Tuesday, January 27, 2015

Ia.

Ia berjalan sangat pelan. Ditelusurinya malam dengan sangat hati-hati. Biasanya, ia rajin menghitung bintang ketika sedang berjalan di malam hari. Tapi kali ini ia lebih memilih menundukkan kepalanya dan menghitung tapak hati-hati yang ia pijaki, sambil dalam kepala mengulang kejadian-kejadian yang mengoyak hatinya. Ia bahkan tidak tahu harus memulai dari mana untuk mengurutkan kejadian-kejadian itu. Tentang hatinya yang lelah kesepian, tentang rindunya yang tak terbalas, atau tentang berbagai tentang yang sebenarnya tak mau ia kenang. Tapi kembali kepada kenyataan, malam ini ia tidak bisa memilih dan memilah luka mana yang harus lebih dulu ia rasakan. Semuanya datang begitu saja tanpa mengetuk. Bahkan jumlah bintang yang biasanya menggoda untuk ia hitung untuk mengusir murung, seakan tak lagi membantunya mengurangi beban dada kiri.

Ia lelah.

Perjalanan pulang terasa begitu panjang, sedangkan hatinya tak juga selesai-selesai mengulang kekecewaan. Rasanya seperti ingin menangis. Tapi ketika ia bertanya kepada dirinya sendiri untuk apa tangisan itu, lagi-lagi ia kebingungan memilih alasan mana yang pantas untuk dijadikan air mata. Mungkin ia hanya terlalu lelah. Ya, ia sadar ia lelah. Ia lelah merasa patah. Ia butuh pelukan untuk singgah.

Lengang jalanan hanya membuat hatinya mengeluh sejadi-jadinya. Ia bosan tanpa suara. Seperti sebuah puisi kesukaannya, ia ingin hingar! Tapi berjalan ke pasar rasanya hanya akan membuat ia merasa semakin tersasar. Lagipula, mana ada pasar malam di dekat ia berada--Ia baru sadar. Kemudian ia kembali mengeluh dengan desahan napas yang panjang. Terasa sungguh berat menarik dan mengembuskan napas; tapi ia tahu itu satu-satunya jalan untuknya tetap hidup

Dalam hitungannya, langkah yang ia pijaki sudah mencapai kesekian ratus, dan ia mulai kehilangan angka yang pasti. Hingga tanpa terasa, ia sampai di sebuah persimpangan. Tempat yang tidak kalah sepinya dari jalanan-jalanan panjang yang sudah ia lewati. Kemudian ia mengangkat kepalanya dan menyipitkan mata. Sepasang matanya menangkap sesosok pria sedang berdiri di bawah lampu jalanan. Lampu yang tidak begitu terang, tetapi cukup untuk menerangi wajah orang itu. 

Ia kemudian berlari.
Dilupakannya segala resah dan lelah. Kakinya seakan kembali memiliki kekuatan untuk bergerak lebih cepat.

"Kamu kenapa berlari? Dan kenapa mukamu murung begitu?" ujar pria itu.
"Aku lelah." napasnya tersengal.
"Kenapa? Ceritakan saja padaku.." 

Lalu ia bertatapan lama dengan pria yang ada di hadapannya. Tanpa sepatah katapun, ia menceritakan segala koyak hatinya. Mungkin kali ini ia sedang tak butuh banyak kata, hingga ia menyerahkan sepasang matanya untuk bisa lebih banyak bicara dari kata-kata. Pria itu kemudian mengangguk seakan mengerti. 


"Aku hanya butuh senyumanmu, Ai. Tersenyumlah, dan segala masalahku selesai." ucapnya perlahan. 

Monday, January 26, 2015

Liburan Awal Tahun (Bremen)

hai! tulisan saya kali ini akan melanjutkan cerita liburan saya dari tulisan yang sebelumnya ( Liburan Akhir Tahun (Düsseldorf) ). saya tahu, lagi-lagi saya menulisnya terlambat. bahkan bulan Januari sudah hampir selesai, dan saya baru melanjutkan menulis. hehehe. akhir-akhir ini saya diserang kemalasan yang berlebihan dalam menulis. entahlah, mungkin suasana hati sedang terlalu bahagia. ya, kamu tahu, mitosnya, seseorang akan lebih produktif ketika patah hati. well, itu dia, saya sedang tidak cukup patah hati untuk rajin-rajin menulis. 

langsung saja ke cerita, ya! 

