Tiba-tiba telepon genggam saya berdering. Di layarnya, tertera
namamu—lengkap dengan imbuhan -ku yang kububuhkan setelah namamu di
daftar kontak. Namun biasanya, telepon darimu itu masuk karena jarimu
terpeleset menekan fitur call. Saya pun ragu untuk mengangkatnya meski
sudah beberapa saat telepon genggam ini berdering. Tidak seperti biasa; ketika
kamu tidak sengaja meneleponku, belum satu detik pun, dering itu sudah kembali
hilang lagi (terkadang sebetulnya saya berharap kalau kamu betul-betul
meneleponku).
Tapi sepertinya kali ini jarimu tidak terpeleset. Saya menatap
layar dan namamu masih terpampang jelas di sana. Sudah lebih dari 5 detik ia
berdering. Akhirnya, saya yakin kalau kamu memang sedang meneleponku, dan saya
harus segera mengangkatnya.
Ini saat yang lama saya tunggu.
Saya pun menyiapkan hati saya yang berdebar hebat, sebelum
menekan tombol angkat.
Setelah terangkat, saya memutuskan untuk tidak berkata apa-apa
dulu dalam beberapa saat. Sekadar memastikan lagi kalau-kalau sebetulnya telepon
ini masih salah tersambung. Tapi, selama diam itu, hati saya bergemuruh kian
hebat. Tidak karuan. Grogi. Salah tingkah. Entahlah kenapa? Saya lemah
sekali.
Suaramu pun mulai terdengar. Kata sapa "hai" sederhana keluar dari speaker teleponku berupa suaramu.
Oh. Tuhan. Suara itu! Suaramu! Melodi paling lembut kesukaan
saya. Kekaguman terdalam yang saya miliki untukmu.
Kini kudapati suara itu
menyapa, menandakan dering tadi memang benar untukku. Bukan karena tidak
sengaja, salah pencet, atau jari terpeleset. Tapi saya betul-betul ditelepon!
Ah, norak sekali saya ini. Saya mengutuk debar hati saya yang masih saja
berdebur tidak karuan. Groginya bukan main.
Perbincangan kita pun menguar di tengah-tengah suasana hati saya
yang menggelegar. Tidak bisa menampung seluruh kekagumanku dan kecintaanku
terhadap suaramu, itu adalah kelemahan saya. Seharusnya kamu mengabari
sebelumnya jika ingin meneleponku, maka saya akan lebih mempersiapkan hati
untuk tidak perlu senorak ini. Saya rasa, kamu hanya tidak cukup tahu betapa
dalam saya menyukaimu. Terlalu suka, mungkin, sampai-sampai segala hal
tentangmu membuat saya tenggelam dalam luapan emosi yang dalam.
Mendengar suaramu di seberang sana sedang bercerita tentang
beberapa hal, saya pun tidak bisa menahan bibir saya untuk tidak tersenyum.
Saya gemas, rindu, dan senang sekali mendengarmu. Betul-betul sesenang itu
sampai saya tidak tahu bagaimana caranya berhenti senyum-senyum sendiri seperti
ini.
“Senyum-senyum aja nih..” katamu
kemudian. Membuatku kaget dan baru tersadar kalau ternyata senyuman itu juga
memiliki suara.
Saya hanya tertawa membalas pernyataanmu, meski sebetulnya dalam
hati saya sendiri saya merasa malu. Saya malu karena saya ketahuan tengah
sesenang itu mendengar suaramu. Rasanya seperti anak kecil yang dikasih permen,
merasa girang tak terkira dan candu untuk permen selanjutnya. Begitulah saya,
mendengar suaramu. Rasanya ingin lebih lama dan lebih dekat lagi memiliki suara
itu di lubang kupingku. Rasanya suara itu telah menjadi candu terhebat saya
akhir-akhir ini. Dan mendengarnya melalui sambungan telepon adalah salah satu
saat paling berharga yang saya miliki bersamamu.
Saat-saat berbahagia seperti inilah yang menghiasi cerita kita
berdua dengan segala kemanisannya.
Masih dengan grogi yang sama, saya melanjutkan percakapan
denganmu. Senyumku pun masih tersungging lebar di bibir, seakan tidak tahu
caranya berhenti mengagumimu dengan kebahagiaanku. Sampai-sampai, tanpa saya
bisa hindari, tubuh saya yang sedang malu-malu mendengar suaramu pun melakukan
gerakan-gerakan yang tidak penting. Saya menggulung-gulung selimut, memeluk
boneka beruang saya sambil membayangkan itu dirimu, mengubah posisi duduk
berkali-kali karena saya sendiri juga bingung harus duduk seperti bagaimana
yang nyaman; biar hati saya berhenti berdebar tak karuan, sampai akhirnya.. dhug!
Kepala saya terjedot ke tembok.
Hahahaha.
Di titik ini saya betul-betul malu sama diri sendiri.
Jatuh cinta sungguh telah membuat saya tidak bisa diam. Hanya
karena mendengar suara orang yang saya cintai, saya jadi banyak tingkah seperti
ini. Barangkali juga, rindulah yang berperan penting dalam percakapan kita ini
karena sudah cukup lama juga kita tidak berbagi sapa melalui sambungan telepon.
Dan rindu itu pun tumbuh begitu besar di dalam dadaku, sehingga ketika saya
mendengar kembali suaramu dan merasa sedekat itu, saya jadi tidak tahu harus
bertingkah bagaimana menghadapi kebahagiaan yang meluap-luap.
Sambil masih mendengarmu berbicara di telepon genggam, saya
menatap langit di luar jendela.
Rasanya, saya tahu ini perasaan apa.
Ini adalah perasaan yang mereka sebut cinta.
Dan diam-diam dalam hati, saya mensyukuri semua ini.