Wednesday, June 6, 2018

Untuk Kekasihku

Yang tersayang, Kekasihku..

Kekasih yang selalu kucintai, yang maha memiliki hati ini.. Untuk hari ini, dan di sisa-sisa hari yang sepi.

Apa kabarmu? Selalu saya doakan agar selalu baik-baik saja. Saya tahu—saya selalu mendoakan untukmu—bahwa kau sekarang berbahagia. Insya Allah kau lebih bahagia di sana, di dekat Sang Maha. 

Tahukah, Kekasih, rindu ini rasanya menumpuk dari hari ke hari, dan saya selalu tidak tahu bagaimana cara meringankannya. Maka ketika rindu itu terasa sangat memberatkan, saya hanya bisa mengirimimu doa. Doa-doa yang saya harap bisa menyentuhmu di sana, tanpa memberatkan kepergianmu dengan air mataku yang penuh dosa. Dari dulu, sampai detik ini, saya masih memiliki rindu untukmu yang selalu sama. 

Rindu yang begitu dalam. Terkadang menyesak. Namun saya selalu gagal untuk menyatakannya terang-terangan. Tapi saya tahu Tuhan lebih mengerti perasaan saya untukmu. Dan saya juga tahu, betapa Tuhan menyayangimu sebab kau orang yang penuh dengan kebaikan. Saya tahu, cinta dan kasih sayang saya tidak ada apa-apanya dibandingkan berkah kasih sayang yang telah Tuhan limpahkan kepadamu dan di dalam hidupmu. Sementara itu, kebahagiaan yang telah Tuhan berikan kepada saya sungguh tak terhitung kala kebahagiaan itu datangnya melalui dirimu—ketika dulu kau masih ada di dunia ini.

Kekasih, bolehkah kujadikan kau sebagai kekasihku selalu? Sebab tak kutahu, harus kucintai lelaki mana lagi dengan cinta sehebat ini. Cinta yang tak pernah mengenal kata lelah, meski kita telah diuji berkali-kali, bertahun-tahun, dengan segala cobaan yang menerpa. Dengan jarak, dengan waktu, dan kini dengan dunia yang berbeda. Ketulusan cinta ini, Kekasih, tak akan pernah kubagi dengan siapa pun sebab hanya kepadamulah akan kujaga kesetiaan sepenuh rela. Kau lelaki terhebat yang pernah ada di hidupku, dan akan selalu menjadi lelaki terhebat sampai matiku. Saya tahu itu, karena tak ada yang lain selainmu. 

Saya mencintaimu.

Ingatkah kau bahwa selalu kukatakan itu sebelum kita mengakhiri percakapan? Dan tahukah kau mengapa tak pernah ingin kulewatkan kesempatan menyatakan cintaku di setiap kita selesai berbalas pesan? 

Hari ini, dengan hati tenang, saya ingin menuliskannya—menjelaskan cinta yang selama ini mengalir tenang di sela-sela nadi saya. Bahwa setiap pernyataan cinta yang saya ucapkan kepadamu, sesungguhnya adalah ketakutan terbesarku. Setelah saya tahu jantungmu tak lagi sehat, saya tak berani menerima kenyataan. Saya ketakutan dan sama sekali tak ingin memikirkan hal-hal paling buruk yang bisa terjadi di dunia ini—kehilanganmu. Saya tak pernah berniat membayangkan kepergianmu, tetapi saya harus bisa lebih ikhlas menerima kenyataan bahwa semua manusia pada akhirnya akan berakhir di suatu waktu. Kala itu, saya tak peduli jika saya yang lebih dulu harus pergi, tetapi setidaknya saya harus menyiapkan diri agar tidak menjadi terlalu gila bila suatu hari kau mendahuluiku, karena kondisi jantungmu yang hanya 30% bekerja. 

Setengah mati saya ketakutan di kali pertama saya mengetahui kabar itu. Seremuk-remuknya perasaan saya membayangkan hal yang paling tak ingin saya lalui. Tetapi saya selalu dan selalu berusaha untuk menerima takdir dari Tuhan. Karena itu, di setiap akhir percakapan, saya selalu mengungkapkan perasaan saya kepadamu. Saya mencintaimu. Mencintaimu dengan seluruh darah yang ada pada saya. Darah yang mengalir sebab darahmu. 

Setiap hari, saya ingin selalu cukup mencintaimu. 

Meski nyatanya, hari yang tak pernah ingin saya terima itu menjadi kenyataan. Ia datang seakan tak memberi saya kesempatan untuk bernapas. Ia datang dengan tiba-tiba, tanpa mengetuk, dan seolah menghajar saya bertubi-tubi dengan segala kesakitan yang tak pernah saya rasakan di dunia ini. Hari ketika kau pergi, tanpa meninggalkan salam perpisahan sama sekali. 

Satu hal yang pada saat itu saya ucapkan ketika mendengar kabar pahit tentangmu; Tidak mungkin. 

Kau pergi sungguh terlalu cepat, Kekasih. Cinta yang kurawat dengan hati-hati seketika terbakar di dalam api. Perpisahan terasa begitu menyakitkan dan membakar seluruh tubuh saya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Perpisahan yang tak akan pernah saya inginkan, meski saya mempersiapkan diri dari jauh-jauh hari. Sebab karena perpisahan itu, sekali pun tak akan saya dengar lagi balasanmu mengatakan: saya mencintaimu juga, anakku..

Kecuali jika kau sudi menungguku di surga nanti. 


Kekasih..
Kekasih..
Kekasih..

