Suatu saat akan kau temukan di sini ada setubuh mayat yang tak kau kenali. Kemudian kau hanya akan bertanya-tanya, itu bangkai siapa. Dan aku hanya bisa diam. Sebab membuka mulut hanya akan melahirkan air mata.
Itu bagian dari rindu yang selama ini ada
Telah tak lagi bernyawa rupanya. Entah kenapa tak sanggup lagi tubuh rindu itu bernafas. Mungkin sudah tak sanggup juga ia menahan perih yang membuatnya tergeletak sekarat.
Aku pun juga tak bisa lagi berkata apa-apa. Untuk mengatakan bahwa aku merindumu sudah tak lagi berguna. Sebab bagiku, rindu sekarang hanyalah sebongkah kata tak bernyawa. Ia tlah mati kehilangan jiwa. Sebab bagiku, merindu tanpa bisa berbuat apa-apa, seperti berdiam di jelaga luka yang sama.
Ingin sekali rasanya aku keluar dari sakit yang rindu bawa dan tinggalkan dalam ruang hati ini. Ingin sekali aku berhenti mengenal rindu. Ingin sekali aku menganggapnya kembali mati seperti seharusnya.
Tapi ternyata rindu kepadamu memiliki banyak kesempatan
Sehingga ia bangkit dari matinya. Dan kembali lagi merindu dan merindu. Menyebut namamu berulang kali, hingga rasanya hampir mati lagi.
Aku memang ingin menghindar dari rindu. Membiarkan ia hilang tersesat dengan sendirinya. Tapi kemudian aku tidak pernah berhasil. Hingga aku sadar,
Mencintaimu itu mustahil tanpa rindu.
IAP.