"I
can't imagine how my heart looks like now if it's not because of wounds and its
reckless shit. I mean, we all fucked up and I am not all alone. I am in waves
and I'm drowning, please bring me back to the shore alive. I can be
"whatever you want me to be", keep me, play me, avoid me, do it,
do it again and again, my heart keeps working for you to choose."
-an
Saya
merasa sudah ada banyak kesalahan yang saya lakukan terhadapmu. Dengan niatan
menghapus lukamu di masa lalu, saya justru seperti "mengganti" luka itu. Mungkin, kau
mengaku telah cukup bahagia dengan keadaan kita sekarang. Tapi, saya tahu, dari
awal saya pun sudah menduga, bahwa suatu hari salah satu dari kita akan terluka. Atau
bahkan, terluka bersama. Dan... ya, ternyata dugaan saya itu benar
adanya. Saya pun pada akhirnya membuat hatimu terluka
Rasanya, saya tidak tahu apa lagi yang bisa saya katakan kepadamu selain permintaan maaf. Maaf
karena telah menyuguhkan keadaan yang membuatmu mengesampingkan keinginanmu
yang besar. Keinginan yang sebetulnya, tidak ada salahnya, hanya saja tidak
sesuai dengan jalannya kenyataan. Saya tahu, kau bukan orang yang egois—masya
Allah, saya tahu betapa baik hatimu itu. Namun lagi-lagi, kau harus
menampung kenyataan yang bagimu menyakitkan; mengubur dalam-dalam
apa yang sungguh ingin kaulakukan, dan menerima semua yang terjadi dengan
lapang dada. Semata karena hatimu mengatakan bahwa sayalah yang kauinginkan,
dan kau lebih ingin untuk terus mencintaiku di tengah-tengah luka, dibanding
berbalik arah meninggalkan segalanya.
Kautahu?
Atas perasaanmu itu, saya bersyukur sedalam-dalamnya. Saya pun selalu berdoa
kepada Tuhan agar kelak kita betul-betul dipersatukan. Menjalani segalanya bersama-sama
tanpa perlu takut terpisahkan, karena sudah saling meyakini bahwa
sebaik-baiknya cinta adalah cinta yang diperjuangkan dengan hati rela, entah
seberapa sulit ujian yang harus dilalui selama perjalanan. Sebab saya paham,
saya kenal betul dengan hal-hal yang kauimpikan; kau ingin selalu bersamaku. Dan percayalah, itu pun hal yang kerap
kukatakan kepada Tuhan—saya ingin selalu
bersamamu.
Suatu
hari, bila ada saatnya, saya ingin pulang ke dalam pelukanmu dan berterimakasih
sebesar-besarnya atas hatimu yang begitu sabar dan begitu luas, sebab telah menanti
dan mencintai saya begitu hebatnya. Sungguh, saya harap, hari itu akan menjadi
kenyataan—saya harap, kita berdua
akan menjadi seperti apa yang telah kita doakan.
Saya akan
membayar semua luka yang harus kaupendam sekarang ini dengan perasaan nyata
yang kelak mengasihimu selama-lamanya usia. Sungguh saya hanya ingin bermuara
di dermagamu. Namun kautahu, untuk sampai saya berlabuh, masih banyak ombak dan
angin yang perlu dihadapi. Dan saya ingin, kau selalu bersedia untuk menemani
saya menghadapi ini semua. Menenggelamkan ego masing-masing sampai tiba saatnya
kita berbahagia dan berbagi segalanya tanpa takut ada apa pun yang akan memisahkan
kita. Sebab denganmu, saya ingin menjadi sepasang cinta yang tidak pernah takut
kehilangan.
Maafkan
saya atas luka itu. Maafkan saya tidak bisa memenuhi keinginanmu untuk mengasihi
dengan terbuka. Percayalah, tidak pernah ada unsur kesengajaan untuk
mengecewakan. Kenyataan dan takdir hanya sedang tidak berada di sisi kita.
Barangkali, Tuhan sedang mengingatkan kita untuk berdoa ketika sedang
menginginkan sesuatu. Sebab tanpa restuNya, kita tidak akan mendapat apa-apa.
Semoga
saja, luka hanyalah bagian kecil dari perjalanan kita yang panjang.