Thursday, November 21, 2019

21 November

Terima kasih, Tuhan.. Atas hari ini.

Friday, November 15, 2019

Mangga

Sewaktu saya merantau, rasanya kata "Mangga" asing sekali di telinga. Tidak ada harapan banyak untuk bisa makan buah-buah enak—seperti buah Mangga—setiap harinya.  Paling-paling, hanya ada Pisang atau Anggur. Masih nikmat, tentu. Tapi lama-lama bosan juga. Paling rindu memang sama buah Mangga dan Pepaya. Buah yang bagi saya paling enak di jagad raya ini ~

Namun asyiknya, di rumah ini, Mangga sudah seperti makanan pokok. Kata "Mangga" pun hampir setiap hari saya dengar. Paling banyak diucapkan oleh Ibu saya;


"Nak, kupasin Mangga dong.." kata Mama biasanya dari celah kecil pintu kamar yang terbuka.

"Jangan lupa nanti pulang bawa Mangga ya.." kata Mama ke teman-teman saya ketika mereka main ke rumah.

"Mau Mangga?" kata Mama memberi kode ke saya untuk mengupaskannya buah Mangga—bukan benar-benar menawarkan. Hahaha. 


Di halaman belakang rumah pun ada pohon Mangga. Dan sudah lebih dari dua minggu ini buah Mangga berlimpah ruah di dapur; hasil panen yang belum habis-habis meski sudah dibagikan ke sana-sini.

Itulah kenapa buah Mangga sekarang seperti makanan pokok di rumah ini. Terlepas dari si Oma yang memang setiap hari belanja buah, hasil panen dari pohon di halaman belakang pun terus bertambah.

Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban,
betul-betul inilah yang namanya nikmat. Alhamdulillah.


Senang sekali rasanya berada di rumah :D 

Thursday, November 14, 2019

Lagu Sal

Lagi-lagi, di lagu yang sama aku kembali. Demi merayakan gelap dan sunyi semesra mungkin, kujatuhkan diri ke dalam basah lirik pilu. Tentang pengkhianatan, tepuk tangan riuh, dan perpisahan yang tak pernah diinginkan oleh siapa pun. 

Aku ingin jadi jantungmu dan berhenti semauku; 

Lantun nada itu menggerus hatiku yang tak terurus. Seperti doa, kuaminkan setiap katanya dengan serius. Tak ada yang tahu nama siapa yang tengah kubayangkan, tapi langit tersenyum menawan. Karena ia tahu, sebanyak gemintang yang memeluknya, ia maha tahu. 

Karena di malam-malam seperti malam ini, ia menyaksikan jari-jemariku memerah bisa melalui kata-kata. Kesakitan yang menyiksa, kekalutan sisa-sisa asa, dan buih ribuan doa yang terjawab dengan kesia-siaan belaka, seluruhnya kuperah menjadi paragraf demi paragraf yang bahkan tak pernah meminta untuk menjadi lahan duka.

Aku ingin jadi jantungmu dan berhenti semauku;

Kekecewaan tak pernah menjadi harapan. Air mata dan igau luka bukanlah keinginan. Manusia mana pun tak mungkin rela membiarkan cintanya berdarah, dipaksa menyerah karena kenyataan yang selalu tak berarah. Takdir bagai menyepah, apa-apa yang pernah terasa megah. Ketika perasaan itu menjulang dari hati ke mata, hanya untuk menjadi hujan yang enggan diramal oleh akhir tahun sekalipun. 

Ini bukan sekadar kesedihan seseorang yang berlari dari dirinya sendiri. Tapi ini adalah kepahitan, dari setiap peluang kebahagiaan yang mati di tengah-tengah jalan.