Monday, September 19, 2016

Seite 1

Aku menatap langit di atas kepala sedang berwarna ungu. Kukira, ia habis bertengkar dengan waktu, hingga lebam seluruh wajahnya. Aku sedang berusaha mengingat seseorang dengan bertanya kepada langit, apakah warna yang disebut senja ini sampai juga di langitnya yang terpaut begitu jauh dari tempatku berdiri?

Aku tidak bisa menebak rupanya, bagaimana kepala seseorang itu berisi. Apakah serumit pikiranku yang dipenuhi tatapan mata dan senyumannya, atau bahkan memang tidak pernah serumit itu. Aku lagi-lagi berusaha mencari jawaban dengan bertanya-tanya sendiri sambil menatap langit jauh-jauh. Meski aku tahu tidak ada gunanya, tetapi perasaan ringan yang kurasakan setelahnya tidak pernah gagal menghibur gelisah. Sebab langit selalu mampu menampung apapun yang orang-orang tak bisa menampungnya. Seperti pertanyaanku. Seperti perasaanku.

Sore sebentar lagi pergi dan aku masih perlu mengeluarkan banyak pertanyaan. Kakiku rasanya ingin melangkah dan lalu berlari tak berarah. Mungkin aku hanya butuh udara lebih banyak masuk ke rongga paru-paru, sebab merindukannya, membuat sesak. Sementara aku tidak rela malam datang terlalu cepat dan menutup mataku dengan hanya gelap. Sebab kusadari ketika ia tiada di sini, aku bukan siapa-siapa, dan aku tidak memiliki cahaya apa-apa. Aku hanyalah setitik yang hilang karena memikirkannya, kata orang, begitu butanya.

Sebuah pohon berdiri menjulang di hadapanku. Dahan-dahannya meninggi dan rindang dipenuhi daun yang hijau dan banyak juga yang kuning—mungkin penanda gantinya musim. Sepenuh harap kubayangkan daun-daunnya itu ialah rambut seseorang yang melingkar-lingkar, dan tubuh pohon itu ada tubuh seseorang yang selalu ingin kupeluk. Aku menganggap langit sedang menghadiahkanku teduhnya untuk mengingat lebih lapang lagi. Mungkin juga sebenarnya langit sedang mencarikan seseorang itu untukku, tetapi tidak menemukannya, sebab aku tahu ia sedang bersembunyi di balik kesunyiannya.

Tiba-tiba angin yang sangat kencang datang dan membuat seluruh pertanyaanku berantakan terserak di jalan raya yang ramai. Aku bahkan tak sempat memungut kata-katanya yang terurai untuk kembali ke dalam kepalaku, sebab kemudian aku merasa lelah untuk mencoba. Kemudian aku menyadari bahwa pertanyaan tidaklah ada arti jika yang ditanya tidak pernah menjawab. Kemudian kuketahui kalau rasa penasaranku ini sudah tersesat terlalu jauh. Aku tidak lagi mencari untuk lepas dari sendiri, karena aku telah mencuri jawaban dengan berkhayal dalam-dalam. Sekali lagi kusadari angin beserta gunanya yang tiba-tiba; aku tidak perlu bertanya jika bisa kurangkai jawabannya.

Sebab kata-kata bisa kumiliki seluruhnya dan seutuhnya, aku bisa menulis apa saja dan menjadikan diriku sendiri tuhan di dalamnya. Aku bisa membuat seseorang bersedih membawa isi kepalanya yang sangat berat karena ia tidak bisa berhenti bertanya dan merasa penasaran. Aku bisa juga membunuhnya karena rindu membuat ia ingin menyerah. Aku akan membuat seolah-olah ia sedang terjebak senja yang panjang usia, hingga ia mencari keberadaan waktu di lain hari. Aku tahu aku bisa merangkai kenyataan apa saja.


Maka aku menulis seperti sedang membalas dendam.

(bersambung)

Saturday, September 17, 2016

Liebe ist ein Hund

anjing!

ia menggonggong merah-merah di dalam kepala. berasap tak membiarkan tidur menjejak malam. membuat jantung berdegup keras dan cepat. dan menghitung napas juga tidak bisa memperlambat. 

bodoh! 

otak seperti bercabang hilang kendali! di suatu ujung ia mengajariku cara menikmati kenangan, sedang di ujungnya yang lain ia mati-matian berusaha lupa tentangmu sambil memarahi perasaan agar tidak tolol tolol amat! 

sial!

kalau jatuh cinta begini brengseknya, seharusnya kubunuh saja di hari pertama! agar tak lahirlah anak cucu rindunya yang mengganggu itu. berteriak-teriak di sudut ruang gelap, ketika sesiapapun tidak ada. bermain-main dengan ingatan yang isinya lagi-lagi senyum itu. mata itu. atau perkataan-perkataanmu itu. semua. semuanya! 

sedangkan tak juga kau menyadarinya. 

stupid, kan?!

Wednesday, September 14, 2016

Sebuah Surat

Kepadamu, Langit,
cinta paling diam yang kurawat dalam malam..

Bagaimana kabar rindu di dadamu? Sesepi rindu yang ada padaku kah?

Aku sekarang, sudah belajar merawat rindu. Tujuannya agar tidak ada rindu yang manja, merengek, dan meminta-minta dicinta. Aku tidak mau rindu yang seperti itu, Langit. Aku mau rinduku kuat. Kuat tak kaulihat, kuat tak kausapa, dan kuat pula tak tersampaikan. Aku mau mencintaimu tak perlu susah-susah. Aku mau mencintaimu dengan dewasa. Dan aku berdoa pada waktu, agar suatu hari kekuatanku dijawab dengan cinta yang selama ini kudambakan, Langit. Dengan cintamu. 

Aku tak pernah bosan memimpikan matamu melihatku, tetapi aku tak ingin pula berlama-lama bermimpi. Sebab aku tahu dari awal kujatuhkan cinta untukmu, aku hanya mau kau menjadi kenyataanku. Tetapi kau tahu apa yang sulit, Langit? Ialah mengalahkan kemauan hatiku dengan kewarasan sadar tentang kita yang tidak lebih dari sekadar teman saja. Bukankah begitu menyakitkan?  

Ketahuilah, Langit,
Selalu ada pungguk yang merindu bulan dan bersembunyi di pangkuan puisi, seperti adanya aku dan gemetar keberanianku yang mencintaimu diam-diam dan mengagumimu dalam-dalam.

Senja.