Sungguh di hatiku hanya penuh denganmu.
Sungguh tak pernah ada yang hidup di hatiku, cinta yang separah ini kecuali hanya karenamu seorang.
Sungguh saya mencintaimu, betul-betul mencintaimu, hingga tak kutahu lagi harus kukatakan apa agar mampu kunyatakan seluruh perasaanku.
Sebab hanya cintalah.
Cinta yang menjadikan saya seperti hari ini.
Cinta yang seumur hidupku mengendap di dalam diri, untukmu. Untukmu. Hanya untukmu.

Pak..

Hanya untukmu..

Cintaku..

Baik-baik di sana, Pak.. 
Kau masih kekasihku, dan selalu kekasihku..


Anak pertamamu,
Ivanasha Adani Prasetianti. 


Thursday, April 12, 2018

Hujan di Punggungmu


Selalu ada kau di tengah-tengah hujan yang jatuh. Menjadi suhu dingin yang mengingatkanku pada hari ketika kau menyatakan segalanya. Ketika kau bilang bahwa ada perasaan yang tidak bisa berbohong di dalam dirimu, yang menginginkan aku begitu hebatnya.

Aku tidak percaya.

Tentu aku tidak percaya kata-katamu. Kau paling tahu, bagaimana aku sudah lelah dengan cinta, sebab aku bosan berkali-kali dikecewakannya.

“Tetapi aku tidak akan pernah mengecewakanmu.” katamu waktu itu ketika mendengar penolakanku.

Maaf. Aku tetap belum bisa percaya. Pun aku sudah terlalu nyaman menjadi temanmu. Tidakkah cukup kita menjadi teman baik saja? Lagipula, ke mana-mana kita selalu bersama.

“Kau harus mengerti betapa aku tidak ingin terikat.” aku menjawab sambil menatap matamu yang menyiratkan kesedihan. Hatiku sebetulnya tidak tega, tapi aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Lagipula, mengapa kau rumitkan kita dengan sesuatu yang egois?

Perdebatan pun terjadi di antara kita waktu itu, di beranda, disaksikan dua gelas teh hangat, dan hujan yang jatuh tepat sebelum matahari terbenam. Kau percaya tidak akan pernah menyakiti hatiku, sementara aku percaya bahwa semua laki-laki selalu mengatakan hal yang sama. Aku tidak ingin kehilanganmu, tentu saja. Tetapi aku merasa kita sudah cukup sebagai teman.

Kau tidak bisa menembus dinding yang kubangun. Aku menangkap sinar di matamu sudah perlahan menghilang. Ketika itu, kau pun pulang tanpa menunggu hujan berhenti. Meski rumahmu bersebelahan dengan rumahku, tentu aku khawatir melihat punggungmu yang waktu itu basah terkena hujan.

Aku sudah mematahkan hatimu.

Tetapi, mengapa justru aku yang berantakan?

Saturday, April 7, 2018

Siapa yang Berengsek?


Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana cara untuk melalui ini semua. Aku cape. Pacarku abusive banget. Kalau aku melakukan hal salah sedikit saja, aku digampar. Kalau aku tidak menuruti mau dia, aku dikatain monyet. Kadang-kadang anjing. Kadang-kadang babi. Apa saja bisa keluar dari mulutnya yang kayak kebun binatang itu. Aku benci sama dia. Tapi sialnya, aku butuh dia. Aku tidak bisa membayangkan hidupku harus bagaimana tanpa dia.

Kedua orang tuaku sudah tidak ada, dan sekarang aku tinggal di rumah tanteku. Dia orangnya galak dan selalu marah-marah setiap aku sedang di rumah. Apa saja bisa jadi alasannya untuk marah. Makanya, pacarku semacam pelarian dari kepusinganku berada di rumah itu. Kalau tidak ada dia, siapa yang menemani aku?

Teman-temanku sudah hilang semuanya. Tira (ini bukan nama aslinya), sahabat aku dari SMA yang aku kira baiknya seperti malaikat, tahunya di belakangku dia membicarakan hal-hal buruk tentangku. Dia bilang hidupku berantakan. Aku merokok, minum alkohol, dan ikut judi setiap main di rumah Ruben. Padahal, aku cuma main kartu waktu itu. Bukan judi. Aku tidak mengerti kenapa si Tira mulutnya bisa sesakit ini. Sejak saat itu, aku tidak mau lagi menghubungi Tira. Aku jadi tahu makna sesungguhnya kalimat “your best friend could be your worst enemy”.

Dan hal yang paling tidak bisa aku hadapi kali ini adalah: Ruben. Sialan orang itu. Berengsek. Bajingan. Bedebah. Aku benci setengah mati sama dia. Dia adalah ujung dari segala masalah di hidupku. Di perut aku sekarang ada janin orang gila itu. Hasil dari kecanduannya dengan alkohol, ketika sialnya waktu itu di rumah dia sedang sepi karena anak-anak yang lain sudah pulang duluan. Aku dan dia sama-sama mabuk dan tidak tahu lagi apa yang terjadi. Berengseknya lagi, si Ruben pura-pura tidak tahu setelah kukasih tahu ke dia kalau aku hamil. Dan sekarang dia sudah seminggu tidak bisa kuhubungi. Setiap aku ke rumahnya, pasti orang di rumahnya bilang kalau dia sedang pergi. Benar-benar berengsek.

Sekarang, harapan terakhirku adalah pacarku. Semoga saja dia mau bertanggungjawab kalau aku bilang ini anaknya.



_______

White Paper Flash Fiction writing project, day 2. "Berengsek"