Wednesday, March 28, 2018

Padamu, Aku Ingin Menemukan Segalanya.

Puan, aku pernah menyimpan sepotong kenangan di balik bingkai matamu yang teduh dan basah—yang lantas gugur satu-satu bersama waktu. Sampai akhirnya aku berhenti melangkah. Sampai akhirnya, aku hanya menitipkan sekumpulan kata di jendela kamarmu. Kata yang kunamakan Aksara Hujan.

Menderu, parau kata-kata itu di sekujur tubuhku, setelah tahun demi tahun yang panjang; kukira kita telah lama hilang, Tuan, sebab di sepasang lengan seseorang aku menempuh perjalanan panjang. Namun di sana, cinta hanya mementaskan tawa yang fana. Meremukkan segala padaku yang tersisa, Tuan. Dan kini aku tidak tahu bagaimana cara menggunakan hati untuk memercayai kembali.

Di sanalah aku menjaga asa—cinta yang kauanggap fana dan remukkan perasaan dari sebuah kata pergi. Setiap sesak dan lelah. Kini, melalui kata-kata itu, aku menghidupkan jasad kenangan yang telah mati; yang telah baur di udara menjadi abu. Aku menghidupkan segala yang telah kubunuh ketika di sebuah persimpangan jalan, lelah itu bermuara pada kalah. Jalan di mana, kini aku melihatmu kembali berdiri di salah satu sisinya. Haruskah aku kembali memungut rindu yang telah gugur itu?

Kata-kata selalu punya cara untuk mengingatkanku tentang kita. Barangkali karena setiap duka dan mesra pernah kaujaga di dalamnya. Sehingga ketika kita telah terlalu larut berjauh-jauhan, kata-kata menjelma segala sesuatu di antara perjalanan; pertanda yang embus sebagai kenangan. Ingin rasanya kubenahi satu per satu tentang kita di sana, sambil menyembuhkan luka yang lama menganga. Haruskah kujawab bahwa padaku sesungguhnya tak pernah ada yang gugur?

Mungkin, di detik yang (pernah) menjauhiku, aku selalu yakin bahwa suatu waktu nanti segalanya akan berbeda—kita samasama sendiri dan kamu sadar bahwa perasaan ini nyata. Tidak sebatas kata yang kutuliskan saja. Hingga jarak yang menjadi dinding ialah sebatas kata iya atau tidak. Meskipun ketika tanggal yang telah tanggal itu melahirkan luka menganga di dada—kehadiranmu kembali, menambalnya seketika. Bila padamu tiada yang gugur, bisakah meniupkan nyawa ke dalam harapan itu lagi?

Setelah lama kehilangan, tersesat dalam segala yang sesaat, aku mungkin telah melupakan bagaimana mencintai tanpa terluka—tetapi mengapa luka kauhias begitu mesra? Seakan setiap baris dalam aksara hujan ialah hadiah perasaan. Aku tak ingin meragu. Bila padamu ternyata aku menemukan kata pulang, maka bawalah napasku ke mana kau ingin berharap.

Padamu, aku ingin menjadi segalanya. Perihal semesta yang katamu begitu dingin—aku ada sebagai penghangatmu. Luka itu hadir sebagai pengingat; dulu sekali aku pernah mencoba untuk memintal kata "kita". Kata yang kemudian terbakar oleh waktu di dadamu. Kini, bila padaku kamu menemukan kata pulang, padamu, aku takingin hilang. Mendayunglah di diam samudra perasaanku. Agar aku mengerti, memang hatiku ialah pelabuhan yang (kelak) kausinggahi.

Padamu, aku ingin menemukan segalanya. Tentang waktu yang hilang di antara lengang, meresap tanpa derap menjadi kesakitan yang tak sesiapa pun mengharap. Aku ingin kembali menjaga hal-hal yang begitu berharga; yang juga menjadikanku sebuah makna. Ke luas perasaanmu itu, aku akan bermuara. Menafsirkan rindu di sisa-sisa usia; menjadikanmu satu, di antara segalanya.

Itulah alasan, aku terlalu resap untuk melepasmu. Terlalu jauh untuk berhenti. Meskipun aku yang pergi. Aku yang menyesali. Jejakmu masih tinggal di samudra perasaan ini—bersandar di tepian sampan menikmati senja yang hidup di matamu. Biarkan aku tenggelam lebih dalam lagi. Bertahan lebih lama lagi. Mencintaimu, aku cukup menjadi aku—yang beruntung bisa menjalani sisa perjalanan hidupku bersamamu.

__________

sebuah kolaborasi menulis bersama Ariqy Raihan.



DE-270318-20:59

Friday, March 9, 2018

Catatan Tubuh

Langit di luar jendela telah gelap. Udara malam hari menusuk ke dalam tulang seakan-akan tidak ada selimut yang membalut tubuh kami. Barangkali selimutnya terlalu tipis.

Ia merapatkan tubuhnya ke tubuhku. 
Tangannya bergerak perlahan.

Memelukku.

Aku menahan napas karena takut ia mendengarnya. 
Aku ingin membalas peluk tetapi degupku seperti terlalu keras.
Aku malu. 

Kupalingkan kepalaku untuk menatapnya. Ia tersenyum. Senyum yang amat manis. Seperti mengartikan sesuatu yang kuyakin sama seperti apa yang kupikirkan. Aku bisa mendengar gemuruh di dada kirinya. Mungkin ia juga mendengar gemuruh di dada kiriku. 

