Thursday, March 29, 2018

Family.

Sewaktu saya masih kecil, saya bertanya-tanya apakah hidup itu sesungguhnya adil? Seringkali saya diselimuti kecemburuan yang asing. Saya melihat anak-anak di sekolah menceritakan tentang pekerjaan ayahnya. Saya tidak tahu apa pekerjaan ayah saya. Mereka juga bercerita tentang apa saja yang mereka lakukan bersama ayah mereka di setiap akhir minggu. Saya tidak tahu rasanya. Ayah saya tidak ada di rumah. Saya tidak tahu di mana ayah saya tinggal.
Terakhir kali saya mengingat ayah saya, sudah beberapa tahun yang lalu. Ketika saya berada di rumah saudara saya dan sedang menonton televisi, tiba-tiba seseorang mengagetkan saya dari belakang. Ketika saya menoleh, saya melihat sebentuk boneka beruang besar berwarna cokelat menutupi wajah seseorang. Saya terheran. Namun saya tertawa bahagia ketika seseorang yang tengah memeluk boneka itu menampakkan wajahnya. Wajah yang melengkungkan senyum dengan hangat, wajah yang sangat teduh, wajah yang sudah berbulan-bulan saya rindukan, dan wajah yang tidak berani saya tanyakan keberadaannya kepada ibu saya. Itulah wajah ayah.
Saya pun memberi nama kepada boneka beruang pemberiannya itu. Nama yang sesuai dengan kata yang tersemat di telinga boneka tersebut. Family. Waktu itu, saya belum pandai berbahasa Inggris dan tidak tahu apa arti Family. Saya hanya senang dengan bunyinya. Dan ayah saya pun terlihat senang mengetahui saya memberikan nama itu kepadanya.
Sejak saat itu, Family selalu menjadi teman tidur saya. Ia juga menjadi teman bicara ketika tidak ada siapa pun yang bisa saya ajak berbicara perihal ayah. Karena entah kesadaran dari mana yang saya dapatkan, saya hanya tahu, ayah tidak lagi tinggal di rumah yang sama dengan saya. Itu mengapa saya selalu merindukannya diam-diam.
Sebab saya sungguh tidak tahu
bagaimana cara untuk bertemu ayah sekali lagi.

Wednesday, March 28, 2018

Padamu, Aku Ingin Menemukan Segalanya.

Puan, aku pernah menyimpan sepotong kenangan di balik bingkai matamu yang teduh dan basah—yang lantas gugur satu-satu bersama waktu. Sampai akhirnya aku berhenti melangkah. Sampai akhirnya, aku hanya menitipkan sekumpulan kata di jendela kamarmu. Kata yang kunamakan Aksara Hujan.

Menderu, parau kata-kata itu di sekujur tubuhku, setelah tahun demi tahun yang panjang; kukira kita telah lama hilang, Tuan, sebab di sepasang lengan seseorang aku menempuh perjalanan panjang. Namun di sana, cinta hanya mementaskan tawa yang fana. Meremukkan segala padaku yang tersisa, Tuan. Dan kini aku tidak tahu bagaimana cara menggunakan hati untuk memercayai kembali.

Di sanalah aku menjaga asa—cinta yang kauanggap fana dan remukkan perasaan dari sebuah kata pergi. Setiap sesak dan lelah. Kini, melalui kata-kata itu, aku menghidupkan jasad kenangan yang telah mati; yang telah baur di udara menjadi abu. Aku menghidupkan segala yang telah kubunuh ketika di sebuah persimpangan jalan, lelah itu bermuara pada kalah. Jalan di mana, kini aku melihatmu kembali berdiri di salah satu sisinya. Haruskah aku kembali memungut rindu yang telah gugur itu?

Kata-kata selalu punya cara untuk mengingatkanku tentang kita. Barangkali karena setiap duka dan mesra pernah kaujaga di dalamnya. Sehingga ketika kita telah terlalu larut berjauh-jauhan, kata-kata menjelma segala sesuatu di antara perjalanan; pertanda yang embus sebagai kenangan. Ingin rasanya kubenahi satu per satu tentang kita di sana, sambil menyembuhkan luka yang lama menganga. Haruskah kujawab bahwa padaku sesungguhnya tak pernah ada yang gugur?

