(pict by: @icchanksaja)
Sebagian besar orang mengatakan kalau jatuh cinta itu menyenangkan. Mungkin mereka lupa kalau jatuh cinta itu kata yang diawali dengan jatuh. Kebanyakan orang akan terluka dengan jatuh. Atau setidaknya, merasakan sakit setelah jatuh. Lalu bagian mana yang bisa dibilang menyenangkan dari jatuh cinta? Bukankah itu sedang terjatuh? Bukankah jatuh itu sakit?
Apa ini juga yang biasa dibilang kalau cinta itu buta?
Tapi kalaupun buta, apa cinta juga mati rasa?
Sehingga jatuhnya kita nikmati begitu saja.
Kalau aku bisa memilih, aku tidak ingin jatuh cinta. Jatuh cinta itu menyebalkan. Seringkali aku tanpa sadar menjejalkan namanya dalam kepalaku. Memikirkannya berlebihan, menduga-duga hal yang tak perlu, atau mencari-cari kemungkinan yang tidak aku tahu. Hal itu begitu menyibukkanku dengan pikiran-pikiran yang sebenarnya tidak aku mau. Kenapa? Karena pikiran itu egois. Belum tentu juga dia atau siapapun yang kucintai itu memikirkan hal yang sama. Apa dia memikirkanku? Apa dia sedang mengingatku? Apa aku benar-benar tidak dipikirkannya? Ah. Sial. Seperti inilah menyebalkannya. Aku kembali bertanya sendiri, tentang hal-hal tak penting yang egois.
Kalau aku bisa memilih, aku tidak ingin jatuh cinta. Jatuh cinta itu menyita sebagian besar perasaanku dengan pikiran-pikiran yang juga tak perlu. Perasaanku hanya akan terbawa begitu jauh dan terkadang berantakan tidak beraturan. Aku sendiri sebagai pemiliknya tidak tahu bagimana merapikan perasaan itu sendiri. Mungkin bisa dibilang, aku menempatkan kesempatan merapikan perasaanku hanya kepada orang yang kujatuhcintai itu. Hanya dia yang bisa menata rapi segala yang tercerai-berai dalam perasaanku. Sementara memiliki perasaan yang berantakan seperti itu sangat tidak nyaman. Tahukah perasaan apa yang paling sering hadir ketika aku jatuh cinta? Ya, Kerinduan. Tak ada yang benar-benar bisa menyita sebagian besar ruangan perasaanku selain kerinduan. Kerinduan hanyalah anak perasaan dari penyakit jatuh cinta yang tumbuh setiap hari kian besar, kian panjang, dan membuat sempit perasaanku saja. Lagi-lagi aku akan berpikir hal yang menyebalkan: apa dia merindukanku juga? Apakah kerinduanku akan dia balas atau hanya akan sekarat menyiksa ruangan perasaanku yang telah kian sempit ini. Ah. Pertanyaan tak penting yang egois--lagi.
Kalau aku bisa memilih, aku tidak ingin jatuh cinta. Jatuh cinta itu menyita waktuku. Sebagian besar waktuku! Aku hanya bisa berhenti jatuh cinta ketika aku tidur. Itupun kalau sedang beruntung; kalau dia sedang tidak hadir di dalam mimpiku. Sebab kalau dia singgah pula dalam bunga tidurku, aku tidak bisa apa-apa selain menjatuhcintainya juga meski dalam mimpi.
Bukankah jatuh cinta itu sungguh merepotkan?
Bukankah jatuh cinta itu perasaan yang egois?
Bukankah jatuh cinta itu j a t u h ?
:)
Bukankah jatuh cinta itu sungguh merepotkan?
Bukankah jatuh cinta itu perasaan yang egois?
Bukankah jatuh cinta itu j a t u h ?
:)
