Monday, July 10, 2017

apapun yang di dalam lenganmu

Ada bunyi hujan yang tak kaupahami basahnya. Jatuh perlahan di depan sepatumu, di ujung payungmu, dan di kaca kendaraanmu. Langit yang lembab tidak mengingatkanmu apa-apa tentang siapa-siapa, sebab barangkali namaku saja jarang sekali kau ingat. Cerita-cerita yang hancur dan hilang di antara waktu, telah membatu di ujung-ujung kukumu. Jika suatu hari kau lupa memotong kuku, kau akan mengeluh tak henti-henti tetapi tak mengerti mengapa tak kaupotong begitu dini. 

Sementara aku tidak bisa datang begitu saja dan mengajarkanmu tentang hujan--atau tentang kita yang kehilangan. Aku bukan siapa-siapa dan tidak pernah menjadi siapa-siapa. Harapanku telah lama patah di dada kiri, jauh sebelum kau memberiku kesempatan mendengar "aku mencintaimu" dari sepasang bibirmu yang tak pernah kukecup. Aku hanyalah asap dingin dari gelas kopi yang tidak diminum sampai habis. Tidak pernah berhasil membuatmu cukup mencintaiku, adalah alasan mengapa aku tidak berani mengatakan "aku mencintaimu juga".

Aku melihat gerimis itu semakin deras. Basahnya menetes sampai kerah bajuku. Pipi-pipiku lembab menanggung mendung yang tak habis-habis. Aku tidak tahu lagi, setelah ini, apakah akan ada hati yang jatuh lebih baik; yang tidak berharap terlalu banyak, namun bisa saling menyentuh. Mungkin suatu hari akan ada pelukan yang bisa terbalaskan, tanpa memikirkan sedalam apa sebuah pisau mampu menusuk punggungmu. Cinta bukan lagi pertaruhan hati dan waktu. Cinta adalah apa pun yang di dalam lenganmu.


Wednesday, June 14, 2017

Tulisan Ini Untukmu

aku ingin jujur kepadamu, melalui tulisan ini yang kuyakin tak akan pernah kaubaca.

aku selalu menanti saat di mana kita dapat berbagi di hadapan sepasang gelas kopi, atau jeruk hangat tanpa gula. terserah apa pun minumannya, aku hanya ingin segera mengisi celah di antara kita yang nganga. akan kuceritakan kepadamu tentang patah hati terdalam yang kualami.

kau tahu, hadiah terbaik bagiku adalah cerita tentang luka. mengapa? karena itu berarti kau memercayai lawan bicaramu. kau bagi sesuatu yang tak semua bisa tahu.

sambil berharap, kau tidak akan melakukan hal yang sama kepadaku; kau tidak akan melukai perasaanku sedalam itu. karena aku percaya. kau selalu tahu bahwa perasaanku sesederhana itu. kau hanya tak perlu mengkhianatiku, maka akan kubagi seluruh yang kupunya. bahkan setiap napas yang berjiwa. 

di masa ketika kita berbagi luka, aku berharap itulah masa ketika tugas kita satu-satunya adalah mengusahakan kebahagiaan.

dan aku berharap kau tentu bersedia membagiku kisah-kisah yang selama ini tak kutahu. barangkali, tentang kepada siapa hatimu pernah tertambat begitu dalam hingga ingin menghapusku sama sekali. aku yakin pernah ada seseorang yang mencuri hatimu separah itu.

tapi tak apa, toh pada akhirnya aku tahu kita tidak akan ke mana. sudah lama kita merangkai mimpi; dari kata seumur jagung, hingga puisi sedalam palung. aku yakin perasaan yang pernah menggoyahkan hatimu hanyalah ujian bagi mimpi kita untuk belajar lebih dewasa lagi.

kau tidak usah tanya mengapa aku bisa begitu yakin, bahkan sebelum mimpi kita terwujud. aku tahu kau paling tahu jawabannya. seperti yang pernah kaukatakan: "jawablah sesuka hatimu, karena hatimu adalah jawaban yang aku suka."

maka kuharap di kejauhan sana, kau selalu mengaminkan segala yang kita percaya. Tuhan, dan cerita-cerita yang kita harapkan dalam restunya. karena tanpa kau betul-betul ketahui, aku pun selalu menyelipkan namamu di doaku yang panjang.

mungkin bukan saat ini, belum.
tapi sungguh aku percaya kita akan tiba di sebaik-baiknya masa. 

aku menunggu. 

Friday, June 9, 2017

Love Heals While Hatred Grows

Jangan hentikan saya bila saya sedang berusaha menyakiti diri sendiri.
Barangkali itu cara saya mencintai. 

Saya terlalu lemah dan tidak ma(mp)u merasakan sakit dari orang lain.
Biar sakit bermula dari diri saya sendiri saja.
Bukankah saya yang lebih berhak?

Jika seseorang menyakiti perasaan saya, saya ingin sekali
sakit lebih dalam lagi dengan sakit yang saya buat sendiri.
Bukan orang lain. Mereka tak pantas untuk perasaan saya. 

Jadi biarkan saya menutupi kesakitan-kesakitan itu dengan sakit
yang lebih lagi. Setidaknya sakit itu bukan dari orang lain.
Melainkan dari diri sendiri.

Anggaplah saya sedang memukuli diri sendiri,
jangan dihentikan. Kau tidak berhak.

Kau sama sekali tidak berhak. 

Jika saya harus mencintai diri saya sendiri,
berarti saya juga bisa membenci diri saya sendiri.

Sebab kadang begitulah perasaan;
kau salah menaruh percaya, dan membenci dirimu sendiri.