29 Desember 2014, saya dan teman-teman saya yang masih tersisa di Düsseldorf memutuskan untuk pergi ke Bremen. alasannya sebenarnya sepele: kami terlalu bosan di Düsseldorf, dan tidak tahu harus pergi ke mana untuk menikmati pergantian tahun nanti. akhirnya Akbar, teman kami yang tinggal di Bremen, mengundang kami untuk main saja ke rumahnya. maka tanpa panjang lebar, kami memesan tiket di tanggal 27 Desember, untuk berangkat ke Bremen pada tanggal 29 Desember. 

lucunya, si Naufal yang tadinya sudah pulang ke negaranya, justru kembali lagi ke Düsseldorf pada tanggal 27 Desember untuk ikut kami berangkat bersama-sama ke Bremen. padahal dia baru pulang satu hari ke Belanda, tapi sudah harus kembali lagi ke Jerman hanya dalam waktu satu hari. hahaha! 

sesampainya di Bremen, kami dijemput oleh Dika. padahal tadinya Dika juga sudah kembali ke kotanya, tapi kemudian dia ke Bremen lagi demi ikut dengan kami. di titik ini, kami sempat heran; untuk apa kemarin-kemarin kami menyampaikan salam perpisahan-semoga-kita-bisa-ketemu-lagi-nanti kalau pada akhirnya kami akan berkumpul lagi dalam waktu dekat. hahaha. jadi, sebenarnya acara ke Bremen ini benar-benar di luar rencana. tapi justru acara yang di luar rencana ini, kami dapat berkumpul lengkap lagi setelah perpisahan yang ternyata hanya basa-basi itu. 

ini adalah foto stasiun kereta di Bremen. sebenarnya, kami pergi ke Bremen dengan bis, tapi stasiun bisnya juga terletak di stasiun kereta kota Bremen. bangunan yang indah, bukan?


sesampainya di rumah Akbar, kami berkenalan dengan beberapa teman Akbar yang juga sedang singgah di rumahnya. setelah perkenalan yang basa-basi, kami berkumpul di dapur dan berbincang-bincang sambil menunggu Ilham dan Akbar, sang koki, selesai masak. ya, kami lapar, dan kami bersyukur Ilham dan Akbar sedang menyiapkan makanan. hahaha! 

sembari menunggu, saya, Caesa, Astrid, dan Dika, menyempatkan berfoto sebentar demi mengabadikan muka bahagia kami di hari pertama sesampainya di Bremen. si Akbar pun ikut tidak sengaja masuk ke dalam foto.  

esok harinya, kami semua memutuskan untuk berjalan-jalan ke Ochtum. Ochtum adalah salah satu pusat perbelanjaan di kota Bremen. di sana, toko-toko dengan merk ternama menjual barang-barangnya dengan harga miring. mereka menyediakan sale besar-besaran. dan saya saat itu membeli iphone case keluaran Fossil hanya dengan harga 4 euro! padahal harga aslinya mencapai 25 euro. well, i guess that was just my lucky day! yippie! 

kami, full team, akhirnya berkumpul lagi di kota Bremen! 


ini sewaktu kami mampir di toko Esprit, dan tidak tahan melihat kaca besar. hahaha.

pada tanggal 30 Desember 2014, saya dan teman-teman saya kembali menjelajahi kota Bremen. Akbar mengajak kami makan di sebuah restoran Afrika yang memiliki menu makanan dengan rasa yang mirip dengan makanan Indonesia. sayang sekali, saya tidak memiliki foto ketika kami di sana. waktu itu, ada yang memesan menu ayam yang rasanya sama seperti ayam goreng khas Indonesia. sementara saya memesan menu kari daging yang rasanya hampir sama seperti rendang. saya tidak menyangka kalau ternyata makanan khas Afrika bisa memiliki rasa yang hampir sama seperti makanan Indonesia. pula sambalnya yang ternyata sangat pedas, mirip seperti sambal ulek di Indonesia. terlebih lagi karena di Jerman, saya jarang menemukan restoran yang menyediakan sambal pedas. biasanya, orang-orang di sini lebih menyukai saus tomat dibanding saus cabai. 

