Sunday, November 6, 2016

Willst Du Mich Umarmen?

dadaku rasanya ingin membuncah. pelukanmu terbayang begitu lekat di tubuhku. aku merasa tidak lagi ada jarak yang memautkan kita jauh-jauh. membayangkanmu, aku merasa utuh. selengkung senyuman tak terasa telah menghangat di ujung-ujung bibirku. tahukah kau mengapa? sebab kuingat senyumanmu yang begitu indahnya. aku terpikat. jika saja aku terjerat, maka aku ingin selalu terikat. mencintaimu, aku ingin menjadi segala yang sungguh dekat.

aku membayangkan menjadi kasur tempat kau membaringkan lelah. aku ingin memelukmu sampai tak lagi ada resah yang singgah. bagilah semua letihmu di tubuhku yang rela. lengan-lenganku akan selalu ada untukmu ketika kau mau. jangan pernah ragu, sebab aku mencintaimu seperti itu. ketahuilah, tak ada yang lebih hangat bagiku selain menaruh rengkuhku lekat-lekat di seluruh tubuhmu.

rasanya tidak ingin meragu tentang waktu. aku berdoa, jika suatu hari kita berbagi sua, kuharap ketika itulah saat yang paling tepat untuk membahasakan kerinduan. penantian lama dan mimpi-mimpi yang fana, akan terwujud dalam sekejap di suatu waktu yang telah kau dan aku harapkan. percayakah kau akan takdir? sebelum pertemuan, perkenalan denganmu adalah takdir terindah yang pernah kualami. maka aku pun akan dengan senang hati menunggu sampai kita tiba di masa yang memberikan kesempatan bagi sebuah pertemuan. aku yakin tak akan lama, jika kita menunggu dengan tabah dan berdoa. 

maka kekasih,
jika aku tiba di saat senyumanmu begitu nyata kulihat, 
maukah kau menjadi pelukan yang selama ini kubayangkan?

Thursday, November 3, 2016

Schmerz.

Ia menutup pintu dan terduduk di hadapan daunnya. Gelap masuk pelan-pelan pada celah dada yang sedikit demi sedikit semakin nganga. Tangisnya pecah seakan tidak ada suara, melainkan kepedihan yang teriak tanpa aba-aba. Mulutnya terbuka dan menghisap udara seakan kata-kata ada untuk ditelan bulat-bulat, bukan diharapkan. Ia mengingat hal paling sakit di hidupnya, di kenyataan dan di dalam mimpinya. Semua bergantian menusuk, menghujam, merajam aliran darah pengharapannya. Tak ada apa-apa lagi yang bisa ia lakukan, selain, menyembuhkan dirinya sendiri dengan semakin tenggelam di gelap ruangan kosong tempat ia berada. Sebab di sana, kesendiriannya sempurna. Asa demi asa tumpah, dan tak seorangpun selain dirinya sendiri yang bisa merasakannya.

Dari semula, ia tahu segala sesuatu dapat berubah dengan setitik harapan. Tetapi rasanya tak pernah cukup tinggi dinding pertahanan ia bangun untuk mencegah masuk mimpi dan janji yang menapaskan asa-asa. Jika saja sebelumnya telah ia ketahui bahwa mereka datang hanya untuk pura-pura atau ingkar, mungkin ia tak perlu terduduk menangisi kekecewaannya di detik ini juga.

Semakin larut, hatinya semakin lantang berterima kasih kepada gelap di kamarnya yang tidak pernah berbohong. Menampung suara isak dan sesak ketika malam datang dan ia tak memiliki siapapun untuk berada, menepati harapannya. Tetapi perlahan, rasa takut menyelinap di antara gagap napasnya, mengutuki kemauannya kemarin petang untuk jatuh ke dalam telaga dan hilang. Namun masa lalu tidak pernah mampu ia hapus hanya dengan penyesalan, karena sesal telah mencintai dirinya di masa yang bahkan belum ia lampaui. Tak satu orangpun di dunia ini yang bisa mengingatkannya untuk berhati-hati, jika suatu hari jatuhnya akan begitu keras ia tangisi.


Di hadapan sebuah puisi yang tak tertulis di halaman ini, ia menampung kesakitannya.

Tuesday, November 1, 2016

Di Bawah Langit Sore

di manakah kekuatan ketika aku membutuhkannya? aku mencari di wajah-wajah orang asing, berjalan cepat, bersenggolan bahu, membawa pikiran masing-masing. aku melihat ke dalam mata mereka, berusaha menemukan apa saja yang bisa kujadikan alasan.
tetapi yang kudapat justru kecemasan mereka yang menular, menjangkit menambah panjang pencarianku. tidak ada yang peduli sama sekali, ketika di tengah ramai itu seseorang sedang menghilangkan dirinya sendiri dan lebur menjadi debu jalanan yang tidak dianggap. apalah arti satu, jika angka-angka lainnya berterbangan di kepala mereka.
kakiku melanjutkan perjalanan, sambil kulihat langit yang ditutupi daun-daun kuning dan dahan-dahan ramping. di sela-selanya, cahaya menyembul sedikit-sedikit, seperti berusaha mengatakan sesuatu.
sore semakin tinggi dan merias dirinya sebagai pengingat yang baik. menunjukkan betapa langit tidak pernah berbohong. ia memiliki empat wajah dan selalu kuhitung pergantiannya dengan hati-hati. aku tahu, ketika di atas kepalaku sore sedang cantik-cantiknya, berarti di sudut lain badan langit, malam sedang menjulang di tengah-tengah.
tak terasa telah kutahan basah di pelupuk pandanganku. sore mulai mendung. hatiku memanas. ujung jariku semakin dingin. kakiku berhenti melangkah. tanyaku tak lagi mencari, sebab jawaban ternyata lebih jauh dari yang kutelusuri, meski sangat dekat kuingat dalam tubuhku sendiri.
hatiku ngilu, langit turut membagi kelu. ibu, anakmu rindu.