Tuesday, November 20, 2018

Malam Sebelum Kelahiran

Kusesap dengan baik sesak yang melanda dadaku perlahan. Ingin rasanya mendefinisikan kebahagiaan dengan cara lain. Bukan dengan lilin-lilin menyala yang mereka hadiahkan kepadaku, tepat di tengah malam. Bukan dengan peluk cium Ibu yang mendarat dengan baik di keningku, atau lengan hangat adikku yang memeluk tubuhku. Bukan dengan perayaan yang setiap tahun kutunggu mengetuk pintu kamarku. Bukan dengan keberadaan yang kini hanyalah ketiadaan.

Tanganku dingin dan jari-jemariku beku mencoba membahasakan segala ingin. Namun semakin kucoba, semakin kutahu pula kalau November selalu datang bersamaan dengan awal musim dingin. Kehangatan yang biasa kuterjemahkan melalu doa, rasanya tidak mungkin segera terwujudkan pula. Aku harus bisa menerimanya dengan lapang dada, terlepas dari sesulit apa aku telah mencoba dewasa.

Di kamar yang gelap ini, hanya ada satu lampu yang menyala. Kuning dan redup di sudut kamar, seakan menatapku dengan nanar. Aku sendiri, dan tidak ada sesiapa. Bagaimana bisa kueja kembali rasa bahagia? Selama ini, tak bosannya aku berlindung di balik doa-doa yang tak kunjung menjadi nyata. Barangkali, memang sudah begini seharusnya—terpisahkan dari sesuatu yang baru kusadar kini begitu berharga. Sesuatu yang dulu kupikir begitu sederhana, namun ternyata tidak tergantikan dan sangat istimewa. Mungkin agar suatu hari aku bisa terbiasa sendiri. Namun ternyata menyendiri bukanlah pilihan yang menyenangkan, jika aku harus tetap merasa ditinggalkan.

Kesunyian ini sungguh tidak memiliki suara, sama seperti kesedihan yang perlahan menggenapi rongga-rongga dada. Tepat di sudut kenangan yang mengulang segalanya. Menapaki waktu di masa lalu yang selalu saja memiliki arti lebih dari waktu itu sendiri. Lama-lama, aku bisa tenggelam dalam senyap dan berhenti untuk melayangkan harap. Karena tahun demi tahun aku sudah bosan terjaga dalam penantian yang terasa percuma.

Hari ini aku kembali menghitung waktu, beserta ingatan yang lekat di dalamnya. Kuulang kembali masa-masa paling berharga yang pernah ada di dalam hidupku. Bukan karena aku ingin kembali—aku sungguh tahu, hari ini, aku tak mungkin kembali. Namun aku ingin memberi arti pada diriku sendiri tanpa orang lain. Aku ingin memiliki kebahagiaan itu meski hanya berupa pikiran; meski hanya berupa sesuatu yang belum bisa terulang.

Sebab satu hal yang baru detik ini kusadari, ada sejumlah rasa syukur yang kerap lupa kuukur. Kehidupan yang masih berjalan melalui hidungku, menggerakkan paru-paru, dan berjalan seiring usiaku, adalah hadiah dari Ia yang Maha Membahagiakan. Seandainya aku bisa lebih menghargai diriku sendiri, dan mengucap rasa syukur itu tanpa air mata dan rasa rindu, mungkin kali ini aku tidak perlu merasa gigil yang tak perlu. Aku tahu, di detik ini, aku hanya perlu mengucap terima kasih kepada Siapa.

Jika di dunia ini aku tak lagi dimiliki siapa-siapa,
seharusnya aku lebih tahu kepada Siapa sesungguhnya aku bermuara. 


Terima kasih, Tuhan.

Atas 23 tahun kehidupan.