Thursday, January 30, 2014

Tränen

Meski aku menangis, mungkin tidak akan pernah kau dengarkan. Tidak akan kau melakukan apapun selain mengiyakan. Tidak juga kau mengerti sedalam apa perih yang telah tergores dalam dada ini. Tidak juga kau paham seberapa keras aku berusaha menghindar dari kesedihan. Tidak juga kau bertanya karena hal apa aku seperti ini. 

Mulai mengalir lagi sebutir demi sebutir air mata di pipi. Mataku menghujani sedihnya tanpa ragu-ragu. Aku rasanya tidak pernah ingin menjadi alasanmu meredupkan senyuman itu. 

Dan bisa apa aku di sini? Selain menertawai diri sendiri yang tengah menangis. Bersedih yang entah untuk apa. Membiarkan air mata mengalir yang entah untuk siapa. 

Aku berkaca, berusaha menyentuh sedih dengan tanganku. Kemudian hanya basah yang terpantul dalam kaca itu. Dan aku sadar, perempuan dalam cermin ini ialah satu-satunya teman untukku saat ini. Teman yang juga sedang menangisimu. 

IAP.