setelah dari restoran Afrika tersebut, Akbar mengajak kami ke sebuah tempat di pusat kota Bremen. di sana, kami berkeliling melihat-lihat suasana khas Eropa yang sungguh cantik. kami mengunjungi Schnoor. Schnoor adalah sebuah gang kecil yang di dalamnya terdapat beberapa toko dan restoran yang sangat unik. sayang sekali, saya tidak mengambil banyak foto di Schnoor. 

sekiranya, beginilah pemandangan di Schnoor. 
(source: Google)

salah satu toko di Schnoor menjual plat-plat besi dengan tulisan yang menarik. 

ini adalah sebuah lubang di mana katanya jika kita memasukkan koin ke sana, akan terdengar suara-suara seperti mengaum. tapi sayang sekali, saya dan teman-teman sempat mencoba dengan beberapa koin, hanya saja tidak ada suara sama sekali. kami gemas, akhirnya kami membuat-buat suara sendiri saja dengan ikut mengaum seperti serigala. hahahahaha. bodoh, tapi menyenangkan. 

ini adalah patung figur khas kota Bremen; Pemusik Kota Bremen. 

smileeeeee :) 
(photo from: Vanissa Khairani)



esoknya, 31 Desember 2014, kami berencana untuk ikut acara PPI Bremen. di acara tersebut, PPI Bremen mengadakan BBQ dan kumpul-kumpul sesama orang Indonesia yang tinggal di kota Bremen. awalnya, saya dan beberapa teman sempat ragu untuk datang ke sana, sebab kami tidak mengenal dengan  yang lainnya. tapi akhirnya, setelah Akbar dan anak Bremen lainnya membujuk kita, akhirnya kami mau saja. dengan rencana setelah dari acara tersebut, kami akan pergi ke suatu tempat untuk menikmati kembang api pergantian tahun. 

sambil menunggu makanan dihidangkan, kami membuat lingkaran dan bermain ABC 5 Dasar. dan dari lingkaran yang tadinya hanya kelompok kami saja, akhirnya menjadi lingkaran yang cukup besar sebab anak-anak PPI Bremen lainnya ikutan bermain dengan kami. kami pun jadi cukup akrab! senangnya! :D
(photo from: Vanissa Khairani)


dan inilah menu makan malam kami kala itu. lengkap dengan sambal ulek rasa Indonesia.
(photo from: Vanissa Khairani)

setelah acara makan-makan itu, kami sempat mendengarkan ceramah; pada dasarnya, acara ini memang diadakan oleh perkumpulan pengajian di Bremen. dan pada pukul 23.15 acara sudah resmi selesai, dan kami segera berangkat untuk ke sebuah jembatan (saya lupa nama jembatannya apa). di sana, kami menikmati pergantian tahun dengan suara-suara begitu kencang dari kembang api yang diluncurkan orang-orang. memang memekakan telinga, tapi sungguh pemandangan yang indah! terlebih lagi kebersamaan kami membuat saya merasa sangat bahagia pada saat itu. 

saya menikmati pergantian tahun baru di tengah jalan dekat dengan sebuah jembatan, dan di sana  banyak sekali orang-orang yang heboh bermain petasan.




saya akui, pada saat itu, warna langit sungguh indah. 
berubah-ubah dari biru, ungu, hijau, merah, dan jingga! 

ini foto kami kala itu, bersama dengan orang-orang Indonesia lainnya. 
(photo from: Vanissa Khairani)

seusai dari lokasi itu, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. menikmati malam pertama di tahun 2015. sungguh suasana yang meriah. sempat beberapa kali kami berpapasan dengan sekelompok orang asing. ada yang dari Belanda, ada orang-orang asli Jerman, juga ada sekelompok orang mabuk yang berteriak-teriak "Selamat Tahun Baru" dalam bahasanya. dan beberapa kali pula mereka menyapa kami sambil mengucapkan salam selamat tahun baru, lalu memeluk kami satu persatu. 

