Bulan di atas kepala menyaksikanmu menari-nari di tengah taman. Maukah kau katakan kepadaku apa yang membuatmu senang? Kau tetap menari, sesekali melihatku sambil tersenyum. Aku hanya bisa membalas senyumanmu sambil berhati-hati mengawasi agar kau tidak tersandung. Jangan terjatuh, jangan terluka lututmu. Bersenanglah sebisanya, setelah itu kutunggu kau bercerita.
Kau tetap tertawa. Lengkung bibirmu tak pernah gagal mencuri napasku. Satu dua kali kau menggerak-gerakkan jari telunjukmu seakan memanggil aku untuk turut menari. Di bawah bulan, di tengah taman, dahan-dahan pohon terayun oleh angin mengikutimu. Aku ingin bertanya sekali lagi, tetapi kutahu tempatku. Jika tak ada yang ingin kau bagi, tak perlu aku memaksakan diri. Kau sedang bersenang-senang, biar aku menikmati wajahmu yang semakin terang, oleh bintang, oleh lampu, terbias oleh cahaya apapun di malam itu.
"Aku jatuh cinta."
Singkatmu.
Herannya, aku sudah tahu. Hanya sejujurnya kuharap bukan itu.
"Baguslah. Pasti kau bahagia." Tentu saja.
Aku tersenyum. Senyum yang menyembunyikan kelu. Ada yang aneh, jujur saja, seperti ada suatu sudut yang terbakar di dalam hatiku. Apakah itu? Aku belum tahu. Yang kutahu hanya, jatuhmu bukan ke arahku.
Kau masih menari. Tarianmu seperti memuji bulan. Kini langit tahu mengapa kau menari, dan langit semakin lumat mengiringi tanganmu yang merentang seakan-akan bersayap. Ditiupnya angin agar kau merasa terangkat lebih tinggi. Kau melangkah berputar-putar dengan gerak jemari menyapa pohon-pohon di antara bayang-bayang. Hari ini kau memesona, hari ini aku—masih—terpesona. Semesta mendukungmu,
Semesta meninggalkanku.