Saturday, January 18, 2014

Regen Und Sonne

Aku berdiri di bawah payung teduh dengan seseorang yang biasa aku sebut kekasih. Di atas kepala kami ialah payung sederhana yang sedang memayungi kami dari basah sang hujan. Sudah biasa rasanya berada di bawah hujan atau badai bersamanya. Seperti sudah menjadi keharusan. Pula aku terbiasa menyebutnya sebagai kekasih. Bertahun lamanya aku mengenal ia sebagai kekasih. Meski orang-orang yang berpapasan dengan kami mengira bahwa ia hanya teman satu payungku. Bahwa ia hanya menumpang di bawah payungku, sebab aku yang memegang gagang payung sederhana itu. Tidak satupun dari mereka mengetahui bahwa aku ingin sekali berada di bawah payung yang bukan aku genggam. Yaitu merasa yakin bahwa aku dilindungi olehnya, bukan melindunginya. Sebab bukan apa, melainkan aku juga hanya seorang wanita yang ingin merasa dilindungi. Dan tidak pula seorang mengetahui, bahwa hanya aku yang menyebutnya kekasih. Sementara aku tidak mengetahui apa ia menyebutku kekasihnya juga.

Hujan belum juga reda-reda. Sementara payung ini semakin menua. Aku pun juga semakin merasa tidak dianggap. Seperti kata yang tak pernah ia ucapkan. Rasanya aku ingin pergi dan menghilang. Membiarkannya menggenggam payung ini sementara aku pergi dan rela basah kuyup. Sebab untuk apa aku berada di bawahnya bila aku tetap merasa sendiri? Aku ingin dilindungi. Aku ingin mengerti bagaimana hujan di atas kepala kami bisa menjadi romantis seperti yang orang-orang katakan. Aku ingin sekali saja merasa dicintai. Sebab tanganku mulai letih menggenggam gagang payung sederhana ini. 

Kemudian aku beranikan diri untuk bertanya kepada seseorang di sebelahku ini. Bagaimana jika aku pergi saja? Apakah kau tidak takut jika aku letih menggenggam payung ini dan lebih memilih menyerah kemudian pergi? Baru kemudian ia menolehkan kepalanya ke arahku. Bukan untuk memberikan ciuman hangat demi mengembalikan kekuatanku. Melainkan mulutnya mengucap kalimat menantang. "Coba saja." katanya. Kemudian dalam diam aku menangis. Menangis sejadi-jadinya. Ia justru memperlihatkan betapa seharusnya aku pergi meninggalkan payung ini. Meski kami di bawah payung yang sama, tapi ia tidak pernah mampu melihat sedihku. Dan akhirnya aku memilih diam kembali. Seperti biasanya. 

Tetap kugenggam payung demi melindungi kepala kami dari basah sang hujan. Sampai akhirnya aku tau, ia tak lagi di situ. Dan aku pun ternyata juga memilih tidak peduli. Sebab waktu telah menjawab semua. Kami tidak bisa di bawah payung yang sama. Hatinya tak pernah ia tunjukkan kepadaku, tidak seperti aku, yang tanpa ia sadari telah lama menggenggam letih payung itu. Payung yang sebenarnya adalah pemberiannya sendiri. Payung yang ia sebut sebagai tanda cintanya kepadaku. Payung yang seharusnya melindungi kita dari dingin, hujan, dan angin. Tetapi akhirnya hanya aku yang bersusah payah mempertahankan lengkungnya di atas kepala kami.

Sekarang tidak lagi.

Aku melangkah sebentar dengan keputus asaan yang mendalam. Telah aku lepas jariku dari payung yang menahun melindungi kami. Sempat pula aku tidak tau kemana payung itu sekarang, dan dimana ia berada. Dan pula ternyata aku tidak peduli dengan halnya. Aku hanya berjalan menikmati basah yang kuyup di bahuku. Menikmati sesalku yang sempat terpendam dan terkubur. Untuk apakah bertahun aku membiarkan tangan ini letih menggenggam gagang payung, mempertahankan ia di samping, sementara jiwanya entah berkelana kemana. 

Tak lama setelahnya, sesaat selagi aku membenarkan hatiku yang penuh dengan kecewa. Seorang pria datang menawarkanku matahari. Aku tidak mengenalnya siapa. Tetapi telah ia tawarkan aku matahari hangat yang sebelumnya tidak pernah aku miliki dengan sesiapapun. Matahari yang ia bawa mengeringkan kuyup yang berdiam di bahuku. Aku menikmati hangatnya. Hatiku tergoda oleh sinarnya. Oleh semua yang ia bawa. Meskipun ia asing, tetapi aku merasa diterima. Aku merasakan hangat yang sebelumnya aku damba. Ternyata hal ini mungkin. Ternyata ada yang bersedia merengkuhku dengan hangat. Melindungiku. 

Ini perasaan yang lama aku nanti. Merasa dilindungi. Diberi janji yang terdengar lebih menarik dari janji-janji yang lain. Sebab ia mengucap janji dengan kemudian menunjukkan peluhnya memenuhi janji tersebut. Satu dua kali ia membuktikan sedikit dari bagian janji tersebut. Dan aku tidak bisa berkata apapun lagi selain bersyukur dan terus bersyukur. Aku kembali merasa dinanti dan dicintai. 

Dari hal-hal ini. Pengalaman yang sempat merusak hati dan keyakinan tentang cinta. Aku belajar banyak. Aku belajar bahwa cinta ialah tentang saling menjaga. Berkomitmen satu sama lain. Bukan hanya mengucap kata yang tak bisa dibuktikan. Dan komitmen dalam cinta bukan untuk sembarang disebut. Sebab kata siapa cinta tidak dapat melukai tubuhnya sendiri?

Cinta bisa berupa hujan atau matahari.
Bisa berupa sakit atau bahagia.
Bisa berupa menanti atau dinanti.

Satu hal untuk diketahui. Hati pantas memilih. Hati pantas untuk berbahagia. 
Hati pantas untuk datang atau pergi.

Dan kepada matahari, aku memilih saling mencintai. 

IAP.