Sunday, January 31, 2016

Kepada Langit.

Surat ini kutulis bersama hatiku 
yang dalam diam 
mencintaimu.

Kepadamu, Langit,
yang tidak pernah mengetahui perasaanku, kutuliskan surat ini. Dan entah mengapa, aku hanya ingin menulisnya untuk mengungkapkan segala perasaan yang sudah terlalu besar untukmu. Aku ingin merasa sedikit lega, meski kutahu surat ini hanya akan berakhir di sudut lemariku saja. 
Ya, mana mungkin aku yang 8 tahun sebagai pengecut; mencintaimu dalam diam, tiba-tiba datang dan memberimu pernyataan cinta melalui surat? Hah! Tidak mungkin! 
Malah kalau benar itu terjadi, kupastikan aku sudah lebih dulu pingsan sebelum sampai menyerahkan surat ini padamu! 

Begini, Langit..
Atas beberapa tahun pertemanan kita, aku bersyukur.. Sebab masih bisa kujaga perasaanku ini, tak tersentuh orang lain, dan kusisakan hanya untuk dirimu saja. 
Aku menyukai senyumanmu. Senyum manis di antara pipimu yang chubby. Aku juga menyukai rambut ikalmu yang panjang, matamu yang tajam, dan bagiku tidak ada yang kurang dari penampilanmu. Terbukti dari sekian banyak perempuan yang sudah menyatakan cinta padamu, tapi entah mengapa tetap tak ada yang kaujadikan kekasihmu. Sampai hari ini, aku masih heran dengan kamu.. Sebab semakin lama kamu tidak memiliki kekasih, diam-diam, semakin sering pula aku berdoa untuk kesempatanku yang mungkin diaminkan Tuhan. 

Terlepas dari penampilanmu yang menarik, aku sangat menyukai sikapmu, Langit.. Sikap yang begitu hangat, dan tak pernah kutemukan orang lain yang sehangat dirimu. Kuingat katamu, kamu lahir di Senin siang. Mungkin, siang hari kala itu menitipkan semburat cahayanya, sampai kamu menjadi orang sehangat sekarang. Dengan budi baik dan semangat menolong pula.

Aku ingat, pagi itu ketika kita masih di bangku SMA, ban motorku bocor di dekat gang sekolah. Dengan baik hati, kamu yang kebetulan melewati aku, berhenti dan membantuku membawa motor ke bengkel terdekat. Mungkin kamu tidak menyadarinya, tapi sesederhana itulah, cintaku tumbuh dan terus bertambah sejak saat itu untukmu. 

Langit,
aku harap kamu tetap berada di dekatku, meski sebagai teman terbaikku. Tidak apa, Langit. Aku tidak akan pernah berani meminta apa-apa darimu, kecuali menjadi teman di dekatku. 

Kututup surat pertamaku ini untukmu, Langit,
dengan perasaan yang kacau,
jantung yang berdetak begitu kencang,
dan napas yang sungguh berat.

Sebab aku mencintaimu,
dan ini surat pertama pernyataanku! 

Senja.

Friday, January 22, 2016

Fünf.

Kepada bulan yang bertamu lima kali di langitku.

Betapa tidak terasanya—seperti sekejap—kamu terjadi dan berlalu. Persis seperti ciuman pertama sepasang remaja; sekilas dan malu-malu, tetapi menempel di ingatan seperti mimpi indah yang menjadi kenyataan. Tidak dapat dipercaya.  

Bahagia-bahagianya bersama kamu seperti khayalan. Semua berlalu begitu saja tanpa terasa, bahkan lebih sering tampak tidak nyata. "Kamu real kan?" pertanyaan seperti itu kerap aku lontarkan di dalam ingatanku, terkadang tanpa sengaja terucap di bibirku sambil meraba pipimu. Kemudian mencubitnya sedikit. ;)

Semuanya seperti sedang bermain; bersenang-senang. Tawa dan kemesraan tidak pernah bisa kuhitung telah berapa kali menghangatkan kita berdua. Sudah berapa musim yang menyaksikan itu semua? Kamu ingat? 

Pertama, ketika hujan dan kembang api berdandan rapi di paras langit malam. 
Kedua, ketika terik matahari memaksa kita menanggalkan jaket di negri kincir angin.
Ketiga, pada saat aku lebih sering memuisikan daun gugur ketika merindukanmu.
Dan keempat, ingatkah kamu? mesra-mesranya yang tidak akan bisa aku lupakan, ketika kita bermain perang salju!

Entah akan berapa musim lagi menyaksikan kita berbagi bahagia dan kemesraan. Aku selalu ingin membuat dunia ini cemburu, sebab tidak ada yang lebih mesra dari kamu dan aku. 

Ah, Terima kasih Sayang!

Terima kasih sebab kita selalu mesra dan bahagia.
Semua terjadi karena kita pernah memperjuangkan cinta, maka semoga tetap atas nama cinta lah kita memperjuangkan semuanya! 

amin...


happy fünf, äls. 

Saturday, January 16, 2016

Entah.

sejak mengenalmu, pagi-siang-senja-malam tidak lagi istimewa. indahnya berkurang, seperti menjadi abu-abu. bukan lagi merah terang, gelap tidak berbayang, atau lebam biru. tidak ada yang menyakitkan atau menyenangkan untuk jadi puisi. kamu mengubah semuanya menjadi ilusi.

satu baris dalam bait seperti lumpuh di atas huruf-hurufnya sendiri. seperti menggunakan seluruh waktu untuk berpelukan menjadi kata; kamu mempersulit sebuah puisi untuk menjadi nyata.

aku tidak butuh kertas dan pena, ide dan cerita. semua tidak ada gunanya. 

aku hanya baik menyimpanmu dalam kepala. kamu tidak pernah pantas untuk sekadar jadi puisi, yang sekian mata membacanya dan menikmati; menangisi rindunya, memuja doadoanya. 

sementara dalam kata-kata, seringkali aku menyembunyikan semua yang tidak punya nyali di dalam diri ini. seperti merindukanmu, dan betapa sakit cinta membuatku mengingatmu. tetapi sayang sekali, kamu memang tidak pernah pandai menjadi puisi. kamu bukanlah kata-kata yang bisa aku tulisi. 
kamu melebihi semua itu..

maka puisi puisi yang tertunda menjadi semakin malam; menyimpan larut di kantung mata yang amat berat. kemudian ia basah, mengemis menjadi sebaris kata pahit yang manis, tetapi tidak pernah bisa. ia menangis..

di dalam ini semua, aku sedang mengaku pada kamu—yang membaca..
ada hati yang meneriakkan rindunya dalam bisu,
ada jari yang berharap menumpahkan semua dalam puisi—begitu indah, menyayat, dan membuat pembacanya ikut menangis merindu,
dan ada aku, si pengecut yang tidak memiliki kata-kata sempurna, mencintai tanpa berani menjadikanmu puisi cinta.