Wednesday, September 12, 2018

An

Akhir-akhir ini saya banyak memikirkan perihal kemungkinan-kemungkinan di antara kita. Tentang waktu yang masih saja belum memberikan kepastian, tentang jarak yang terpaut membuat rindu tak sanggup surut, tentang apa pun, yang menyimpan sejuta kemungkinan, atau barangkali kesempatan. Saya rasa, ini adalah perasaan terbaik. Kau tahu mengapa? Karena bersamamu, setiap kemungkinan yang masih terasa mustahil itu seperti kenyataan yang belum saja kita miliki. Sekali lagi, semua hanya perihal waktu.

Saya ingin tahu, apakah di masa depan nanti akan ada sepasang gelas teh hangat, lengkap dengan canda tawa yang kita bagi begitu mesra di beranda? Apakah bibirmu kelak berhasil mendarat di bibirku, atau apakah halus belaimu akan mampu menghapus setiap air mata rindu? Kau tentu tahu, saya ini begitu lemah di hadapan rindu. Bahkan jika berada di hadapanmu, saya bisa saja merasakan rindu yang teramat sangat, hanya karena saya takut sekali kau menjauh. Saya akan merindukanmu melampaui segala batas akal sehat. Karena sekarang saja, saya telah mencintaimu sejadi-jadi bahkan sebelum lengan-lengan kita saling melengkapi. Begitu hebat perasaan ini telah menyimpan namamu di dalamnya. Dan saya sungguh ingin tahu, apakah masa depan akan seindah harapanku?

Kadangkala saya membayangkan bagaimana kita akan berciuman. Mungkinkah hujan akan menjadi saksi bibir kita yang bertautan, atau senjakah yang setia memandangi kita bermesraan? Saya sungguh ingin merasakan hangatmu begitu dekat di pautan lenganku. Saya ingin tahu bagaimana porsi tubuhmu melengkapi lekuk-lekuk tubuhku. Sungguh, rasanya sudah tidak sabar untuk segera bertemu. Melekatkan segala yang sudah terlampau lama terangkai dalam rindu.

Saya rasa, kali ini kita hanya sedang diuji dengan sesuatu yang gemar sekali memberi ujian; waktu dan jarak. Dan bila suatu hari kita mampu mengalahkan ini semua, percayalah, saya akan menghadiahkanmu sebentuk hati dengan cinta yang luar biasa. Saya hanya akan menyebut namamu di dalam setiap doa, dan hanya akan memimpikanmu di sela-sela malam yang menaruh asa. Lengan-lenganku hanya akan mengenal pelukanmu, dan bibirku hanyalah milikmu seorang. Jika kau berkenan mengecupnya, kecuplah setiap pagi setelah kuhidangkan sarapan.

Kekasih,
hati yang sangat kucintai hari ini,
maukah kau berlama-lama mencintaiku?
Menjawab rasa cintaku dengan kesetiaan dan kesabaran sambil kita menjejaki waktu? 

Bila kau bersedia, ketahuilah, bahwa hatimu itu adalah kebahagiaanku
yang paling nyata.