Monday, February 23, 2015

bagaimanakah cara seseorang yang tidak punya apa-apa selain hatinya, menjagamu hanya dengan sejumlah cinta?


Jika aku bisa menulis puisi-puisi yang begitu indah untuk menjaga hatimu, maka percayalah, setidaknya satu hari akan kutuliskan untukmu satu puisi--setiap hari, tanpa berhenti. Tapi sayang sekali, tidak ada satupun puisi yang bisa aku tulis yang pantas kuberikan kepadamu. Tidak satupun puisi mampu menjadi pantas dalam menyatakan betapa aku mencintaimu; betapa aku ingin menjagamu hanya untukku. 

Ingin sekali rasanya aku bisa memberikanmu sesuatu selain hatiku. Mungkin hal-hal yang bisa membuatmu berbahagia di sisa usia. Sayang sekali, aku hanya bisa memberimu hatiku yang banyak luka ini dan kerinduan-kerinduan yang begitu cengeng mencintai namamu. 

Tetapi kau tahu, Sayang, 
aku mulai memikirkan jalan terbaik untuk mencintaimu sangat panjang ialah dengan menyerahkan segala perasaanku kepada doa-doa dan waktu. Dengan itu, aku ingin pembuktian yang melebihi segala harta. Seiring jalan waktu, ingin kutunjukkan kepadamu betapa tua aku menjaga cinta ini. Dan semakin lama usia yang kuhabisi, semakin baik pula doa-doaku mencintaimu; meminta agar kita terjaga selama-lama waktu. 

Maka aku tak perlu puisi, atau sejuta kata-kata manis yang berusaha menandingi senyumanmu. Aku tak perlu itu. Mencintaimu, aku hanya perlu banyak-banyak berdoa, dan memeluk detik-detik yang berjalan.

Sebab semakin lama waktu,
Semakin baik aku mengenalmu,
Semakin dalam pula aku mencintaimu. 

Dan tak kujanjikan kau apa-apa
Selain hatiku.

Thursday, February 19, 2015

Bagaimana Aku Menulis

aku belajar menulis puisi dari kehilangan
dan kehilangan juga mengajariku
untuk mengenalmu lebih jauh

malam itu.
ketika umurku masih terlalu muda untuk mengenal kehilangan
aku duduk di pangkuanmu
"hendak ke mana?" tanyaku kala kulihat kau merapikan bajumu
mengurasnya dari lemayi kayu
"hanya sebentar, aku ada urusan di luar kota." jawabmu
dengan sebuah senyuman dan sepasang mata yang tak mampu kubaca

dan paginya,
kusadari kau tidak akan benar-benar kembali

kemudian aku menulis puisi
demi menghidupi sosokmu di sisiku
tak peduli seberapa sakit mata ini
ikut menulis dengan tinta kesedihan
dan isak penasaran

apa salahku?
bukankah aku gadis kecil yang tak bisa kau tinggalkan?
bukankah kau berjanji untuk kembali?

dan aku menulis puisi
lagi dan lagi
untuk menjawab pertanyaanku sendiri:
bahwa punggungmulah malam itu
satu-satunya memori yang menjawab sepi-sepi

kemudian tiba saatnya
kita bertemu dan menyatakan rindu
ketika aku sudah cukup dewasa
untuk memahamimu

bahwa kepergianmu yang menahun itu
untuk menghadiahkan aku
seorang Ayah,
yang lebih siap kucintai.

dan kumohon kau, untuk jangan pergi lagi. 

Friday, February 13, 2015

Kepadamu, Aku Kehabisan Kata-Kata.

jujur saja, ketika aku menulis ini, adalah sebab aku kehabisan kata-kata dalam membahasakan kerinduanku. terlalu lama aku mencari kata mana yang tepat untuk jatuh kutulis, dan membuatku lega dari merindukanmu tanpa menangis. tapi tidak bisa. tidak satu hurufpun keluar dari kepalaku. tidak satu hurufpun kuanggap pantas untuk menjadi rindu yang kupuisikan, atau kuindahkan. 

rindu ini, ternyata tidak indah. sama sekali tidak indah. aku tidak menemukan perpaduan apapun di dalamnya yang membuat keindahan itu ada. aku merindukanmu, dan aku tidak bahagia karena itu. aku justru marah. amat marah pada diriku sendiri; pada kepalaku. sebab di sana, tak kutemukan diriku yang biasanya. tidak kutemukan apapun dalam kepalaku yang cukup baik untuk kubahasakan dan kukatakan kepadamu. bahkan "aku rindu kamu" serasa tak lagi cukup hebat untuk mengutarakan perasaanku yang sekarang. kerinduanku lebih egois dari tiga kata itu. 

aku ingin kamu.
dalam sepasang lenganku.

ketahuilah, tulisan ini tertulis sebab aku tak tahu harus menulis apa. aku menangis di dalam setiap huruf di tulisan ini. aku begitu cengeng. merindukanmu aku sakit. begitu sakit sehingga aku takut menjadi begitu egois. maka aku marah pada diriku. berharap untuk tidak merindukanmu keterlaluan. sebab tak kutemukan satupun jalan untuk bebas dari kerinduan selain menulis dan menangis. entah menulis apa! ini bukan puisi, ini bukan sebuah cerita, ini hanya perasaanku; perasaan yang kacau merindukanmu. 

percayalah, sayang, kali ini hanya Tuhan dan kata-kata di kepalaku yang mengetahui betapa hebat aku menginginkan kita kembali berbagi pelukan; betapa dalam aku merindukanmu, mencintaimu. tapi ketika kau habis di ujung tulisan ini, kuharap kau ialah satu dari sekian pasang mata yang menjadi tahu akan perasaanku. kuharap kau ialah kau yang kuharap membalas kerinduanku yang begitu menyakitkan ini.

kerinduanku mahaduka.
kepadamu, aku kehilangan kata-kata.
aku begitu lemah dalam merindukanmu.


sebentar lagi aku gila.