Saturday, November 2, 2019

Tutup

Memaknai lembayung langit itu tak semudah menutup jendela, mengunci pintu, melupakan diri di dalam balutan selimut hangat, ketika cuaca pun sedang tidak cukup baik untuk ditebak. Sempat kudengar pagar di luar menutup dirinya dan memberiku kesempatan untuk menikmati sunyi ini tanpa sesiapa berpura-pura ada.

Aku tidak peduli lagi akan bagaimana warna langit esok hari. Perlahan kubenci apa yang ada di luar sana, karena pengharapanku mulai tak memudar juga. Setelah lelah membuka lengan untuk menyambut kedatangan; tak satu pun kudapat selain kekosongan, aku memutuskan bahwa sebaik-baiknya kesendirian ialah ketika aku memeluk diri sendiri. 

-

jendela mulai bosan melihat pintu
terbuka tanpa ada yang bertamu.
beranda menitip kunci,
jagalah baik-baik setelah ini.
pagar menutup lagi.
ia merawat sepi.

tak butuh sesiapa untuk ramai.
masih akan ada hujan November
dengan rintiknya tersuguh
menyeka halaman-halaman jauh.

bolehlah, hari ini, seterusnya,
kami berbahagia tanpa siapa-siapa.
hanya perlu sunyi dan semesta
--saja.
  
                  selamat tinggal.

Friday, November 1, 2019

November, November..

Halo, November!

Saya memulai bulan ini dengan menantang diri sendiri untuk menulis setiap hari selama bulan November dan mengisi blog yang tahun ini sepi postingan. Dengan harapan, saya bisa lebih banyak menulis dan menulis di sisa akhir tahun ini. 

Tapi, sayang sekali, lagi-lagi saya bingung mau menulis apa. Ini saja tulisan tidak terencana. Di detik ini, saya sudah beberapa kali menghapus paragraf-paragraf yang sempat tertuliskan. Entahlah, seringnya saya begitu. Apalagi ketika tidak tahu apa yang akan dituliskan.

Duh, untuk menyatakan sesuatu saja saya bingung.
Bingung apa yang ingin disampaikan.

Baiklah, daripada saya bingungnya kepanjangan, lebih baik saya coba menulis puisi saja. Hitung-hitung demi menyambut bulan kesayangan dengan cara saya sendiri.. 



November, November,

pada hujanmu aku melaju
di tengah samar-sama kaca
kutemukan hatiku masih sama
berisikan satu nama

apa kau bisa membaca siapa?
sepulangnya tubuh di rumah
masih saja kupikirkan dirinya
apa kau bisa tahu mengapa?

sayang sekali hujanmu telah berhenti
ketika sempurna air mata sembunyi
pada jalan lengang tak lagi berani
kutebah sepi dengan bernyanyi

November, November,

ajari aku sekali saja berbahagia
tanpa harus tersiksa mencintainya


Tuesday, January 15, 2019

Pemuja


di kejauhan kurapal namamu dengan setia
sepenuh harap sekali ini kau berpaling mata
dan selamatkan aku dari jatuh yang tiba-tiba
tak bisa kuhindar selain dengan berdoa

tahukah kau perihal hujan yang pernah jatuh
tanpa mengenal waktu di halaman rumahmu?
mengetuk jendela dan mengingatkanmu soal rindu
atau cinta, atau damba, atau apa pun tapi bukan aku

ingatkah kau pada jalan lengang kala malam?
menafsirkan mimpi dengan gigil yang merajam
kala kau merasa entah akan ke mana bermakam
sementara dadaku masih menunggu dalam kelam

tak kau tahu selalu ada aku dan hanya aku di sini
kala sekujur semesta menawarkanmu puisi
namun tak ada yang berhasil menunjukkanmu arti sepi
sebab hanya aku, tuan ditelan sunyinya sendiri

pemuja yang sungguh lama tersesat
mencintaimu tanpa berani mendekat