Pria itu. Ia biasa berada dalam mimpi-mimpiku setiap malam. Kemudian ia juga telah menjadi bagian dari doa-doa yang paling dalam. Dan aku telah mencintainya melebihi dari yang aku kira, dan pula melebihi takaran yang ia bayangkan. Aku mencintainya berlebihan. Sehingga dengan berdoa-lah aku memeluknya; dari jauh. Tidak lebih dari sekedar harapan untuk melihatnya selalu bahagia. Begitulah caraku mencintainya.
Sebelum akhirnya pertemuan tiba juga. Ia tak lagi bernafas dalam mimpi-mimpiku. Ia kemudian menjadi nyawa yang bisa aku sentuh, di depanku.
Siang itu, ia benar duduk di kursi yang berada di hadapku. Matanya belum berani menatap mataku. Begitupun aku. Tak sanggup menatap matanya yang sempat beberapa kali mencoba menatap mataku. Dan dari detik itu aku tau, ia benar ada dan nyata. Ia bukan lagi api dalam mimpi, bukan lagi debar yang samar. Melainkan hati yang akhirnya bisa kusentuh dengan jemari. Meski begitu, tak berhasil mata kami menatap satu sama lain. Hati dari masing-masing sedang sibuk membenarkan degup yang entah mengapa bergetar lebih berisik dari biasanya. Bagaimana tidak. Sebelumnya, pertemuan masih berada jauh dari perkiraan kami berdua.
Tidak menyerah kami oleh cinta yang masih bernafas malu-malu dalam hati. Obrolan kecil; yang biasanya hanya berupa huruf-huruf yang kami ketik; mencairkan suasana, membenarkan kembali degup hati yang sempat melebihi normalnya.
Tetapi aku, ternyata masih belum sanggup. Senyumnya, nyata. Dan aku merasa seperti pertama kali jatuh cinta. Beberapa kali nafas sempat tercekat, melihat senyumnya, atau matanya. Tidak pernah aku menduga sebelumnya, bahwa mencintai seorang pria bisa membuat mentalku sedikit gila. Bahkan bernafaspun susah. Bukan karena apa, melainkan bahagia.
Pria itu. Ya Allah. Akhirnya berada tepat di depan mataku, dan bisa kusentuh. Sehingga hanya perlu sedikit lagi waktu sampai akhirnya aku benar-benar ia peluk dan ia kecup. Dan dalam peluknya aku merasa jatuh semakin dalam. Aku rela tersesat di harum tubuhnya. Aku bahkan tidak mau berhenti mencium bahunya, dalam rengkuh lengannya itu.
Dan kecup itu. Bukan berlebihan jika aku merasa seakan lepas jiwa ini dari tubuh. Bahagia keterlaluan. Kecup paling menggoda seumur hidup yang pernah aku kecap. Aku mau lagi, lagi, lagi. Aku mau untuk tidak berhenti. Bibir ini ingin terus ia basahi. Dengan lumatan-lumatan cinta yang terselip dalam kecup sebentar itu. Hati ini telah seutuhnya kau pegang, kau miliki, setelah ciuman pertama kita.
Setelah waktu singkat yang telah kami habisi bersama; dengan penuh makna, tak bisa pula kita elak satu perpisahan. Perpisahan yang aku dan ia amat pahami. Kami harus kembali bangun dari waktu sempit ini. Kembali lagi menjalani hari di sisa-sisa mimpi. Terbangun dari kenyataan itu sendiri. Sehingga air mataku sempat mengalir setitik dua titik, kemudian tidak dapat tertahan derasnya mengalir di pipi. Aku sedih. Aku amat sedih. Sebab aku tau, menemuimu, berarti juga akan menghadapi berpisah denganmu. Di saat aku harus kembali ke tempatku, ke tempat yang jauh dari pelukanmu. Dan aku harus siap akan hal itu. Pertemuan telah membuat aku tersenyum bahagia, dan mengenal pertemuan berarti ada perpisahan yang mengundang kembali isak-isak rindu. Hingga aku harus menangis mengumpat kenyataan. Menangis terakhir dalam bahumu.
Dalam hari itu, Sayang. Aku tau kau telah memiliki aku seutuhnya. Sehingga melangkah pergi dari kau terasa berat. Seakan kaki ini terpaku di sebelahmu. Hanya ingin bersisian bersamamu. Aku juga tau kau tidak rela melepas lenganku yang melingkar di tubuhmu. Aku tau, aku mengerti. Sebab aku juga tidak sedikitpun merasa rela melangkah menjauh. Aku masih butuh kau untuk tetap mencium dan memelukku. Aku masih butuh pipimu untuk ku kecup, tanganmu untuk ku genggam, rambutmu untuk ku cium, dan bibirmu untuk ku kecap. Aku masih butuh kau lebih lama..
Tapi maaf, Sayang. Ternyata waktu berbicara lebih lantang dari inginku. Aku harus juga melepas pelukmu sementara, sampai kesempatan selanjutnya. Jangan pernah mengira langkahku ini ringan menjauhimu. Tidak, Sayang. Meninggalkanmu waktu itu adalah memori paling sakit yang aku miliki. Dalam pelukan terakhir kita, tertinggal cintaku tanpa pamrih. Kau memilikku seutuh-utuhnya.
Di depanmu mungkin aku menangis sedikit. Tapi kau tau, aku sempat sangat bahagia menghabiskan waktu bersamamu, hingga pipiku perih tertawa. Aku menangis karena aku tidak ingin, amat sangat tidak ingin, melepaskan kesempatan menikmati matamu sedekat itu.
Tapi ternyata aku benar-benar harus pergi.
Yang terakhir kau lihat ialah punggungku. Tetapi telah tertinggal hatiku dalam genggammu.
Kau pegang seutuhnya cinta dariku.
Ku tinggalkan hatiku untuk cintamu.
Dan ku titip doa di kecup terakhirku, semoga hati kita terjaga di bawah restu-Nya.
IAP.