ini salah satu contohnya. sebenarnya kami tidak mengenal siapa orang-orang asing itu, tapi mereka mengajak kami berfoto bersama seusai memeluk kami dan mengucapkan selamat tahun baru. 
ya! pada hari itu, semua orang ikut hanyut dalam kebahagiaan pergantian tahun.
menyenangkan, bukan?

saya benar-benar tidak akan melupakan hari itu. saya sangat bahagia. bahkan rasanya badan tidak mengenal rasa lelah, dan ingin terus berjalan menyusuri kota Bremen dengan toko-tokonya yang tutup. waktu itu, jalanan hanya ramai di beberapa titik, sementara kami menyusuri jalanan yang sepi. suasana   sungguh menenangkan, sembari kami bercanda-canda sepanjang perjalanan. sungguh menyenangkan! 

begitulah cerita saya di kota Bremen. di akhir tulisan ini, saya berdoa semoga di tahun 2015 ini saya dan kalian yang membaca tulisan ini, dapat menjadi seorang yang lebih baik dari tahun sebelumnya. semoga, akan lebih banyak kebahagiaan yang kita hadapi, dan segala rencana dilancarkan. amin? :D



FROHES NEUES JAHR! 









Thursday, January 15, 2015

Liburan Akhir Tahun (Düsseldorf)

saya tahu banget kok, kalau post ini bisa dibilang adalah post yang telat untuk membahas tahun baru--sebab 2015 sudah terlanjur dua minggu usianya. tapi, saya merasa ada yang mengganjal dalam kepala saya. saya sempat tidak tahu ini apa, sampai akhirnya detik ini saya tau: saya harus menulis tentang liburan akhir tahun saya. sudah dua minggu berlalu, tapi kepala saya tidak berhenti mengulang-ulang kenangan tentang liburan saya akhir Desember sampai awal Januari kemarin. mungkin karena saya sudah terlalu lama tidak mendapati hiburan sesungguhnya, selain menghibur diri sendiri dengan internet dan hal-hal maya lainnya. liburan kali ini saya benar-benar senang, sebab akhirnya saya bisa melepas diri dari layar telepon genggam dan bersosialisasi dengan benar. ah, sudahlah basa-basinya, saya mulai saja curhatan saya ya!

di tanggal 24 Desember saya memulai perjalanan saya dari kota Greifswald, menuju kota Düsseldorf. di sana, sudah ada beberapa teman-teman saya yang lebih dulu berkumpul sejak tanggal 20 Desember. sebenarnya rencana awal saya juga sama seperti yang lain, yakni berangkat dari tanggal 20 Desember, berhubung dari tanggal itu liburan akhir tahun sudah dimulai. tapi, karena saya masih memiliki jiwa irit student, saya cari tiket yang murah, haha! dan hanya di tanggal 24 Desember itulah tersedia tiket murah (lumayan, 30€ lebih murah dari seharusnya!).

setelah 9 jam perjalanan, akhirnya saya sampai juga di Düsseldorf. dan saya sampai dengan keadaan sangat lapar. untungnya, teman-teman saya sudah menanti saya di sebuah restoran döner--entah ini sebuah kebetulan atau memang mereka peduli dengan perut saya yang lapar. setibanya saya di restoran itu, saya menunda lapar saya sepersekian detik untuk kemudian mendapati kalau saya begitu rindu dengan teman-teman saya--mereka bernama Caesa, Naufal, Dhika, Akbar, Ilham, dan El. saya memeluk mereka satu persatu sambil menanyakan kabar dan basa-basi yang terlalu basi. hingga tanpa panjang waktu lagi, lapar saya kembali ke tempat semula, dan menyuruh saya memesan makanan.

sebenarnya, di hari itu saya sangat kurang tidur. satu hari sebelumnya saya hanya mendapati tidur selama 3 jam, sebelum akhirnya berangkat ke stasiun kereta. maka setelah makan di restoran döner itu, seketika tubuh saya begitu letih dan rindu sekali dengan kasur empuk. tapi ternyata, kesenangan belum berakhir begitu saja di hari itu. teman-teman saya seperti belum ingin pulang, dan mereka memutuskan untuk melanjutkan dengan Shisha di sebuah Cafe. saya bisa apa, selain mengikuti mereka dengan senang hati--dan mata yang terkantuk-kantuk.


