Wednesday, June 14, 2017

Tulisan Ini Untukmu

aku ingin jujur kepadamu, melalui tulisan ini yang kuyakin tak akan pernah kaubaca.

aku selalu menanti saat di mana kita dapat berbagi di hadapan sepasang gelas kopi, atau jeruk hangat tanpa gula. terserah apa pun minumannya, aku hanya ingin segera mengisi celah di antara kita yang nganga. akan kuceritakan kepadamu tentang patah hati terdalam yang kualami.

kau tahu, hadiah terbaik bagiku adalah cerita tentang luka. mengapa? karena itu berarti kau memercayai lawan bicaramu. kau bagi sesuatu yang tak semua bisa tahu.

sambil berharap, kau tidak akan melakukan hal yang sama kepadaku; kau tidak akan melukai perasaanku sedalam itu. karena aku percaya. kau selalu tahu bahwa perasaanku sesederhana itu. kau hanya tak perlu mengkhianatiku, maka akan kubagi seluruh yang kupunya. bahkan setiap napas yang berjiwa. 

di masa ketika kita berbagi luka, aku berharap itulah masa ketika tugas kita satu-satunya adalah mengusahakan kebahagiaan.

dan aku berharap kau tentu bersedia membagiku kisah-kisah yang selama ini tak kutahu. barangkali, tentang kepada siapa hatimu pernah tertambat begitu dalam hingga ingin menghapusku sama sekali. aku yakin pernah ada seseorang yang mencuri hatimu separah itu.

tapi tak apa, toh pada akhirnya aku tahu kita tidak akan ke mana. sudah lama kita merangkai mimpi; dari kata seumur jagung, hingga puisi sedalam palung. aku yakin perasaan yang pernah menggoyahkan hatimu hanyalah ujian bagi mimpi kita untuk belajar lebih dewasa lagi.

kau tidak usah tanya mengapa aku bisa begitu yakin, bahkan sebelum mimpi kita terwujud. aku tahu kau paling tahu jawabannya. seperti yang pernah kaukatakan: "jawablah sesuka hatimu, karena hatimu adalah jawaban yang aku suka."

maka kuharap di kejauhan sana, kau selalu mengaminkan segala yang kita percaya. Tuhan, dan cerita-cerita yang kita harapkan dalam restunya. karena tanpa kau betul-betul ketahui, aku pun selalu menyelipkan namamu di doaku yang panjang.

mungkin bukan saat ini, belum.
tapi sungguh aku percaya kita akan tiba di sebaik-baiknya masa. 

aku menunggu. 

Friday, June 9, 2017

Love Heals While Hatred Grows

Jangan hentikan saya bila saya sedang berusaha menyakiti diri sendiri.
Barangkali itu cara saya mencintai. 

Saya terlalu lemah dan tidak ma(mp)u merasakan sakit dari orang lain.
Biar sakit bermula dari diri saya sendiri saja.
Bukankah saya yang lebih berhak?

Jika seseorang menyakiti perasaan saya, saya ingin sekali
sakit lebih dalam lagi dengan sakit yang saya buat sendiri.
Bukan orang lain. Mereka tak pantas untuk perasaan saya. 

Jadi biarkan saya menutupi kesakitan-kesakitan itu dengan sakit
yang lebih lagi. Setidaknya sakit itu bukan dari orang lain.
Melainkan dari diri sendiri.

Anggaplah saya sedang memukuli diri sendiri,
jangan dihentikan. Kau tidak berhak.

Kau sama sekali tidak berhak. 

Jika saya harus mencintai diri saya sendiri,
berarti saya juga bisa membenci diri saya sendiri.

Sebab kadang begitulah perasaan;
kau salah menaruh percaya, dan membenci dirimu sendiri. 

Saturday, April 29, 2017

Mencari Hujan.

Aku ingin mengajakmu mencari hujan. Entah di mana. Mungkin akan kuajak kau menyusuri senja hingga ujungnya. Barangkali di sana ada langit berwarna merah yang membiru, lebam mendung terbias di wajahnya, dan gerimis jatuh seakan tidak akan berhenti. Tidak perlu kau atau aku tahu, laut seperti apa yang telah membuat langit menangis seperti itu. Hanya ingin kutunjukkan kepadamu, di ujung senja yang hujan itu, akan kusimpan air mataku yang selama ini menggenang tanpa seorang pun tahu.

Selalu ada luka yang tidak bisa bicara. Sekecil apa pun itu. Meski rasanya ingin teriak, menumpah marah, memaki diri yang pengecut. Tetap tidak bisa. Andai mampu kukatakan padamu sebagai tanda bahwa hanya kepadamu, aku ingin menunjukkan segala yang tak seorang pun tahu. Tetapi untuk tangis kali ini, aku hanya bisa meminta sepasang matamu untuk membaca; ikutlah denganku mencari hujan, agar kau kelak tahu di mana tempat air mata kumakamkan; agar kau menjadi yang pertama, yang menyaksikan senyumku kembali seperti semula. 

Temani aku.