Tuesday, November 18, 2014

Wohin soll ich dann gehn?

Tuhan,
tenangkan hatiku malam ini.
ketika tiada sesiapa lagi
bisa kuajak berbagi,
aku tahu hanya Engkau
Maha Memahami.

Tuhan,
pula hanya Engkau yang tahu
mengapa aku begitu sesak merindu
dan kepada siapa segala kelu
tertuju.

Tuhan,
tenangkan hatiku malam ini.
dan aku berjanji, 
mencoba untuk tidak menangis lagi.

bantu aku..

Sunday, November 9, 2014

Süchtig.

pernah kepada Tuhan aku meminta agar kau tak dijauhkan. pernah kepada Tuhan aku meminta agar kita bisa selalu dekat. pernah kepada Tuhan aku berharap untuk tidak kehilangan, kamu.

seperti zat zat adiktif yang terkandung dalam sebatang rokok, begitulah kamu dalam kerinduanku. kamu takaran nikotin yang tidak pernah kukira candunya akan begini hebatnya. aku ingin selalu merindukanmu, meski itu terkadang menyakitkan, tetapi aku tidak berencana berhenti. aku ingin terus begitu! bayangan tentangmu sungguhlah adiksi bagiku. 

tenang, aku sudah meminta Tuhan agar kita tidak dijauhkan. jadi, tidak mungkin kamu kehilangan aku. percayalah, akupun tidak ingin kehilangan kamu. 

tahukah kamu? pada malam yang lengang, seringkali aku duduk tenang dan pikiranku melayang. melarungkan rindu kepada langit malam yang padahal tidak pernah mengetahui jawaban waktu. tetapi kamulah di saat itu, adiksiku yang paling tidak bisa kutahan. aku memikirkanmu, aku merindukanmu: ialah hal yang tidak bisa dicegah malam-malam. 

sekali lagi, tenang. aku sudah meminta Tuhan agar kau tak dijauhkan. jadi, tidak mungkin aku yang menjauh darimu. sebab doaku bukan begitu, doaku ialah untuk terus bersamamu. percayalah, jika aku bisa, aku ingin hidup dengan memelukmu tanpa lepas. sayangnya, ternyata kita masih butuh napas. 

oh! oh! terkadang orang bilang yang adiktif itu tidak baik bagi kesehatan. tetapi mungkin mereka salah, kamu tidak pernah buruk bagi aku. aku tahu itu. aku merasakannya. kamu tidak memiliki efek samping bagiku. kamu seperti zat adiktif sekaligus obat terampuh bagiku. merindukanmu: menyakitkan dan menyembuhkan.

ingat, jangan lupa menenangkan kekhawatiranmu ya, sayang? aku pernah meminta Tuhan untuk kita, dan akan selalu kurayu Ia untuk kita. percayalah, hatiku menjaga debarnya karenamu.

percayalah, 
aku sudah terlalu mencanduimu. 

Saturday, November 8, 2014

Ich?

malam ini, mendadak saya ingin duduk dan menulis dengan tenang. menulis untuk menjadi diri saya sendiri. saya bosan membandingkan diri saya dengan orang lain. saya bosan merasa tidak sebaik orang lain. saya bosan menyibukkan kepala saya dengan pikiran bahwa saya tidak seperti mereka, dan saya ingin menjadi seperti mereka. saya bosan menyalahkan diri saya karena tidak menggiatkan diri agar bisa menjadi seperti mereka. 

sungguh saya bosan.

saya ingin berhenti menyalahkan diri, dan membanding-bandingkan diri. saya sadar saya tidak akan pernah menjadi seperti mereka, karena saya bukan mereka. saya sadar saya terlalu melihat orang lain sehingga saya seringkali lupa melihat diri saya sendiri. bahkan jujur saja, saya seringkali mengingat ingat apa yang sudah saya lakukan, apa yang sudah saya buat, dan bagaimana saya melakukan hal hal itu, hanya untuk mencari tahu bagaimana sebenarnya diri saya. saya merasa kurang mengenali diri saya sendiri karena saya sibuk menjadikan diri saya bayangan orang lain. 

sebagai contohnya, saya sibuk menjadikan cara bicara saya seperti A agar terlihat lebih menyenangkan, saya sibuk membuat tulisan dengan menjadikan B kiblat saya, saya sibuk mematut diri untuk menjadi C, saya sibuk mencari-cari cara untuk seperti dia, dia, dan dia. 

tidak jarang saya termukan diri saya merasa iri karena saya tidak bisa seperti mereka. saya melihat mereka begitu hebat, begitu mengagumkan di mata saya. hingga akhirnya di detik ini saya menyalahkan diri saya sendiri karena saya terlalu lalai. saya lalai akan diri saya sendiri. saya merasa kurang menghargai diri saya sendiri. padahal seringkali orang lain menanyakan bagaimana menjadi saya.

lalu saya ini seperti apa sebenarnya? 
saya bahkan hampir tidak mengenali diri saya sendiri, karena saya sibuk melihat mereka. sementara saya lengah tidak menyadari ada yang melihat saya sebagaimana saya. 

saya rasa ini cukup, semua hal hal tentang membandingkan dan menyalahkan diri sendiri seharusnya saya hapus dari pikiran saya. saya tidak ingin lagi menjadi orang yang bukan saya. saya akan melanjutkan segala sesuatu di jalan saya sendiri, tanpa perlu mematut diri menjadi orang lain. dan tidak sepantasnya saya merasa iri, sebab saya seharusnya bangga jika saya bisa menjadi diri sendiri.

iya, 
seharusnya saya merasa cukup bangga jika saya bisa menjadi diri saya sendiri. 
sebab diri saya, hanya saya yang memiliki. 
sebab saya, bukan mereka.