di Cafe ini, kami memesan dua bong Shisha dan menghabiskan waktu dengan bermain kartu. saya akui, saya memang sungguh ngantuk, tapi waktu seperti ini terlalu berharga untuk dilewatkan. saya sungguh senang!

setelah dari Cafe tersebut, kami memutuskan untuk pulang dan menyempatkan diri untuk selfie!


malam sudah menunjukkan pukul 12, dan saya sama sekali belum menyentuh bantal! maka sesampainya saya di rumah teman saya, Caesa, buru-buru saya mengganti baju dan bersiap-siap untuk segera berpelukan dengan kasur. sementara yang lain masih ingin menghabiskan waktu dengan ngobrol dan ada juga yang main game di laptop, saya sudah mulai hilang kesadaran, sedetik setelah kepala saya rebah di bantal. tidur saya sempat tidak nyenyak, sebab mereka begitu berisik, dan kalau saya tidak salah dengar, mereka juga berbisik-bisik. sesekali saya membuka mata, dan menemukan salah seorang teman saya tengah duduk di sebelah saya sambil menyuruh saya untuk tenang saja, dan silakan kembali tidur. saya tidak bisa, hingga akhirnya saya melihat kejanggalan di antara mereka, sebab mereka berkumpul membentuk lingkaran seperti sedang menyembunyikan sesuatu. dan...

saya melihat mereka memegang satu kotak berisi donat dan Caesa yang sedang berusaha menyalakan sebatang rokok lintingan. kemudian mereka menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun. sambil mulut menganga saya sangat terkejut, dan otak saya butuh sekian detik untuk menyadari kalau mereka sedang memberi saya kejutan ulang tahun untuk saya, yang sebenarnya jatuh pada tanggal 21 November. ya, satu bulan sebelum hari itu! 

jadi, mereka bilang, karena tidak ada lilin, maka mereka melinting rokok dan menjadikan rokok lintingan tersebut sebagai lilin untuk saya. saya tidak tahu untuk hal ini saya harus bahagia atau menampar mereka satu-satu..... tapi saya benar-benar merasa terkejut dan bahagia! haha. 






dan ini adalah penampakan kegiatan kami sehari-hari. sebab kamar yang tidak terlalu besar, maka kami tidur dan makan berdempetan. tapi itu bukan masalah! 
bagi saya,  kamar Caesa sudah lebih dari cukup untuk menampung kami. 
danke Caesa! <3


di hari berikutnya, sayang sekali Akbar dan Dhika harus pulang ke kota mereka masing-masing. saya tidak heran sebenarnya, sebab mereka sudah dari tanggal 20 menginap di sini. mungkin mereka sudah mulai bosan. hahahaha. 

tapi kesenangan tidak lantas berakhir begitu saja. hari berikutnya, tanggal 26 Desember, saya dan beberapa teman yang masih menetap di Düsseldorf, memutuskan untuk pergi ke arena ice skating. awalnya kami sempat ragu apakah arena tersebut buka di hari tepat setelah hari natal, tapi ternyata dugaan kami salah setelah mendapat pencerahan dari mbah Google, bahwa hari libur arena tersebut hanya jatuh di hari natal, dan tidak di hari setelahnya.

sebut saja ini wajah bahagia saya. hahaha!



sebenarnya, kami berlima. tapi karena Ilham terlalu asik dengan es, dan sudah menghilang sedetik setelah meluncurkan sepatu skatenya, maka kami memutuskan untuk selfie berempat saja. hahaha! maafkan kami Ham! salah sendiri kau terlalu bersemangat! 

di antara kami berlima, yang sudah bisa meluncur saat itu hanya Ilham. saya dan yang lainnya masih harus berpegangan di pinggir tembok pembatas, dan berusaha menyeimbangkan tubuh untuk bisa berdiri tanpa terjatuh. tapi tak lama setelah berusaha mencari keseimbangan, akhirnya saya dan Naufal bisa sedikit meluncur meski masih tersendat. sementara Caesa masih ketakutan di pinggir tembok pembatas, dan El yang mau tak mau menemani Caesa. peran Naufal dan El sebenarnya sangat penting bagi Caesa. sebab mereka bergantian menemani Caesa yang hanya bisa berpegangan di pinggiran, sambil memasang raut muka takut dan panik. hahaha! sementara saya sudah bisa menyusul Ilham yang tengah asik memutari arena. 

