Ternyata saya ini egois. Hati saya terlalu dingin dengan emosi yang seringkali meluap tanpa aba-aba. Segala yang tidak berkenan di hati saya, bisa saja membuatku berubah seketika; menjadi seseorang yang cuek dan tidak peduli dengan apa yang ia katakan. Biasanya saya justru menghilang tiba-tiba dengan berbagai alasan. (Karena jujur saja, berterus terang ketika saya sedang marah bukanlah hal yang mudah kulakukan.)
Yang ada di dalam pikiranku ketika sedang merasakan seperti itu adalah saya ingin membuat orang lain merasakan juga sakit yang saya rasakan. Sungguh, betapa egois. Dan saya sadari keegoisan ini setelah emosi saya sudah mereda. Sementara ketika saya berada di fase seperti itu, saya tidak bisa berpikir jernih. Saya memang selalu menyesal setelahnya, tapi tak bisa pula berbuat apa-apa. Saya belum bisa menjadi seseorang yang menyatakan segalanya secara langsung, ketika sedang merasa berat seperti itu. Emosi seperti membutakan hatiku, dan kepala saya mengutuk habis-habisan tingkahku yang kekanakan seperti itu.
Sebetulnya, menghadapi saya yang seperti itu mudah saja; kau hanya tak perlu memedulikanku. Karena saya yang seperti itu akan segera berubah kembali menjadi saya yang seperti biasanya; manja dan penuh kasih. Saya akan melupakan alasan mengapa hati saya bisa nyeri seperti itu, semata-mata karena setelahnya pun saya menyadari kalau permasalahan selalu datang dari saya yang terlalu mudah tersulut. Namun saya tahu, dampak buruk dari solusi seperti ini adalah saya jadi sulit memaafkan.
Tapi kau berbeda. Kau sangat peduli kepadaku. Kau kerap bertanya-tanya ketika ada yang berubah dari diriku; barangkali, sehebat apa pun saya menghindar, kau terlalu peka untuk tidak menyadarinya. Sebetulnya hal seperti ini adalah hal yang baru bagiku. Menghadapi orang sepeduli dirimu sebelumnya tidak pernah kurasakan. Saya yakin, saya terlalu biasa diabaikan. Saya tidak memikirkan ada orang lain yang bisa memikirkan sikapku yang berubah-ubah seperti itu, atau bahkan peduli dengan apa yang kutuliskan. Mengerti kalau sesuatu sedang bergejolak di dalam hatiku. Dan kaulah itu, seseorang yang menyayangiku sehebat itu..
Pelajaran yang saya dapatkan ketika bersamamu adalah bahwa kau sebetulnya teramat peduli dengan apa yang kurasakan. Kau selalu memintaku untuk berterus terang bila ada sesuatu yang salah. Kau kerap mengajarkanku untuk bisa menghadapi segalanya dengan kepala dingin, saat itu juga, ketika permasalahan sedang terjadi. Bukan menghindar, menghilang, dan menulis sesuatu dengan sarkastis. (Ya, darimu pula saya jadi tahu kalau saya sarkastis. Mungkin itu akibat dari kesulitan saya mengungkapkan apa yang saya rasakan.)
Kau tahu, sebelum dirimu, tidak ada yang menaruh perhatian besar pada isi dari apa yang kutulisi. Jadi, saya pun seringnya asyik sendiri dengan dunia saya dan tulisan-tulisan saya. Bilapun ada yang bertanya, mereka bukan peduli tentang apa yang terjadi di balik tulisan itu, melainkan hanya menilai gaya tulisanku. Jika saya sedang menulis hal sendu, mereka akan bilang "galau, ya.." dan jika saya menulis sesuatu yang bahagia, mereka akan bilang "bagus!". Tidak ada yang betul-betul peduli, lantas bertanya "Mengapa kau menulis seperti itu?"
Tidak ada yang seperti dirimu.
