Selamat siang dari aku yang sedang memikirkanmu di bawah langit Berlin. Sudah beberapa hari lebih ini kamu menguasai tempat di ruang pikiranku. Bagaimana siangmu saat ini? apakah udara di atas kepalamu sedingin yang aku rasakan saat ini? Aku ingin tahu kabarmu..
Jujur, mungkin ini yang disebut rindu. Jujur, mungkin aku rindu kamu.
Siang ini sangat dingin. Dengan suhu yang tak sehangat pelukanmu.
Anginnya menusuk ke dalam kulitku. Tidak seperti jemarimu yang nyaman di antara lenganku, waktu itu.
Jemari pada tangan yang saat ini sedang aku butuhkan. Aku idamkan dengan keterlaluan.
Apa kamu masih ingat bagaimana saat itu debar jantungmu? Atau kamu bahkan tidak tahu ya..
Karena akulah yang saat itu mendengarnya dengan jelas. Ketika aku dekatkan telingaku ini kepada dadamu saat kita berpelukan.
deg.. deg.. deg..
Irama paling asing yang pernah aku rengkuh. Dan asal kamu tahu,
Mendengar detak jantungmu yang tidak karuan itu membuat jantungku juga tidak karuan.
Beginilah caraku merindukanmu, Schatz.
Ich vermisse dich sehr. Ich will, dass du mich jetzt verstehen können.
Apa akan terjadi lagi pelukan itu di antara kita?
Saturday, April 20, 2013
Sunday, January 6, 2013
Kurzes Gedicht.
Mungkin aku terlihat marah
Tapi bukan lantas aku jengah
Atau menyerah
Membiarkan semua lalu berubah
Tidak.
Monday, December 17, 2012
Scheiße.
Kamu tau apa yang terlintas di pikiranku ketika aku berjalan pulang saat itu?
Aku adalah jejak yang berlari dan tak kau kejar..
Itu. seperti itu perasaanku. Kamu tidak tau, hari itu aku berharap sangat banyak. Karena kata-katamu yang sialnya meyakinkan. Sehingga aku bangun lebih pagi, sehingga aku menahan ngantuk yang amat berat, hanya untuk waktu yang sebentar dan berharga itu. Aku kira bukan hanya aku yang lapar karena rindu. Aku kira bukan hanya aku yang bersiap pada hari itu.
Sepele. ya, memang sepele.
Tapi ucapanmu memang tidak pernah bisa aku pegang. Tidak konsisten. Plin-plan. Bayangkan, bagaimana bisa kamu bilang ingin bertemu aku, ketika saat di sampingku saja dirimu berlari entah kemana. Kemana pikiranmu itu? bukan kepadaku? Persetan dengan maafmu. Kamu memang tidak pernah mengerti. Mungkin kamu akan benar-benar mengerti ketika waktu itu tiba. Ketika kamu dihadapi jarak yang sesungguhnya. Aku benci kamu yang tidak menghargai waktu. Aku benci kamu yang tidak memegang perkataanmu sendiri.
Aku benci diriku, karena mempercayaimu.
Aku adalah jejak yang berlari dan tak kau kejar..
Itu. seperti itu perasaanku. Kamu tidak tau, hari itu aku berharap sangat banyak. Karena kata-katamu yang sialnya meyakinkan. Sehingga aku bangun lebih pagi, sehingga aku menahan ngantuk yang amat berat, hanya untuk waktu yang sebentar dan berharga itu. Aku kira bukan hanya aku yang lapar karena rindu. Aku kira bukan hanya aku yang bersiap pada hari itu.
Sepele. ya, memang sepele.
Tapi ucapanmu memang tidak pernah bisa aku pegang. Tidak konsisten. Plin-plan. Bayangkan, bagaimana bisa kamu bilang ingin bertemu aku, ketika saat di sampingku saja dirimu berlari entah kemana. Kemana pikiranmu itu? bukan kepadaku? Persetan dengan maafmu. Kamu memang tidak pernah mengerti. Mungkin kamu akan benar-benar mengerti ketika waktu itu tiba. Ketika kamu dihadapi jarak yang sesungguhnya. Aku benci kamu yang tidak menghargai waktu. Aku benci kamu yang tidak memegang perkataanmu sendiri.
Aku benci diriku, karena mempercayaimu.
Subscribe to:
Posts (Atom)