargai waktu. Aku benci kamu yang tidak memegang perkataanmu sendiri.
Aku benci diriku,
karena mempercayaimu.