Maka di detik ini pun saya menerima pelajaran berharga darimu, Sayang.. Bahwa saya harus mulai mengurangi kejadian-kejadian seperti itu. Saya harus lebih giat lagi belajar untuk menyatakan semuanya secara langsung kepadamu, karena saya sadar, tidak ada yang lebih penting bagimu dari mengetahui dan menyelesaikan semuanya langsung pada saat itu juga, dengan kepala dingin, dan tidak menghindar. Saya akan berupaya untuk memahamimu lebih dalam lagi, mengikuti caramu agar tidak ada salah paham di antara kita sekali lagi.
Saya sadar, kalau saya tidak sedewasa dirimu. Maka saya pun bersyukur karena telah dicintai oleh orang sepertimu. Saya ingin menyerap segala kebaikan yang ada padamu dan belajar untuk menjadi pribadi yang pantas bersanding bersamamu tanpa pernah menyakiti hatimu. Percayalah, tidak pernah ada niatanku untuk menyakitimu. Tidak ada sama sekali. Bahkan jika kupikirkan sekali lagi, saya menyesal telah berbuat seperti itu. Saya betul-betul menyesal, Sayang.
Dan, intinya, hanya ada tiga hal yang ingin saya sampaikan padamu di ujung tulisan yang terlalu panjang ini:
1. Maafkan perbuatakanku.
2. Terima kasih atas hatimu.
3. Ternyata saya teramat mencintaimu.
Pelajaran yang saya dapatkan ketika bersamamu adalah bahwa kau sebetulnya teramat peduli dengan apa yang kurasakan. Kau selalu memintaku untuk berterus terang bila ada sesuatu yang salah. Kau kerap mengajarkanku untuk bisa menghadapi segalanya dengan kepala dingin, saat itu juga, ketika permasalahan sedang terjadi. Bukan menghindar, menghilang, dan menulis sesuatu dengan sarkastis. (Ya, darimu pula saya jadi tahu kalau saya sarkastis. Mungkin itu akibat dari kesulitan saya mengungkapkan apa yang saya rasakan.)
Kau tahu, sebelum dirimu, tidak ada yang menaruh perhatian besar pada isi dari apa yang kutulisi. Jadi, saya pun seringnya asyik sendiri dengan dunia saya dan tulisan-tulisan saya. Bilapun ada yang bertanya, mereka bukan peduli tentang apa yang terjadi di balik tulisan itu, melainkan hanya menilai gaya tulisanku. Jika saya sedang menulis hal sendu, mereka akan bilang "galau, ya.." dan jika saya menulis sesuatu yang bahagia, mereka akan bilang "bagus!". Tidak ada yang betul-betul peduli, lantas bertanya "Mengapa kau menulis seperti itu?"
Tidak ada yang seperti dirimu.
Maka di detik ini pun saya menerima pelajaran berharga darimu, Sayang.. Bahwa saya harus mulai mengurangi kejadian-kejadian seperti itu. Saya harus lebih giat lagi belajar untuk menyatakan semuanya secara langsung kepadamu, karena saya sadar, tidak ada yang lebih penting bagimu dari mengetahui dan menyelesaikan semuanya langsung pada saat itu juga, dengan kepala dingin, dan tidak menghindar. Saya akan berupaya untuk memahamimu lebih dalam lagi, mengikuti caramu agar tidak ada salah paham di antara kita sekali lagi.
Saya sadar, kalau saya tidak sedewasa dirimu. Maka saya pun bersyukur karena telah dicintai oleh orang sepertimu. Saya ingin menyerap segala kebaikan yang ada padamu dan belajar untuk menjadi pribadi yang pantas bersanding bersamamu tanpa pernah menyakiti hatimu. Percayalah, tidak pernah ada niatanku untuk menyakitimu. Tidak ada sama sekali. Bahkan jika kupikirkan sekali lagi, saya menyesal telah berbuat seperti itu. Saya betul-betul menyesal, Sayang.
Dan, intinya, hanya ada tiga hal yang ingin saya sampaikan padamu di ujung tulisan yang terlalu panjang ini:
1. Maafkan perbuatakanku.
2. Terima kasih atas hatimu.
3. Ternyata saya teramat mencintaimu.