Friday, July 24, 2015

Those Blue and Black Dresses.

have you ever felt like you notice this or that clothes more because it still has some memories left behind it?
i have. 

there's this dress i wore when i first met with someone who was special for me. 
there's this dress i wore when the last time i saw him;
i hugged him
i kissed him.

these dresses are simple.
they got nothing but his smell.
they got nothing
but 
memories. 

simple as that.

and every time i'm willing to wear those dresses,
i remember,
not to remember. 

Wednesday, July 8, 2015

Mimpi Langit dan Senja.

"Aku mau nanti kita punya anak dua saja. Satu perempuan, satu laki-laki. Kalau bisa sih, kakaknya yang laki-laki. Supaya bisa jagain adiknya.

"Kamu mau nama anaknya siapa? Kalau aku mau beri nama anak laki-laki kita Langit. Sudah sejak lama sekali aku memimpikan punya anak laki-laki bernama Langit. 

"Atau kunamai anak kita yang laki-laki, sementara kamu menamai anak kita yang perempuan. Aku usul ya, usul aja nih! Mungkin beri anak perempuan kita nama Senja. Bagus kan! 

"Eh, kamu saja deh, yang pilih nama anak perempuan kita! Tapi aku mau nama laki-laki kecilku Langit ya.. 

"Kalau rumah? Bagaimana kalau rumah kita sederhana saja dan yang tidak terlalu jauh dari tempat kerjamu. Aku tidak mau kamu menempuh perjalanan terlalu jauh dari rumah ke tempat kerja. 

"Dinding rumahnya boleh warna biru muda, gak? 

"Sayang.. Aku kangen..

"Kalau nanti, bulan madunya di mana ya? Aku mau keliling Indonesia sama kamu aja! Mau lihat paling sedikit 3 kota dari setiap pulau di Indonesia. Kalau di pulau Jawa, aku mau ke Jogja ya! Kalau pulau Sulawesi, aku mau ke Makassar dan Palu! 

"Sayang.. Aku kangen..

"Kamu sudah letih banget ya? Kuajak bicara, kamu tidak jawab begitu. Kok diam aja. 

"Besok aku kembali lagi deh, ke sini. Mungkin kalau besok, kamu sudah lebih segar badannya dan bisa ikut diskusi sama aku perihal kita.

"Aku pulang ya? Daaah Sayang."


Perempuan itu bangkit dari tempat duduknya yang terbuat dari plastik. Kemudian ia meletakkan setangkai bunga mawar putih di atas gundukan tanah merah persis di samping tempat ia baru saja bangkit dari duduknya. 

Esok lagi ia datang. Seperti biasa, untuk melanjutkan rencana-rencana bersama kekasihnya. 

Perlahan ia beranjak, berlalu dengan tetap menahan isak. 

Tuesday, July 7, 2015

Du, Traummann.

And if i'm gonna be dreaming,
I'll be dreaming of you.

Entah telah dimulai darimana kepalaku yang memimpikanmu itu. Cerita-cerita terangkai begitu jelas, sementara aku hanya bisa mengaminkan semuanya dalam diam. Di langit berlatar malam itu, aku berlari dan berlari, kemudian menemukanmu sedang berada di sebuah perpustakaan. Aku merasakan seperti benar-benar sedang pertama kali bertatap mata denganmu. Lalu aku tanpa sadar menarik tanganmu, meneriakkan namamu dengan begitu senang. Aku mengajakmu keluar perpustakaan itu sejenak. Kemudian di depan pintunya, kita berciuman. Ciuman pelan dan panjang. 

Aku terbangun. Meski di dalam mimpi itu sendiri aku telah lebih dulu terbangun dan menyadari betapa tidak nyata ciuman itu. Betapa tidak mungkin aku menciummu. Aku terlalu sadar akan panjang jarak yang terpaut antara kau dan aku. Tapi sedetik setelah aku membuka mata—meski kusadari tadi hanya sebuah mimpi—aku tetap mengaminkan segala yang bisa menjadi kemungkinan antara kita. 

Mungkin saja mimpi itu sebuah pertanda. Pertanda bahwa kita adalah sebuah  kemungkinan yang akan menjadi nyata. Pertanda bahwa aku telah menjadikanmu bagian dari dalam mimpi yang paling indah. 

Dan tak aku sadari pula, entah sejak kapan aku mula menyukai namamu dalam kepala untuk menjadi alasanku menulis. Menulis apapun itu.

Termasuk menulis mimpiku.