Mungkin, di detik yang (pernah) menjauhiku, aku selalu yakin bahwa suatu waktu nanti segalanya akan berbeda—kita samasama sendiri dan kamu sadar bahwa perasaan ini nyata. Tidak sebatas kata yang kutuliskan saja. Hingga jarak yang menjadi dinding ialah sebatas kata iya atau tidak. Meskipun ketika tanggal yang telah tanggal itu melahirkan luka menganga di dada—kehadiranmu kembali, menambalnya seketika. Bila padamu tiada yang gugur, bisakah meniupkan nyawa ke dalam harapan itu lagi?

Setelah lama kehilangan, tersesat dalam segala yang sesaat, aku mungkin telah melupakan bagaimana mencintai tanpa terluka—tetapi mengapa luka kauhias begitu mesra? Seakan setiap baris dalam aksara hujan ialah hadiah perasaan. Aku tak ingin meragu. Bila padamu ternyata aku menemukan kata pulang, maka bawalah napasku ke mana kau ingin berharap.

Padamu, aku ingin menjadi segalanya. Perihal semesta yang katamu begitu dingin—aku ada sebagai penghangatmu. Luka itu hadir sebagai pengingat; dulu sekali aku pernah mencoba untuk memintal kata "kita". Kata yang kemudian terbakar oleh waktu di dadamu. Kini, bila padaku kamu menemukan kata pulang, padamu, aku takingin hilang. Mendayunglah di diam samudra perasaanku. Agar aku mengerti, memang hatiku ialah pelabuhan yang (kelak) kausinggahi.

Padamu, aku ingin menemukan segalanya. Tentang waktu yang hilang di antara lengang, meresap tanpa derap menjadi kesakitan yang tak sesiapa pun mengharap. Aku ingin kembali menjaga hal-hal yang begitu berharga; yang juga menjadikanku sebuah makna. Ke luas perasaanmu itu, aku akan bermuara. Menafsirkan rindu di sisa-sisa usia; menjadikanmu satu, di antara segalanya.

Itulah alasan, aku terlalu resap untuk melepasmu. Terlalu jauh untuk berhenti. Meskipun aku yang pergi. Aku yang menyesali. Jejakmu masih tinggal di samudra perasaan ini—bersandar di tepian sampan menikmati senja yang hidup di matamu. Biarkan aku tenggelam lebih dalam lagi. Bertahan lebih lama lagi. Mencintaimu, aku cukup menjadi aku—yang beruntung bisa menjalani sisa perjalanan hidupku bersamamu.

__________

sebuah kolaborasi menulis bersama Ariqy Raihan.



DE-270318-20:59

Friday, March 9, 2018

Catatan Tubuh

Langit di luar jendela telah gelap. Udara malam hari menusuk ke dalam tulang seakan-akan tidak ada selimut yang membalut tubuh kami. Barangkali selimutnya terlalu tipis.

Ia merapatkan tubuhnya ke tubuhku. 
Tangannya bergerak perlahan.

Memelukku.

Aku menahan napas karena takut ia mendengarnya. 
Aku ingin membalas peluk tetapi degupku seperti terlalu keras.
Aku malu. 

Kupalingkan kepalaku untuk menatapnya. Ia tersenyum. Senyum yang amat manis. Seperti mengartikan sesuatu yang kuyakin sama seperti apa yang kupikirkan. Aku bisa mendengar gemuruh di dada kirinya. Mungkin ia juga mendengar gemuruh di dada kiriku. 

Masih dengan gerakan perlahan, ia pun menghampiri bibirku.

Ia melumatnya. 

Dan tanganku tak bisa berdiam saja. 

Sudah dari lama, aku ingin meniti tubuhnya dengan jari jemariku. Maka tanpa banyak kata, kudaratkan sentuhan-sentuhan lembut di balik bajunya, meraba punggung hingga pinggul, tersasar sesekali mengelus pipinya; menambah lekat kecup kami yang hangat. 

Kemudian ia membalas sentuhan itu dengan gerakan yang sama. Aku merasa ia mencari-cari sesuatu di tubuhku, tapi tak pernah berhasil menemukannya. Aku mulai percaya bahwa ia hanya berkeliling dengan sengaja. Merasai kulitku yang dingin dengan jari jemarinya yang hangat. Sesekali sentuhan itu berhenti di pinggangku cukup lama, ketika sepasang bibir kami bertambah mesra. 

"Jangan di sini." bisikku kemudian. Menyadarkan napasnya yang semakin tak teratur.

Ia menatapku, seakan bertanya, "Kenapa?"

Suaraku kembali lirih,

"Kau temanku, dan ini hanyalah mimpi belaka."