Masih dengan gerakan perlahan, ia pun menghampiri bibirku.

Ia melumatnya. 

Dan tanganku tak bisa berdiam saja. 

Sudah dari lama, aku ingin meniti tubuhnya dengan jari jemariku. Maka tanpa banyak kata, kudaratkan sentuhan-sentuhan lembut di balik bajunya, meraba punggung hingga pinggul, tersasar sesekali mengelus pipinya; menambah lekat kecup kami yang hangat. 

Kemudian ia membalas sentuhan itu dengan gerakan yang sama. Aku merasa ia mencari-cari sesuatu di tubuhku, tapi tak pernah berhasil menemukannya. Aku mulai percaya bahwa ia hanya berkeliling dengan sengaja. Merasai kulitku yang dingin dengan jari jemarinya yang hangat. Sesekali sentuhan itu berhenti di pinggangku cukup lama, ketika sepasang bibir kami bertambah mesra. 

"Jangan di sini." bisikku kemudian. Menyadarkan napasnya yang semakin tak teratur.

Ia menatapku, seakan bertanya, "Kenapa?"

Suaraku kembali lirih,

"Kau temanku, dan ini hanyalah mimpi belaka."

Saturday, January 20, 2018

Sedikit Cerita #HadiahPerasaan

Jadi begini, saya teringat ketika nasib naskah Hadiah Perasaan masih berupa pengharapan belaka. Kala itu, sesudah saya menawarkan naskah HP via email ke sebanyak 6 penerbit, saya memutuskan untuk mencetak sendiri naskah itu. Dengan tujuan sederhana, yaitu, memuaskan diri sendiri. Haha! Waktu itu, saya begitu senang karena telah berhasil menyelesaikan satu naskah impian saya. Naskah yang saya tulis seorang diri. 

Jadilah saya print semua halaman itu dengan modal seadanya. Dengan printer milik teman satu rumah saya. Saya mencetaknya dengan ukuran setengah dari A4, dengan cara, mencetak dua halaman naskah di satu lembar kertas A4. Hahaha. Cupukah? 

Setelah saya print, saya potong satu per satu halamannya menggunakan cutter dan beralaskan talenan untul memasak. Hehehe, ini lebih cupu lagi ya. Ya, mau bagaimana, di tempat saya tinggal, mahal sekali untuk mencetak buku sampai jadi seperti buku. Maklum, student kere :p

Sementara cover-nya, saya buat sendiri dengan desain sederhana. Hanya berupa tulisan dengan font gratisan dari internet. Kemudian saya cetak cover itu di kertas yang lebih tebal dan memiliki corak marmer berwarna cokelat muda. Setelah itu, saya satukan semuanya dan jadilah naskah HP itu handmade book setengah mateng. Kenapa setengah mateng? Karena bukunya belum dijilid/dilem/disatukan hahaha.



Karena itu tidak bisa saya lakukan manual, akhirnya saya mencari-cari di toko percetakan di kota saya. Tapi sayaaaaaaang sekali, usaha saya mengunjungi beberapa toko percetakan berujung naas. Tidak satu pun yang menerima menjilid seperti buku jadi. Tidak punya alatnya, katanya. Atau tidak menerima kertas berukuran setengah A4 (A berapa itu namanya?)

Hingga suatu hari saya berkunjung ke luar kota. Ke kota yang lebih besar dari kota tempat saya tinggal, yaitu ke kota Leipzig. Di sana, saya diundang PPI Leipzig untuk mengisi acara dengan membacakan puisi. Jadilah ketika itu saya membawa naskah HP yang masih setengah mateng itu dengan tujuan mencari tempat percetakan yang lebih genah di kota Leipzig. Siapa tahu ada yang bisa menjilid, ya kan? #pantangmenyerahdemihadiahperasaan

Dan, benar saja dong! Dengan mudahnya saya menemukan toko percetakan yang menerima penjilidan. Terima kasih kepada teman-teman saya di Leipzig yang waktu itu khusus menemani saya ke tempat percetakan dulu sebelum pulang ke rumah. Yang ternyata salah satu dari kalian masih ingat kejadian itu:



Akhirnyaaa, naskah HP sudah jadi meski dengan jilidan spiral. Hahaha! Setidaknya lebih mantap jika ada yang mau membacanya, pikir saya waktu itu. 


Lalu, esok harinya, saya menghadiri acara PPI Leipzig dan bertemu lebih banyak teman di sana. Dan di sanalah, naskah HP menemukan pembaca pertamanya. Seorang teman yang saya kira hanya iseng ketika menyahut "Sha, gue baca dong bukunya! Ini buku lu kan?" namun ternyata dia betulan membaca naskah itu dengan khusyuk di antara keramaian acara. Dia duduk berdiam diri dan hanyut di Hadiah Perasaan. Tidak lama kemudian, dia bilang, "Sha, gue suka banget deh yang ini..." sambil jarinya menunjuk ke judul puisi "Aku Mencintaimu Juga!" 

Asli. Degdegan rasanya buku itu dibaca oleh orang lain pertama kali. Apalagi disukai. Yang dipikiran saya waktu itu: jadi begini toh rasanya punya buku sendiri... :)