tapi, ketakutan ternyata bisa juga Caesa hadapi. sampai akhirnya pelan-pelan Caesa melepaskan pegangan dari tembok pembatas, dan mulai ikut meluncur dengan El dan Naufal yang memeganginya. sementara saya juga meluncur mengikuti mereka. 

ya, akhirnya saya berhasil memotret Caesa di tengah-tengah arena, dengan El yang masih menjadi topangan Caesa. hahaha! 

kejadian lucu sempat terjadi beberapa kali. seperti El yang sempat hopeless karena tidak bisa menjaga keseimbangan di arena, dan memutuskan untuk meminjam patung luncur berbentuk penguin seperti ini: 

(source: google)

tapi ternyata setelah El menanyakan ke petugas penyewaannya, patung itu hanya untuk anak-anak, dan El yang notabene sudah tidak cukup anak-anak, dilarang untuk menyewa patung tersebut. hahaha. saya tertawa dalam hati sambil menyayangi kesempatan melihat El berseluncur dengan penguin tersebut. 

dan kejadian lucu selanjutnya ialah Ilham yang sempat dengan santainya bilang ke saya, "Sha, kalau skate, badannya sambil digoyangin aja..". kemudian ia mempraktekkan berseluncur sambil menggoyangkan badannya dengan semangat. saya melihatnya seperti sedang menari ala ala boy band Korea. tapi, belum lama Ilham 'menggoyangkan' badannya dengan seru, ia terjatuh lumayan keras di atas es. saya tidak bisa menahan tawa lagi. HAHAHAHA. saya tertawa begitu kencang hingga beberapa orang di sekitar jadi memperhatikan kami, dan memperhatikan Ilham yang tengah berusaha bangkit. saya tertawa begitu puas melihat muka Ilham yang ikutan tertawa dengan muka yang terlihat sekali sedang menahan malu. HAHAHA. (bahkan di detik saya mengetik cerita ini, saya kembali tertawa.) 


sepulangnya kami dari arena, kami menyempatkan mampir ke restoran Döner, dan mengisi perut dengan Pomm Döner. Pomm Döner ialah 'nama gaul' dari Pommes dan Döner. makanan ini adalah perpaduan kentang goreng (dalam bahasa Jerman = Pommes) dan daging Döner yang disajikan dengan beberapa saus khasnya. 


keesokan harinya, Naufal memutuskan untuk kembali ke negaranya. ya, saya sebut negara sebab ia tidak tinggal di Jerman. ia melanjutkan studinya di Belanda. juga El yang ikut pulang pada hari yang sama. tetapi, kepulangan mereka diganti dengan kedatangan Astrid. salah satu teman dekat saya juga. sebenarnya sayang sekali Astrid telat datang satu hari, sehingga melewatkan kesempatan untuk ikut kami bermain di arena ice skating. tapi tak mengapa, kita tetap bisa melanjutkan kesenangan meski hanya tinggal berempat. haha!

fufu~ tidak lupa a selfie with Astrid.

tinggal berempat, kami menghibur diri dengan bermalam minggu pergi makan es krim. 


dan demikianlah waktu saya di Düsseldorf. sebenarnya, saya kira saya akan menghabiskan waktu di kota tersebut hingga tahun berganti. tapi, sebuah rencana dadakan terancang begitu saja, dan hal-hal tak terduga lainnya kembali terjadi. hanya saja saya tidak mungkin menambah panjang postingan blog ini dan membuat kamu bosan membacanya. haha, atau mungkin sejauh ini kamu juga sudah sangat bosan membaca celotehan saya yang sungguh panjang ini. percayalah! ini adalah tulisan terpanjang saya selama saya memiliki blog. ampuni saya kali ini! hahaha. 

saya akan melanjutkan cerita liburan akhir tahun saya di postingan selanjutnya. semoga kamu masih mau membaca! 

(bersambung)