Thursday, March 30, 2017

Ohne Mond Tanze Ich Alleine

Bulan di atas kepala menyaksikanmu menari-nari di tengah taman. Maukah kau katakan kepadaku apa yang membuatmu senang? Kau tetap menari, sesekali melihatku sambil tersenyum. Aku hanya bisa membalas senyumanmu sambil berhati-hati mengawasi agar kau tidak tersandung. Jangan terjatuh, jangan terluka lututmu. Bersenanglah sebisanya, setelah itu kutunggu kau bercerita.

Kau tetap tertawa. Lengkung bibirmu tak pernah gagal mencuri napasku. Satu dua kali kau menggerak-gerakkan jari telunjukmu seakan memanggil aku untuk turut menari. Di bawah bulan, di tengah taman, dahan-dahan pohon terayun oleh angin mengikutimu. Aku ingin bertanya sekali lagi, tetapi kutahu tempatku. Jika tak ada yang ingin kau bagi, tak perlu aku memaksakan diri. Kau sedang bersenang-senang, biar aku menikmati wajahmu yang semakin terang, oleh bintang, oleh lampu, terbias oleh cahaya apapun di malam itu. 

"Aku jatuh cinta."

Singkatmu.

Herannya, aku sudah tahu. Hanya sejujurnya kuharap bukan itu. 

"Baguslah. Pasti kau bahagia." Tentu saja. 

Aku tersenyum. Senyum yang menyembunyikan kelu. Ada yang aneh, jujur saja, seperti ada suatu sudut yang terbakar di dalam hatiku. Apakah itu? Aku belum tahu. Yang kutahu hanya, jatuhmu bukan ke arahku. 

Kau masih menari. Tarianmu seperti memuji bulan. Kini langit tahu mengapa kau menari, dan langit semakin lumat mengiringi tanganmu yang merentang seakan-akan bersayap. Ditiupnya angin agar kau merasa terangkat lebih tinggi. Kau melangkah berputar-putar dengan gerak jemari menyapa pohon-pohon di antara bayang-bayang. Hari ini kau memesona, hari ini aku—masih—terpesona. Semesta mendukungmu, 

Semesta meninggalkanku.

Wednesday, March 15, 2017

Titik Balik Lagu Cinta

Sumpah!

Baru saja saya sadari betapa tega sebuah lagu dengan lirik yang optimis dan ceria, mampu membuat perih berserakan di rongga-rongga dada. Entah ada angin apa (mungkin angin kabar pernikahannya), saya memutar sebuah lagu yang menyimpan masa lalu yang sadis. Lagu ini dinyanyikan dengan merdu oleh Ten2Five dan berjudul Love Is You. Di dalam lagu itu, saya pernah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. 

Mungkin, lebaynya, jatuh cinta paling jauh selama hidup saya. Kenapa demikian? sebab dengannya, saya serahkan seluruh hati saya mentah-mentah. Saya perjuangkan apa pun, dan saya pasrahkan harapan-harapan saya di tangannya. Sementara ternyata, mencintai sekalah itu bukan berarti memenangkan cinta yang sesungguhnya. Pengharapan berbalik badan dan menjadi senjata yang ingin membunuh tuannya. Jika patah hati adalah luka, dikhianati harapan adalah perih yang abadi. 

Saya ingat beberapa tahun lalu, saat saya berangkat ke Studienkolleg, saya mendengarkan lagu ini sepanjang jalan. Saya tersenyum lalu menitikkan air mata. Betapa bahagia. Betapa perasaan saya diungkap oleh lirik-liriknya. Mengingat lagu ini diberikan oleh dirinya—dia yang kubilang jatuh cinta terjauhku. Pada saat itu, tidak ada lagi yang bisa saya syukuri selain berhasil mengenalnya di dalam hidup saya. Dicintai sehebat itu, siapa yang tak akan percaya? 

Kini lucunya, lagu itu sama sekali tidak terdengar membahagiakan. Lirik-lirik yang dialunkan mengingatkan saya pada perih yang masih sama. Tidak berubah, bahkan selalu basah. Sungguh bukan maksud belum melupakan, hanya saja begitulah luka pengharapan bekerja. Kata-kata yang dulu renjana, sekarang tak lain hanya janji yang terkoyak teringkari. Perasaan yang dulu kusalutkan, sekarang tak lain kenangan yang sepanjang waktu kusesalkan.

Maafkan saya, Ten2Five. Lagumu indah, tetapi lukaku menolak lupa.

Friday, March 10, 2017

Schreib Mir So Bald Wie Möglich


bisakah kau tuliskan aku sesuatu?

aku ingin larut dalam huruf-hurufmu, dipeluk kalimat-kalimat yang hangat. dan biarkan aku tenggelam tanpa kau selamatkan. karena aku akan jatuh sedalam yang tak ingin kukira, ditemani titik dan koma. kau tak perlu bersusah payah merangkai hal-hal yang indah. cukup perasaanmu saja yang ingin kubaca. maka tuliskanlah, apa yang tengah kau rasakan. jika itu rindu, katakanlah apa yang membuatmu mendamba. jika itu cinta, beritahu aku siapa yang membuat hatimu berdebar mesra. 

dengan membaca, aku ingin bertualang mengenalimu. tak apa jika tersesat. aku justru akan semakin jauh menyusurinya hingga barangkali mampu kutemukan degup jantungmu. kau boleh juga menulis tanpa menghitung jumlah kata. akan dengan rela aku menikmatinya sepanjang alinea-alinea. aku percaya kau memiliki bahasa yang mampu membuatku mengabaikan waktu. 

tetapi sebetulnya, maukah kau menuliskan aku? 

jika tidak mau pun tak mengapa. biarkan aku yang menulis untukmu. katakan saja apa yang ingin kaubaca dariku. barangkali puisi? aku punya lebih dari seribu kata untuk kau jelajahi, bahkan beberapa ratus di antaranya telah kau ketahui. tak akan bosan kutulis lebih banyak lagi. mungkin untuk menemanimu menyesap kopi, mendengarkan bunyi hujan yang jatuh di jalanan, menyambut redup senja di balik jendelamu, atau sekadar pengisi waktu luang. menjadi apa saja bagimu, kata-kata selalu berharap kaubaca hingga titik terakhir. 


bisakah kau tuliskan aku sesuatu?
sebelum kata-kata menjadi egois
dan menulismu tanpa koma
tanpa ingin berjeda

mungkin kau hanya perlu rindu
seperti yang hidup di dadaku
agar kau mengerti
sulitnya jatuh cinta seorang diri

hingga kata tak perlu lagi kaucari
sebab ia menghampirimu
bahkan ketika kau tak ingin
menyatakan perasaan itu