Sunday, September 30, 2018

Your Call

Tiba-tiba telepon genggam saya berdering. Di layarnya, tertera namamu—lengkap dengan imbuhan -ku yang kububuhkan setelah namamu di daftar kontak. Namun biasanya, telepon darimu itu masuk karena jarimu terpeleset menekan fitur call. Saya pun ragu untuk mengangkatnya meski sudah beberapa saat telepon genggam ini berdering. Tidak seperti biasa; ketika kamu tidak sengaja meneleponku, belum satu detik pun, dering itu sudah kembali hilang lagi (terkadang sebetulnya saya berharap kalau kamu betul-betul meneleponku).

Tapi sepertinya kali ini jarimu tidak terpeleset. Saya menatap layar dan namamu masih terpampang jelas di sana. Sudah lebih dari 5 detik ia berdering. Akhirnya, saya yakin kalau kamu memang sedang meneleponku, dan saya harus segera mengangkatnya.

Ini saat yang lama saya tunggu.

Saya pun menyiapkan hati saya yang berdebar hebat, sebelum menekan tombol angkat. 

Setelah terangkat, saya memutuskan untuk tidak berkata apa-apa dulu dalam beberapa saat. Sekadar memastikan lagi kalau-kalau sebetulnya telepon ini masih salah tersambung. Tapi, selama diam itu, hati saya bergemuruh kian hebat. Tidak karuan. Grogi. Salah tingkah. Entahlah kenapa? Saya lemah sekali. 

Suaramu pun mulai terdengar. Kata sapa "hai" sederhana keluar dari speaker teleponku berupa suaramu.

Oh. Tuhan. Suara itu! Suaramu! Melodi paling lembut kesukaan saya. Kekaguman terdalam yang saya miliki untukmu. 

Kini kudapati suara  itu menyapa, menandakan dering tadi memang benar untukku. Bukan karena tidak sengaja, salah pencet, atau jari terpeleset. Tapi saya betul-betul ditelepon! Ah, norak sekali saya ini. Saya mengutuk debar hati saya yang masih saja berdebur tidak karuan. Groginya bukan main. 

Perbincangan kita pun menguar di tengah-tengah suasana hati saya yang menggelegar. Tidak bisa menampung seluruh kekagumanku dan kecintaanku terhadap suaramu, itu adalah kelemahan saya. Seharusnya kamu mengabari sebelumnya jika ingin meneleponku, maka saya akan lebih mempersiapkan hati untuk tidak perlu senorak ini. Saya rasa, kamu hanya tidak cukup tahu betapa dalam saya menyukaimu. Terlalu suka, mungkin, sampai-sampai segala hal tentangmu membuat saya tenggelam dalam luapan emosi yang dalam. 

Mendengar suaramu di seberang sana sedang bercerita tentang beberapa hal, saya pun tidak bisa menahan bibir saya untuk tidak tersenyum. Saya gemas, rindu, dan senang sekali mendengarmu. Betul-betul sesenang itu sampai saya tidak tahu bagaimana caranya berhenti senyum-senyum sendiri seperti ini.

Senyum-senyum aja nih..” katamu kemudian. Membuatku kaget dan baru tersadar kalau ternyata senyuman itu juga memiliki suara.

Saya hanya tertawa membalas pernyataanmu, meski sebetulnya dalam hati saya sendiri saya merasa malu. Saya malu karena saya ketahuan tengah sesenang itu mendengar suaramu. Rasanya seperti anak kecil yang dikasih permen, merasa girang tak terkira dan candu untuk permen selanjutnya. Begitulah saya, mendengar suaramu. Rasanya ingin lebih lama dan lebih dekat lagi memiliki suara itu di lubang kupingku. Rasanya suara itu telah menjadi candu terhebat saya akhir-akhir ini. Dan mendengarnya melalui sambungan telepon adalah salah satu saat paling berharga yang saya miliki bersamamu.

Saat-saat berbahagia seperti inilah yang menghiasi cerita kita berdua dengan segala kemanisannya.

Masih dengan grogi yang sama, saya melanjutkan percakapan denganmu. Senyumku pun masih tersungging lebar di bibir, seakan tidak tahu caranya berhenti mengagumimu dengan kebahagiaanku. Sampai-sampai, tanpa saya bisa hindari, tubuh saya yang sedang malu-malu mendengar suaramu pun melakukan gerakan-gerakan yang tidak penting. Saya menggulung-gulung selimut, memeluk boneka beruang saya sambil membayangkan itu dirimu, mengubah posisi duduk berkali-kali karena saya sendiri juga bingung harus duduk seperti bagaimana yang nyaman; biar hati saya berhenti berdebar tak karuan, sampai akhirnya.. dhug!

Kepala saya terjedot ke tembok.

Hahahaha.

Di titik ini saya betul-betul malu sama diri sendiri.

Jatuh cinta sungguh telah membuat saya tidak bisa diam. Hanya karena mendengar suara orang yang saya cintai, saya jadi banyak tingkah seperti ini. Barangkali juga, rindulah yang berperan penting dalam percakapan kita ini karena sudah cukup lama juga kita tidak berbagi sapa melalui sambungan telepon. Dan rindu itu pun tumbuh begitu besar di dalam dadaku, sehingga ketika saya mendengar kembali suaramu dan merasa sedekat itu, saya jadi tidak tahu harus bertingkah bagaimana menghadapi kebahagiaan yang meluap-luap.

Sambil masih mendengarmu berbicara di telepon genggam, saya menatap langit di luar jendela.

Rasanya, saya tahu ini perasaan apa.
Ini adalah perasaan yang mereka sebut cinta.

Dan diam-diam dalam hati, saya mensyukuri semua ini.