Thursday, August 27, 2015

hang on!



tidak ada yang lebih menyenangkan dari saling memiliki.
betapa bahagia pula aku, merasa memiliki sekaligus dimilikimu.
betapa bahagianya, kau mengingatkan aku bahwa hal-hal mesra itu nyata.

tidak ada yang lebih membahagiakan dari mencintaimu.
aku ingin berpegangan selalu denganmu, hingga waktu tak mengizinkannya lagi.
aku ingin berpegangan selalu denganmu,
hingga usia tak mampu menghitung hari. 

aku. cinta. mu. 

für jetzt ist es alles, was ich sagen will.

x. nad.

Sunday, August 16, 2015

Kamu Harus Tahu.

Entah siapa saja yang tahu arti patah. Baik hati, ataupun mimpi. Kecewa, semuanya bisa ditanggung perasaan. Tapi setiap orang tetap tidak tahu sampai kapan mampu bertahan.

Di sini aku memberitahumu. Aku terbiasa sakit. Perasaanku terlalu sering patah. Tapi aku cuma bisa pasrah. 

Di sini aku mau kamu tahu, aku sudah mencintaimu. Mencintaimu dengan segala patahku. 

Aku masih belum tahu sampai kapan aku selemah ini; ketakutan akan kehilangan, ketakutan akan patah sekali lagi—atau berkali-kali. 

Aku sekarang memberitahumu, aku sedang bertaruh dengan hatiku yang rusak ini. Aku ingin mencintaimu lebih dalam. Jauh lebih dalam dari yang pernah kamu bayangkan. Meski rusak, hatiku tetap ingin menyimpanmu begitu tamak. 

Kamu, orang yang sedang aku cintai, harus tahu, betapa... aku takut kehilanganmu meski aku hapal dan tahu rasanya sakit akan kehilangan. Aku hanya tidak mau itu kamu, hal yang harus hilang dari aku. Sungguh, aku tidak mau. 

Sekali lagi kamu harus tahu,
seberapapun rusak hatiku ini, aku tetap ingin mencintaimu tanpa berhenti. 

Saturday, August 15, 2015

Membuat Cinta

dalam tubuhmu
aku menjelma ciuman-ciuman lupa ingatan
yang kehilangan akal
dan merasa kekal

ketika malam sudah siap menutup matanya
puisi telah rebah tanpa pakaian
dan kita,
sepasang resah yang menyembunyikan desah

katakan padaku, sayang,
seberapa lama kau butuh waktu
untuk menjelajahi tubuhku? 
sebab yang kuminta hanya satu:
tinggallah sebagai kecupan yang tak mengenal waktu.

malam ini kau 
ialah kunang-kunang 
yang hanya cahaya
ketika kupadamkan lampuku

terbanglah di atas dadaku,
sementara gelap semakin mencintai kita 
tanpa bertanya apa-apa;
ia diam, mendengarkan kita mengerang dalam

malam ini kau
ialah segala hal yang kucintai sepenuh pasrah;
layarkanlah tubuh ini,
sejauh-jauh mabuk yang kau kehendaki!