Sunday, December 25, 2016

Pagi dan Kopi

Andai pagi adalah ibu, mungkin setiap hari aku dimarahi. Terlalu dini, atau terlalu larut aku bertemu ibu, aku selalu kena marah. Bukan maksudku melupakan cara rebah, memejamkan mata, dan bermimpi—padahal aku paling senang bermimpi. Tetapi melarikan diri dari pikiran-pikiran panjang tidak pernah mudah. Mungkin jika terlalu lelah, aku menyerah. Tetapi lagi-lagi kubuat ibu marah. 

Jika segelas kopi adalah ayah, jangan tanya, mungkin ia tak akan rela kukecup saat kumulai hari dengan sepasang mata letih. Kurasa, aku memang belum cukup tua untuk meminum kopi, seperti kata ayah dulu saat aku masih kecil. Tetapi ini usia, milik waktu, dan tak pernah bisa kutakar lajunya. Lalu siapakah yang bisa mengembalikan semangatku jika bukan ayah? Aku ingin selalu menjadi anak kecil agar tak butuh minuman kafein dan tetap dipangku ayah sebelum berangkat sekolah. Aku bahkan masih ingat betapa ringan langkahku menuntut ilmu, setelah kucium tangan ayahku. Semangat macam itu yang kini paling aku rindu. 

Tetapi entah, apalah arti andai-andai. Tetap tak kutemukan mereka di pagi dan di segelas kopi. Tanganku mulai dingin karena musim, dan gelas yang kupegang tak hangat lagi. Atau tak pernah cukup hangat bagiku. Aku sungguh tidak tahu.

Apa kabar ayah dan ibu? 

Monday, December 12, 2016

Lagu-Lagu Sedih Lang Leav

terjemahan bebas puisi Lang Leav
_____

Dulu kala ada seorang anak laki-laki yang tidak bisa berbicara tetapi ia memiliki sebuah kotak musik yang menyimpan setiap lagu seluruh dunia. Suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis yang tidak pernah mendengar satu pun nada seumur hidup dan lalu ia memainkan untuk gadis itu lagu kesukaannya. Ia menyaksikan wajah gadis itu berseri dengan rasa penasaran ketika musik memenuhi langit dan puisi lirik-lirik menggugah si gadis dengan sesuatu yang tak pernah gadis itu rasakan sebelumnya. 

Ia akan memainkan lagu-lagunya untuk si gadis hari demi hari dan gadis itu akan duduk dengan tenang di sebelahnya--seperti tidak pernah peduli jika ia hanya bisa berbicara dengan gadis itu melalui lagu-lagu saja. Si gadis mencintai semua yang dimainkannya, tetapi dari semua--gadis itu paling mencintai lagu-lagu sedih. Lalu ia mulai memainkan lagu-lagu sedih lagi dan lagi hingga akhirnya, lagu-lagu sedih adalah segala yang gadis itu dengar. 

Suatu hari, ia menyadari sudah lama sejak senyum terakhir gadis itu. Ketika ia menanyakan gadis itu alasannya, si gadis menggenggam tangannya dan mencium kedua tangan itu hangat. Gadis itu berterima kasih kepadanya atas hadiah musik dan puisi tetapi lebih dari semua itu-- atas kesedihan yang ditunjukkan kepada gadis itu sebab si gadis tidak pernah mengetahui hal-hal seperti itu sebelum mengenalnya.  Tetapi inilah saatnya bagi gadis itu untuk pergi jauh-- mencari seseorang yang mampu menunjukkan kebahagiaan. 

....................................................... 

Ingatkah kau pada lagu yang diputar di malam kita bertemu?
Tidak, tetapi aku mengingat setiap lagu yang kudengar sejak kau pergi.


(terjemahan salah satu puisi dari buku Love & Misadventure karya Lang Leav yang berjudul asli Sad Song ini merupakan upaya pertama saya belajar menerjemahkan puisi berbahasa asing. semoga berkenan.)

Monday, November 28, 2016

Wörter

Kata-kata bisa saja suatu hari menjadi senjata. Aku, yang tak bisa berhenti mencintai kata-kata, seringkali rela dilubangi dadanya dengan susunan huruf yang menyakitkan. Kata-kata orang lain terkadang begitu kucintai ketika keindahannya membutakan perasaan, tetapi tak jarang orang lain yang mengetahui betapa aku mencintai kata-kata, justru menggunakannya sebagai senjata paling hebat untuk membunuhku berkali-kali. 

Tetapi aku tentu tak lantas mati. Darah yang mengalir dan membakar di dalam perasaanku seperti tak pernah habis ketika kata-kata kubaca begitu tajamnya. Aku rela jika harus berulang kali sekarat karena kata-kata, karena aku percaya kata-katalah yang mengajarkanku cara berbahagia. Dan dari kebahagiaan, aku bisa mengenal rasa sakit. 

Namun, bisakah kau mengajarkanku cara mengabaikan kesedihan? Aku betul rela disakiti dengan kata-kata, tetapi aku tak bisa menghindari kesedihan yang menyelimuti tubuhku setelah membacanya. Bagiku, tidak ada musim yang lebih dingin dari kesedihan, dan aku tak mampu berlama-lama menggigil bersedih, menjatuhkan air mata yang perih. Aku betul rela hatiku sakit, tetapi aku tidak ingin lama-lama sesenggukan menangis tanpa sepasang telinga pun yang mendengar. Tahukah kau?Betapa kesedihan dan kesepian itu berteman akrab. Tetapi, sebelum menjauh dari kesepian itu sendiri, kuharap kau mampu membuat air mataku berhenti. Atau setidaknya, kenalkan aku dengan kemarau bagi gerimis panjang di sepasang mataku. Kutahu kau memilikinya, kutahu hangatnya selalu bernapas di antara jari-jemarimu. 

Jika saja tak kucintai kata-kata begini hebatnya, mungkin aku tak perlu menangis ketika mencintaimu.